Masa Depan Hubungan Indonesia - Australia

Masa Depan Hubungan Indonesia - Australia

- detikNews
Jumat, 18 Jul 2008 08:45 WIB
Masa Depan Hubungan Indonesia - Australia
Jakarta - Perdana Menteri Austalia Kevin Rudd baru saja melontarkan gagasan untuk membangun sebuah komunitas baru di Asia - Pasifik di tahun 2020. Gagasan itu dipaparkan Kevin Ruud di depan peserta pertemuan Asia Society, Rabu malam 4 Juni 2008 lalu.

Sebagai bentuk keseriusannya dia bahkan sudah menunjuk Richard Woolcott, mantan Sekretaris Departemen Luar Negeri yang juga pernah menjadi duta besar di Indonesia, sebagai duta yang akan membawa ide tersebut ke negara-negara Asia Pasifik.

Dalam pidatonya di pertemuan itu Ruud menyatakan bahwa saat ini adalah awal yang tepat untuk mulai berpikir mengenai rancang bangun kawasan Asia Pasifik. Kevin Ruud yakin negara-negara di kawasan ini harus melakukan antisipasi terharap perubahan yang ada, dan untuk itu diperlukan dialog yang lebih erat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia juga menyebut sejumlah negara yang diharapkan memiliki peran besar dalam, ide ini. Seperti Amerika Serikat, Jepang, China, India, dan tentu saja Indonesia.

Pengakuan akan peran besar Indonesia di Asia Pasifik ini tentu saja bukan sekedar basa-basi Kevin Ruud. Sudah menjadi tradisi, Partai Buruh Australia
memiliki hubungan yang baik dengan Indonesia, dan mencapai masa keemasan di era Paul Keating.

Kita tentu boleh berharap banyak. Di bawah kepemimpinan Kevin Ruud kali ini masa keemasan itu akan kembali datang lagi. Kunjungan kenegaraan Kevin Ruud ke Indonesia, 12-14 Juni lalu juga menjadi kado manis untuk masa depan hubungan kedua negara meskipun Indonesia sempat dilewatkan Kevin Ruud dalam lawatan keliling dunianya yang pertama akhir Maret hingga pertengahan April tahun ini.

Kevin Rudd memang sudah pernah datang ke Bali, Januari lalu dan bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Namun, pertemuan itu tidak dapat dinilai sebagai sebuah kunjungan kenegaraan.

Pertama, karena pertemuan di Bali itu dalam rangkaian Konferensi PBB mengenai perubahan iklim sehingga pembicaraan SBY dan Kevin Rudd tentu tidak dalam kerangka memperbaiki kerangka dasar kerja sama kedua negara.

Kedua, kunjungan ke Bali sebagian juga merupakan kepentingan Kevin Rudd sendiri sebagai perdana menteri terpilih yang berjanji untuk memberi perhatian lebih besar dalam isu-isu pelestarian lingkungan.

Dalam pertemuan dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono nanti Kevin Ruud akan menjadikan obsesinya membentuk organisasi baru di Asia - Pasifik sebagai salah satu bahasan utama. Di sinilah, Presiden SBY dituntut untuk dapat mengambil peran signifikan terkait rencana tersebut. Peran ini penting. Selain untuk kepentingan dalam negeri juga untuk memantapkan posisi Indonesia di antara negara-negara Asia-Pasifik.

Obsesi Kevin Ruud ini juga memiliki makna khusus bagi Indonesia karena Australia kini mulai memandang tetangga-tetangga dekat sebagai kekuatan strategis. Setelah sebelumnya di era John Howard terlalu banyak mengandalkan sekutu jauhnya seperti Amerika Serikat dan negara-negara Eropa.

Kevin Ruud, sebagaimana tradisi kalangan Partai Buruh Australia, sadar bahwa Asia - Pasifik juga menjadi penyangga penting bagi Australia. Australia juga kembali memandang Indonesia sebagai tetangga dekat yang strategis.

Merajut Kembali Hubungan Manis
Hubungan Indonesia dan Australia ibarat dua rumah tangga bertetangga. Kadang keduanya memiliki hubungan mesra. Tetapi, tidak jarang bertengkar secara terbuka dan kadang pura-pura mesra meskipun di hati masing-masing api dendam membara.

Indonesianis asal Australia, Colin Brown, mengatakan hubungan kedua negara ini ibarat roller-coaster. Sebuah hubungan yang berputar dan naik turun. Dalam catatan sejarah Australia pernah mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia lewat peran buruh-buruh pelabuhan yang menolak bekerja untuk kapal-kapal perang Belanda.

Namun, begitu Partai Liberal di bawah Robert Menzies yang memegang rekor sebagai Perdana Menteri Australia paling lama berkuasa, yaitu selama 18 tahun memegang tampuk pemerintahan, kebijakan itu berubah. Di bawah Robert Menzies, baik di periode 1939 sampai 1941 dan 1949 sampai 1966, hubungan kedua negara tak bisa disebut harmonis.

Hubungan Indonesia - Australia selalu baik jika perdana menteri mereka dijabat tokoh Partai Buruh. Baik oleh Gough Whitlam (1972-1975), Bob Hawke (1983-1991), sampai Paul Keating (1991-1996).

Puncak hubungan buruk Indonesia adalah kasus Timor Timur. Australia mendukung kemerdekaan bekas provinsi ke-27 itu. Kasus lain yang menjadi noda merah antara kedua negara adalah pemberian suaka terhadap sejumlah warga Papua yang lari ke Australia.

Kini, setelah Partai Buruh kembali memegang kekuasaan di Australia, Indonesia perlu menunjukkan sikap yang lebih tegas dalam masa depan hubungannya dengan Australia. Pertemuan Kevin Rudd dan Presiden SBY harus dijadikan momentum bagi Indonesia untuk "menagih" sejarah manis hubungan kedua negara. Presiden SBY harus mampu menunjukkan kepada Kevin Ruud bahwa Indonesia adalah tetangga strategis yang memiliki posisi tak tergantikan bagi Australia.

Satu langkah penting juga harus dilakukan Presiden SBY sehubungan dengan obsesi Kevin Ruud di awal tulisan ini. Langkah penting itu adalah mempersiapkan pandangan resmi Indonesia terhadap rencana itu. Sekaligus menyampaikan respon yang terencana.

Indonesia mulai harus berpikir lebih strategis terhadap kawasan Asia - Pasifik. Apalagi diakui atau tidak peran Asean di Asia Tenggara semakin tidak terlihat.

Barangkali organisasi baru gagasan Kevin Ruud ini adalah jawaban bagi Indonesia untuk berperan lebih besar di tingkat regional Termasuk mengambil manfaat optimal yang selama ini belum tergarap.

Nurhadi Sucahyo
Jurnalis, Kontributor SBS Radio, di Sydney


(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads