Kita boleh bangga memiliki beberapa atlit yang mampu mengharumkan nama bangsa di kancah internasional seperti Chris John, Rudi Hartono, atau Taufik Hidayat. Akan tetapi, semuanya itu rupanya belum cukup mampu memompa semangat atlit lain untuk turut menorehkan prestasi.
Tapi, cukupkah kita hanya bertumpu pada beberapa cabang olah raga saja tanpa berusaha meningkatkan yang lain? Badminton sebagai cabang andalan pun sepertinya sudah mulai kekurangan pemain andalan. Masa kejayaan Rudi Hartono dan Susi Susanti nampaknya masih membutuhkan proses untuk meraihnya kembali.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Prestasi Indonesia dalam hal olah raga bisa dikatakan semakin hari semakin mengkhawatirkan. Bukan tanpa alasan. Melihat merosotnya berbagai prestasi di ajang internasional. Pancapaian atlet kita dalam berbagai event menunjukkan kemunduran.
Bahkan di kawasan Asia Tenggara sendiri Indonesia seakan sudah kehilangan pamornya untuk unjuk gigi dalam berbagai cabang olah raga. Negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Vietnam yang beberapa tahun lalu masih jauh di bawah Indonesia justru menunjukkan perkembangan yang pesat dan cukup membuat Indonesia kembang kempis. Di SEA Games XXIII di Filipina 2005 pun Indonesia hanya mampu menduduki peringkat lima.
Menghadapi event besar seperti ASEAN Games 2006 di Doha Indonesia tak memiliki greget untuk mencapai hasil yang lebih baik. Dengan kekuatan 129 atlet yang turut serta dalam ajang ini Indonesia hanya mengincar empat medali emas.
Terlihat bahwa semangat berkompetisi kita masih sangat kurang atau boleh dikatakan datar. Bukan tanpa alasan. Target ini ingin menyamai pencapaian empat tahun silam di Busan dengan 4 emas, 7 perak, dan 12 perunggu.
Banyak kalangan mempertanyakan mengapa prestasi olah raga kita semakin menurun. Hal ini seharusnya menjadi pertimbangan bahkan pemikiran serius bagi para petinggi pemerintahan seperti KONI maupun Menpora. Untuk terus mendongkrak dan mencari bakat-bakat baru.
Tentu saja ini bukan hal yang mudah dilaksanakan. Perlu sebuah proses panjang dan usaha keras. Kemerosotan prestasi di berbagai bidang olahraga tampaknya dilatarbelakangi banyak faktor.
Mulai dari faktor pembinaan sampai minimnya biaya hingga ketidakberesan dalam organisasi olah raga. Dikirimnya 24 atlet ke Olimpiade 2008 merupakan sebuah langkah maju bagi bangsa ini untuk meraih prestasi yang lebih baik.
Pemerintah perlu berkonsentrasi pada pembinaan atlit-atlit muda secara terarah dan berkesinambungan. Komunikasi bisa jadi alat ampuh untuk kembali meningkatkan prestasi para atlit kita. Segala keluhan yang mereka hadapi seharusnya menjadi bahan perenungan untuk memperbaiki diri.
Dan yang tak kalah penting adalah penyediaan fasilitas yang memadai dan tidak boleh diabaikan. Meskipun para atlit tidak dituntut untuk merebut emas tetapi hasil itu bisa jadi bahan evaluasi dan masukan bagi tim Merah-Putih.
Maria Bekti Lestari
Tromol Pos 29, Yogyakarta, Telp 085643523154
Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma
(msh/msh)











































