Kompromi Soal Ambalat

Kompromi Soal Ambalat

- detikNews
Jumat, 18 Jul 2008 16:11 WIB
Kompromi Soal Ambalat
Jakarta - Seperti diberitakan bahwa antara Indonesia dan Malaysia sepakat sengketa kedua negara atas wilayah perairan sekitar Ambalat tidak akan dibawa ke Mahkamah Internasional. Kedua negara sepakat seperti yang disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Malaysia Rais Yatim untuk mengajukan kepada kedua pemerintahan. Masalah Ambalat diselesaikan berdasarkan aturan hukum yang terkait wilayah perairan dan hak-hak ekonomi kedua negara.

Selanjutnya kedua negara sepakat membentuk panel para ahli atas masalah itu yang hasilnya akan dihormati oleh kedua pihak. Sengketa yang terjadi di perairan Ambalat muncul satu tahun lalu setelah perusahaan minyak nasional kedua negara memberikan konsesi minyak dan gas di lepas pantai Pulau Sebatik itu, saling tumpang tindih.

Perusahaan Italia, Eni, beroperasi di blok Ambalat berdasarkan kontrak bagi hasil dengan Pertamina yang ditandatangani pada tahun 1999. Namun, perusahaan minyak Malaysia, Petronas, kemudian memberikan konsesi kepada perusahaan minyak Belanda, Shell Plc, pada tahun 2005.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apakah kesepakatan itu perlu diterima? Tentu kita harus hati-hati dengan akal bulus Malaysia. Negara itu telah berulangkali mempencundangi dan mengecoh keluguan Indonesia. Kesepakatan yang diajukan Rais Yatim itu menunjukkan masihnya ada keinginan Malaysia untuk tetap menguasi Ambalat. Sebab, di perairan Ambalat terdapat sumber daya minyak yang sangat menggiurkan siapa saja.

Bentuk diplomasi yang ditawarkan Malaysia merupakan bentuk ketidakmampuan atau ketakutan negara itu terhadap kekuatan militer Indonesia. Malaysia menganggap kekuatan militer Indonesia lebih kuat dibanding negaranya sehingga mereka ingin merebut Ambalat dengan cara-cara diplomasi seperti mereka merebut Sipadan - Ligitan.

Menghadapi tawaran Malaysia dengan cara-cara diplomasi tentu harus kita tolak sebab terbukti bahwa cara-cara itu tidak menguntungkan Indonesia. Oleh sebab itu kita harus menolak segala cara Malaysia yang masih berkeinginan menguasai Ambalat dan kita harus menggunakan segala cara untuk tetap mepertahankan perairan itu. Bila kita tetap menuruti kemauan Malaysia maka kita dari hari ke hari akan tetap dipermainkan dan satu persatu wilayah Indonesia akan direbut dan dicaplok tanpa kita sadar.

Permasalahan dengan Malaysia sebenarnya sudah menahun. Namun, selalu selesai dengan ungkapan minta maaf atau selesai dengan cara-cara diplomasi. Pada saat Tentara Diraja Malaysia melanggar batas-batas wilayah Indonesia masalah menjadi selesai ketika Panglima Tentara Diraja Malaysia minta maaf. Demikian juga ketika pemukulan terhadap wasit karate asal Indonesia dianggap selesai ketika PM Malaysia Ahmad Badawi meminta maaf kepada Presiden SBY.

Tidak meruncingnya permasalahan antara Indonesia dan Malaysia hingga menimbulkan perang sebenarnya bukan dilandasi atau diselesaikan dengan cara diplomasi atau permintaan maaf. Jika permasalahan itu tidak diselesaikan secara tegas akan selalu terulang dan menimbulkan perang urat syaraf. Masalah yang berlarut-larut ini harus diselesaikan secara tegas dan tuntas agar masing-masing saling menghargai.

Dari sekian presiden Indonesia hanya Soekarno yang berani tegas terhadap Malaysia. Ungkapan Soekarno yang terkenal 'Ganyang Malaysia' selalu dijadikan jargon atau teriakan ketika hubungan Indonesia dan Malaysia memanas. Cara-cara Soekarno itulah yang mestinya dilakukan oleh presiden-presiden selanjutnya. Namun, sayangnya presiden-presiden selanjutnya relatif lebih lunak dan kooperatif terhadap Malaysia.

Akibatnya Indonesia selalu dipermainkan oleh negara jiran itu. Dalam soal Ambalat memang langkah-langkah yang sudah pernah dilakukan SBY cukup berarti. Ketika Ambalat dalam sengketa ia turun langsung ke perairan itu. Setelah itu konflik menjadi reda dan para nelayan di Pulau Sebatik pun berani lagi melaut.

Di perairan itu pula, saat ketegangan terjadi, tiga kapal KRI mangkal di perairan Ambalat sehingga marine Malaysia tidak berani datang wilayah itu. Namun, sayangnya SBY mengatakan tidak akan terburu-buru menyatakan perang militer terhadap negara yang akan mencaplok Indonesia. Menurutnya negosiasi lebih dikedepankan dalam mempertahankan kedaulatan bangsa. Perang adalah jalan terakhir yang kita lakukan untuk mencapai kepentingan nasional.

Dalam masalah kedaulatan tentu kita perlu belajar kepada Argentina dan Inggris dalam mempertahankan atau merebut Kepulauan Malvinas atau Fakland. Kedua negara demi mempertahankan wilayahnya melakukan pertempuran. Memang untuk mempertahankan kedaulatan negara cara-cara itu perlu dilakukan sebab kedaulatan adalah soal harga diri.

Selama ini harga diri kita sudah sering dilecehkan Malaysia. Dengan berkompromi soal wilayah dengan Malaysia berarti akan menambah lama harga diri kita dilecehkan dan dipermainkan.

Ardi Winangun
Pengurus Presidium Nasional Masika ICMI dan Pernah Melakukan Perjalanan ke Pulau Sebatik-Perairan Ambalat-Malaysia.

Β  (msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads