Mendengar Nurani Rakyat

Mendengar Nurani Rakyat

- detikNews
Sabtu, 02 Agu 2008 12:45 WIB
Mendengar Nurani Rakyat
Jakarta - Salah satu syarat seorang pemimpin adalah peka terhadap keluhan dan penderitaan rakyatnya. Kepekaan ini harus melekat dalam jiwa setiap pemimpin. Sebab menurut Bung Hatta, pemimpin adalah "panitia kesejahteraan dan pelayan rakyat."

Pemimpin yang bijak selalu berusaha untuk menjawab keluhan menjadi kenyataan. Sebab, kini keluhan tersebut telah berubah menjadi jeritan. Melalui media massa kita bisa menyaksikan sisi-sisi kelam kehidupan rakyat.

Masih banyak rakyat yang menjerit karena kemiskinan, pengangguran, kekumuhan, kebodohan, dan seterusnya. Menurut BPS, tahun 2006 kemiskinan meningkat menjadi 39,05 juta jiwa atau 17.75% dibanding tahun 2005 sebesar 35,10 juta jiwa atau 15.97%. Begitu pun jumlah pengangguran, di mana angka pada tahun 2005 sebesar 10,3% lalu naik pada tahun 2006 menjadi 10,8%. Dan, pada tahun 2007 angka pengangguran terbuka berada di angka 12,6 juta jiwa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tentunya fenomena ini menjadi ironi bagi kemerdekaan Indonesia yang telah dicapai selama 63 tahun. Rakyat ternyata belum merdeka dari penderitaan dan masih terbelenggu dalam kubang kemiskinan. Kenyataan tersebut tentu bertolak belakang dari cita-cita dan tujuan kemerdekaan yang digagas oleh para founding father's bangsa.

Perlu kita ingat cita-cita dan tujuan utama dari kemerdekaan --sesuai pembukaan UUD 1945 adalah untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang adil dan makmur.

Bukan Sekadar Janji
Menjelang Pemiluhan Umum (Pemilu) 2009, partai-partai politik maupun calon presiden tentu berlomba-lomba mengusung visi dan misi kesejahteraan rakyat. Janji-janji politik akan bertebaran di mana-mana dengan tujuan untuk memperebutkan lumbung suara. Namun ingat, rakyat sekarang sudah apatis dengan janji-janji.

Rakyat sudah tidak butuh janji-janji yang membosankan. Melainkan perlu bukti nyata yang langsung dirasakannya.

Keluhan demi keluhan rakyat sudah semestinya didengar, diperhatikan, dan dijawab oleh siapa pun yang akan memimpin negeri tercinta ini. Jika rakyat mengeluh karena derita kemiskinan jawabannya adalah melakukan program pemberdayaan. Jika rakyat mengeluh karena menganggur maka jawabannya adalah menyediakan lapangan pekerjaan seluas-luasnya. Demikian pula jika rakyat mengeluh karena bodoh jawabannya adalah memeratakan pendidikan.

Dalam lubuk hatinya yang paling dalam rakyat berdoa agar kehidupan mereka semakin lebih baik. Rakyat sangat mendambakan harga-harga murah, BBM murah, pendidikan murah, gampang mencari pekerjaan, dan seterusnya.

Oleh karenanya, ke depan Indonesia memerlukan pemimpin baru yang mau mendengar suara rakyatnya [amanah]. Seorang pemimpin memiliki kematangan visi, leadership, dan jiwa pembaruan.

DR Bambang W Soeharto MSi
Jl Mampang Prapatan V/80 Jakarta Selatan
nusantaracom@yahoo.com
7993121

Penulis adalah Ketua Dewan Penasehat Partai HANURA

(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads