Negeri Lupa

Negeri Lupa

- detikNews
Selasa, 05 Agu 2008 09:21 WIB
Negeri Lupa
Jakarta - Kata lupa menjadi sebuah hal yang lumrah dan manusiawi. Sebagai manusia lupa atau pendek ingatan biasa terjadi kerena kita tidak bisa mengingat semua kejadian yang pernah dilalui. Namun, lupa akan sesuatu yang terjadi berulang-ulang akan lain ceritanya. Lupa yang dilakukan oleh banyak orang, kelompok, dan institusi tentu menandakan ada sesuatu yang salah di dalamnya.

Banyak hal yang telah terjadi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ini. Pahit getir pernah kita alami bersama. Seharusnya dengan berbagai kejadian membuat kita belajar akan kesalahan. Namun, kadang kita lupa dan banyak lupa akan kesalahan yang pernah kita lakukan sendiri dan akhirnya berulang dan berulang kembali. Mungkin bisa dikatakan lupa menjadi semacam budaya.

Kini di masa kampanye pemilu 2009 maupun pilkada di berbagai daerah partai politik dan calon pemimpin selalu mengumbar janji-janji jika terpilih. Janji akan melakukan ini dan itu untuk mendapat simpati massa. Namun, dari pengalaman yang sudah-sudah dari sekian banyak janji yang disampaikan oleh calon pemimpin hanya sebagian saja yang terrealsir.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara lainnya tidak mendapat perhatian semestinya. Entah karena apa. Tapi, banyak pihak menuding jika seseorang telah memperoleh kekuasaan pasti akan lupa dengan apa yang telah dijanjikan sewaktu kampanye. Apakah demikian. Tentu masyarakat bisa melihatnya sendiri.

Jika kita menengok kasus suap yang terjadi di lembaga wakil rakyat terlihat jelas. Sebagian wakil rakyat lupa akan tugas-tugasnya di parlemen sebagai pembuat undang-undang. Lupa sebagai pengawas pemerintah dan membuat anggaran.

Ada saja anggota DPR yang asik dengan urusan pribadinya tanpa menyadari posisi sebagai wakil rakyat yang dipilih oleh ratusan ribu masyarakat untuk menyampaikan aspirasinya. Alih-alih memperhatikan nasib rakyat miskin, sejumlah oknum malah memperkaya diri sendiri dengan jabatan politisnya itu. Lupa sebagai wakil rakyat ...

Tak hanya di jajaran legislatif saja. Di lembaga peradilan seperti hakim, jaksa, aparat kepolisian banyak yang lupa akan tugasnya sebagai penegak keadilan. Ada saja oknum yang malah meperjualbelikan perkara untuk kepentingan diri sendiri tanpa memperhatikan lagi rasa keadilan. Jika sudah begini citra buruk lembaga peradilan bukan sebuah hal yang luar biasa lagi. Lagi-lagi lupa akan tugas penegakan keadilan ...

Reformasi yang telah digulirkan hampir 10 tahun kadang telah melupakan esensi dari reformasi itu sendiri. Banyak pihak menganggap reformasi sebagai kebebasan tanpa batas. Sehingga muncul perilaku-perilaku yang di luar kepantasan. Sebut saja maraknya kasus korupsi di berbagai tingkatan baik legislatif, eksekutif, yudikatif.

Tak hanya itu. Kebebasan untuk mengeluarkan pendapat kadang disalahartikan dengan kebebasan mengeluarkan kata-kata yang tidak sepantasnya. Pers yang dianggap sebagai pilar demokrasi keempat dianggap juga telah kebablasan. Dengan alasan kebebasan pers seakan-akan pers menjadi sebuah lembaga yang tidak tersentuh. lupa semangat reformasi ...

Jika kita ingin kembali menegakkan arti reformasi sebaiknya jangan melupakan arti dari reformasi itu sendiri. Item-item apa saja yang disepakati dan jangan sampai dengan dalih kebebasan akan merusak arti reformasi itu sendiri.

Politik terkadang membuat lupa diri. Banyak orang yang sebelumnya biasa saja tapi setelah menjadi seorang politisi bisa berubah 180 derajat. Slogan tidak ada kawan abadi, tidak ada lawan abadi, yang ada kepentingan abadi tampaknya mengubah perilaku seseorang. Ini yang terjadi di negara ini.

Para tokoh agama, ulama, yang seharusnya menjadi contoh dan panutan bagi umat namun setelah terjun ke politik kadang menjadi lupa bahwa dirinya menjadi pemimpin umat. Statmen dan perilaku politik untuk mencapai kekuasaan seakan tidak mencerminkan diri sebagai pemimpin umat. Jika sudah demikian umat menjadi bingung siapa yang akan dijadikan panutan. Lupa jadi pempimpin umat ...

Tak hanya politik yang membuat lupa diri. Bencana alam yang silih berganti menerpa bangsa ini kadang cepat dilupakan. Banjir di Jakarta contohnya. Saat banjir menerjang Ibu kota hampir 50 persen wilayah Jakarta digenangi oleh air bah. Saat itu kita baru ingat pentingnya memelihara lahan hijau. Baru kita ingat tidak membuang sampah di sungai. Baru kita ingat perlunya pengerukan kali. Baru kita ingat pentinganya kebersihan saluran-saluran air dan sebagainya dan sebagainya.

Tapi, kini di saat musim kemarau tiba seakan kita lupa dengan bancana banjir itu. Kita tak perduli lagi dengan got mampet atau tidak. Buang sampah lagi di sungai. Bangun mal-mal lagi di lahan hijau dan masih banyak lagi kegiatan yang melupakan bencana banjir.

Ironis sekali karena bencana banjir itu tiap tahun selalu berulang dan berulang. Sampai saat ini kita selalu disibukkan dengan rutinitas bencana itu. Karena sibuk dengan pekerjaaan di Jakarta menjadi lupa memelihara lingkungan ...

Banjir dan tanah longsor yang menimpa berbagai tempat di Indonesia seperi di Sungai Bahorok, tempat pemandian Pacet, sampai dengan longsor di Tawang Mangu beberapa waktu lalu mengingatkan kita untuk tidak menebang hutan sembarangan.

Hutan yang gundul sangat berpotensi dan rawan akan bencana tanah longsor. Namun, di saat musim kemarau tiba banyak pihak seakan tidak perduli lagi dengan pelestarian lingkungan. Illegal logging masih menjadi tren yang sampai saat ini masih sulit di berantas. Lupa reboisasi ...

Tak hanya itu. Kenaikan harga minyak dunia memicu kenaikan harga BBM dalam negeri. Saat pemerintah mewacanakan dan menaikkan harga BBM, saat BBM sulit untuk dikonsumsi, mungkin banyak pihak berpikiran untuk menghemat pemakaian BBM, membuat energi alternatif ini dan itu seperti tanaman jarak, Biofuel, geotermal, batu bara dan sebagainya.

Tapi, saat ini, ketika pasokan BBM mulai stabil lagi banyak orang tidak lagi peduli dengan gerakan hemat energi. Ide-ide untuk membuat energi-energi alternatif seakan terlupakan.

Banyak kejadian yang menimpa bangsa ini. Namun, terlupakan begitu saja. Padahal jika ingat dan belajar akan peristiwa-peristiwa itu tentu menjadi sebuah pelajaran yang sangat berharga dalam menyongsong kehidupan yang lebih baik. Namun, apa dikata. Banyak orang masih lupa ...

Apa yang bisa kita perbuat? Media sebagai sarana paling efektif membangun public opinion memegang peranan yang cukup besar untuk kembali mengingatkan kembali peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi agar tidak dilupakan begitu saja.

Media televisi yang menurut survei bisa melakukan penetrasi hampir 80 persen penduduk Indonesia bisa menjadi cara ampuh untuk mengingatkan kembali pihak-pihak yang lupa akan jati dirinya dan mengajak masyarakat untuk mengingat peristiwa yang telah lalu.

Semoga saja. Lupa bukan menjadi sebuah budaya di Indoensia. Dengan mengingat peristiwa dan kejadian di tanah air diharapkan menjadi bahan untuk melakukan instropeksi dan pelajaran bagi Indonesia yang lebih baik.

Atur Toto S
Wisma Kodel Lt 2 Jakarta
atur@swara.tv
08999990207


(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads