Juli 2008 menurut Kantor Berita Reuters dan yang menurut OPEC bahwa harganya akan terus naik sampai menembus angka $170 per barrel pada bulan depan. Berita ini telah mencuri perhatian dunia.
Selain memang baru pertama kali terjadi sepanjang sejarah perdagangan minyak di dunia hal ini juga menjadi sangat menyakitkan perasaan negara-negara miskin dan berkembang. Kenaikan tajam harga ini yang didahului juga oleh kenaikan harga pangan yang bukan disebabkan karena langkanya pasokan di dunia melainkan karena ulah para spekulan dan melemahnya nilai tukar USD yang lebih bersifat pemenuhan hajat pribadi dan golongan minoritas tertentu.
Resesi ekonomi yang terjadi beberapa waktu lalu di Amerika hingga saat ini telah membuat equity dan bond markets menjadi tidak menarik untuk melakukan investasi atau spekulasi bagi mayoritas spekulan di pasar tersebut. Akibatnya, milyaran USD mengalir dengan cepat dan beralih menuju pasar komoditas sehingga menyebabkan harga-harga pangan seperti beras, gandum, dan jagung menjadi naik di Amerika dan berimbas ke seluruh dunia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tetapi, ada pertanyaan menarik yang bisa kita lontarkan dibalik naiknya harga-harga di dunia dan besarnya korelasi spekulasi para spekulan di Amerika dengan semakin parahnya kondisi global saat ini yaitu, mengapa resesi ekonomi yang terjadi di Amerika memiliki imbas yang sangat besar terhadap perekonomian dunia?
Jawabannya mudah saja. Pertama, karena mayoritas perdagangan di dunia menggunakan USD sebagai satuan tukar. Termasuk pangan dan minyak di dalamnya. Kedua, karena nilai tukar USD mengalami depresiasi terhadap Euro dan beberapa mata uang lain.
Bank Dunia dalam laporannya menuliskan bahwa terjadi depresiasi nilai USD terhadap Euro sebesar 41% sejak Januari 2001 dimana 1USD = 1.06Euro hingga April 2008 dimana 1USD menjadi hanya 0.63Euro. Akan tetapi dalam rentang waktu yang sama telah terjadi kenaikan harga beras di dunia sebesar 510%. Harga beras pada Januari 2001 adalah 184USD/ tonne menjadi 907USD/ tonne pada April 2008.
Begitu juga yang terjadi dengan harga minyak dunia. Harga pada bulan Januari 2001 adalah 29.59USD/ barrel menjadi 112.58USD/ barrel pada bulan April 2008, atau telah mengalami kenaikan sebesar 380%.
Badan Pangan Dunia (FAO) dalam laporannya memprediksikan bahwa negara-negara miskin akan membayar minimal 40% lebih tinggi untuk komoditas yang sama pada tahun ini dibandingkan tahun sebelumnya. FAO juga memprediksikan bahwa 82 negara di dunia akan mengahadapi krisis pangan yang cukup berat. Di antara negara-negara tersebut adalah Haiti dan Senegal.
Terasa begitu janggal. Di saat perkembangan teknologi sedang menaiki puncak kejayaannya, senjata-senjata penghancur spektakuler banyak dipertontonkan dalam berbagai macam uji coba, bahkan manusia sudah dapat menjelajah ruang di luar bumi, tetapi krisis pangan yang menjadi kebutuhan dasar kehidupan manusia dapat terjadi secara mendunia.
Dalam salah satu komentarnya di televisi Presiden Venezuela Hugo Chavez menyalahkan Amerika dan ekonomi kapitalisnya sebagai akar permasalahan pangan dan minyak dunia saat ini.
Setelah kejadian sub-prime mortgage loan di Amerika, di mana ribuan atau bahkan jutaan rumah disita oleh bank, krisis keuangan muncul yang kemudian berujung pada jatuhnya nilai tukar USD. Dan karena mayoritas harga-harga di dunia diukur dalam USD, maka kenaikan harga-harga komoditas menjadi tidak dapat terelakkan. Dan ketika harga minyak terhadap USD naik maka harga minyak terhadap mata uang lain pun menjadi naik secara otomatis.
Dalam hal ini telah terjadi apa yang disebut dengan "exporting inflation" kepada negara-negara lain. Atau dengan kata lain, negara-negara selain Amerika di seluruh dunia, dan Indonesia di dalamnya, akan menanggung beban inflasi yang terjadi di Amerika. Kita mensubsidi Amerika dengan kenaikan-kenaikan harga yang terjadi. Suka atau pun tidak.
D8 atau Developing Eight adalah kelompok negara-negara Islam berkembang yang berkumpul dan membicarakan isu-isu perdagangan dan pengembangan ekonomi negara-negara berkembang. Yang menjadi anggota D8 adalah Indonesia, Iran, Mesir, Bangladesh, Malaysia, Nigeria, Pakistan, dan Turki.
D8 pertama kali dibentuk di Istanbul pada tanggal 15 Juni1997. D8 semestinya memiliki posisi strategis dalam perdagangan dunia karena jumlah populasi penduduk dari ke-8 anggota D8 telah mencapai 13.5% pada tahun 1997 dan mencapai 15% pada tahun 2006.
Dalam hubungannya dengan "inflationary phenomena" yang terjadi saat ini di dunia, khususnya pada menaiknya harga minyak, D8 sebagai 8 negara Islam yang bisa dianggap paling berkembang sesungguhnya memiliki posisi yang sangat strategis untuk bersuara dan mengembalikan keadaan seperti sebelumnya. Atau bahkan menjadi lebih baik.
Dr Rais Yatim, Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, dalam salah satu wawancara di televisi pemerintah di Malaysia secara tegas mengungkapkan bahwa Iran hanya akan bertransaksi atas minyaknya dengan satuan Euro bukan USD. Di luar itu, D8 juga memiliki populasi yang cukup besar untuk dijadikan sasaran pemasaran produk-produk di dunia, mencapai 15% populasi dunia. Hal ini menjadi kekuatan lain yang dapat dimainkan oleh D8 sehingga memiliki posisi tawar yang tinggi diperdagangan di dunia.
Berangkat dari kondisi aktual saat ini ada beberapa tahapan yang harus dilakukan oleh D8 untuk mengantisipasi inflasi yang terjadi. Kemudian mewujudkan cita-cita tegaknya keadilan di sektor ekonomi sehingga dapat mewujudkan kesejahteraan bagi masyarakat didunia.
Pertama, memperkuat ikatan ukhuwah dan kesamaan visi di antara negara-negara anggota D8. Dalam hal ini Presiden Republik Islam Iran, AhmadiNejad, menekankan pentingnya joint-investment di antara negara-negara anggota D8 untuk bertarung melawan globalisasi yang sejatinya hanya menguntungkan beberapa Negara tertentu secara ekonomi.
Abdullah Badawi dalam sambutannya pada Sixth D8 Summit di Kuala Lumpur lalu juga menyakinkan dunia bahwa salah satu kekuatan paling potensial yang dimiliki negara-negara D8 selain kekayaan alam dan total populasinya adalah sektor agrikultur yang menjadi kunci komoditas pangan dunia. Oleh karena itu seharusnya D8 dapat berperan dalam menstabilkan gejolak naiknya harga-harga komoditas di dunia saat ini.
Tahap kedua adalah menggantikan peran USD sebagai satuan transaksi dalam perdagangan dengan Euro atau bahkan Emas. Seperti pemaparan sebelumnya, dengan tetap mempertahankan USD dalam setiap transaksi perdagangan intra-D8 atau D8 dengan negara-negara lain, sama saja dengan kita terus mensubsidi Amerika untuk kemakmurannya di saat keadaan Amerika sedang kritis menuju kehancurannya. Baik dari segi ekonomi maupun sosial budaya.
Professor Ekonomi dari IIU Islamabad, Dr Asad Zaman, yang juga mantan dosen di MIT dan Stanford University di Amerika dalam ceramahnya di IIU Kuala Lumpur pekan lalu mengatakan bahwa Amerika sedang menuju kehancuran yang nyata dari segala bidang. Ekonomi, sosial budaya, bahkan demokrasi yang didengung-dengungkannya.
Untuk mempertahankan status quo Amerika di dunia perekonomian, Amerika akan menekan negara-negara di dunia untuk tetap menggunakan USD dalam perdagangan internasional sehingga dengan permintaan yang tinggi terhadap USD karena keperluan transaksi mereka, negara-negara tersebut akan mensubsidi Amerika dalam me-recovery kondisi perekonomian mereka yang sedang carut-marut.
Tahap ketiga adalah menekankan penggunaan sistem complementary currency pada wilayah-wilayah yang dianggap layak untuk diterapkan pada setiap Negara. Hal ini dapat bersifat sebagai pilot project dari efektivitas sistemnya. Mata uang di suatu negara cenderung bergerak dari desa ke kota. Kalau pun kembali ke desa hanya sebagian kecil saja dari yang diambil di desa.
Sistem complementary currency, yaitu mata uang yang di-back up oleh sesuatu yang riil dan bernilai sesuai baik dari jenis barang maupun jasa. Dalam hal ini akan mengisi kesenjangan mata uang tersebut dan mendukung peningkatan jumlah transaksi di daerah pedesaan yang akan menguatkan perekonomian lokal.
Secara operasional, sistem complementary currency telah berhasil diterapkan di beberapa negara maju dan memberikan hasil maksimal dalam menciptakan lingkungan ekonomi yang berkeadilan. Di antara contohnya adalah kota Lewes di Sussex, Inggris, dan kota Totnes serta The Southern Berkshire di Massachusetts, Amerika, yang telah mengeluarkan mata uang khusus di dalam kota. Wallahu'alam.
Muhamad Abduh
Mahasiswa Program Master of Economics Department of Economics
International Islamic University Malaysia (IIUM)
+60163503502
(msh/msh)











































