Munculnya partai-partai politik baru setiap menjelang pemilu disadari atau tidak sebenarnya sudah sering kita alami. Munculnya partai politik setiap menjelang pemilu bak seperti tumbuhnya jamur di musin penghujan. Banyak dan tumbuh di mana-mana. Jadi kita jangan kaget melihat fenomena ini.
Lihat saja pada Pemilu 1955. Tercatat ada 178 peserta pemilu. Kemudian pada Pemilu 1999. Ada 48 partai politik dan pada pemilu selanjutnya, tahun 2004, ada 24 partai politik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Munculnya banyak partai akan memunculkan persaingan yang ketat. Hasil persaingan itu melahirkan pemimpin yang benar-benar kompeten dan beragam. Namun, apabila jumlah partai politik dibatasi. Seperti di zaman Orde Baru. Kondisi itu hanya akan mematikan dan menimbulkan apatisme masyarakat terhadap masa depan demokrasi dan legitimasi penyelenggara negara. Selain itu penyelenggaran negara orangnya hanya itu-itu saja.
Secara tulus dan cita-cita, partai-partai baru, seperti Partai Hanura, NKRI, PDP, PMB, PKNU, Partai Bintang Bulan, dan partai-partai baru lainnya, ingin melakukan perubahan dan perbaikan nasib rakyat, bangsa, dan negara. Cita-cita itu diprogandakan oleh partai-partai baru tentunya agar masyarakat yang kecewa dengan partai-partai yang sudah ada mau berbondong-bondong masuk partainya.
Namun, benarkah partai-partai baru itu menawarkan sesuatu yang baru pula? Jawabannya terjawab bila mereka mampu memperoleh jumlah kursi yang siginifikans dan menjadi bagian dari kekuasaan. Akan tetapi bila dilihat dari latar belakang pendiri-pendiri partai-partai baru kita harus hati-hati dan waspada agar kita tidak kesekian kalinya dipencundangi.
Kalau kita selusuri siapa-siapa pendiri-pendiri partai baru sebenarnya mereka bukan orang-orang yang baru. Baik muka, cita-cita, maupun ideologi. Lihat saja siapa-siapa pendiri Partai Hanura, PDP, PMB, PKNU, Partai Bintang Bulan.
Mereka-mereka adalah sempalan-sempalan kader-kader dari Partai Golkar, PDIP, PAN, PKB, yang tersingkir akibat konflik internal partai atau karena mereka sudah tidak terakomodasi oleh partai sebelumnya. Bisa juga mereka adalah partai yang tidak lolos electoral threshold.
Jika demikian latar belakangnya tentu partai politik baru hanya sekedar kendaraan politik atau kamuflase untuk mengakomodasi kepentingan-kepentingan lama mereka. Mereka menggunakan partai politik yang baru untuk tetap memperjuangakan kepentingan dan cita-cita yang lama. Mereka akan tetap ikut pemilu sampai kepentingan dan cita-citanya tercapai. Atau klimaks ketika sudah mengalami manisnya kekuasaan.
Jika demikian maka akan berakibat bila mereka mampu memperoleh kursi atau kekuasaan yang cukup siginifikans. Tentu mereka akan mengulangi kesalahan-kesalahan yang sudah dilakukan sebelumnya. Dengan demikian menjamurnya partai politik baru di satu sisi menunjukkan sesuatau yang positif. Tingginya keinginan masyarakat untuk berpartisipasi dalam demokrasi. Namun, di satu sisi menjamurkan (membiakkan) racun.
Mereka menjadi racun sebab pertama, deklarator atau pendiri-pendiri partai itu adalah orang-orang yang sudah lama berkiprah dan malang melintang dalam dunia politik. Terbukti dalam kiprahnya mereka gagal, mengelak, dan tidak mampu membuktikan apa yang sebelumnya mereka janjikan. Jika mereka terjun dalam dunia politik lagi maka arahnya jelas sudah terbaca yakni hanya mencari kekuasaan semata. Toh, kalaupun mereka nanti mampu memegang kekuasaan pasti kekuasaan bergerak seperti yang dulu.
Kedua, ideologi partai yang mereka bentuk atau dirikan tidak baru. Mereka meniruΒ pada partai yang sebelumnya ia aktivi. Partai Hanura sudah tentu akan bercorak Partai Golkar atau cara-cara militer karena di situ selain Wiranto sendiri ada Ary Mardjono dan elite-elite militer. Sementara PDP coraknya akan sama persis dengan PDIP sebab di situ semua pengurus adalah mantan orang PDIP.
Demikian juga Partai NKRI. Pasti akan sama dengan Partai Demokrat karena Sys NS adalah salah satu pendiri Partai Demokrat. Demikian juga PKNU pasti akan sama persis dengan PKB atau PPP.
Karena ideloginya sama, partai-partai baru itu tentu tidak akan mampu memberi solusi terhadap permasalahan bangsa. Idelogi yang sudah ada terbukti tidak mampu membawa perubahan. Kehadiran partai baru hanya akan menambah kejenuhan terhadap wacana demokrasi dan masa depan demokrasi serta ekonomi.
Ketiga, partai baru itu hanya menjadi tempat pembuangan (sampah) pengurus dari partai sebelumnya. Mereka mendirikan partai karena di partai sebelumnya mereka tidak terakomodasi. Banyak alasan mengapa mereka tidak terakomodasi di partai sebelumnya, Misalnya karena kalah bersaing dengan yang muda dan cerdas, cacat moral, beda pendapat, tidak punya duit, atau karena sakit hati.
Ardi Winangun
Jl Kendal No 5 Menteng Jakarta Pusat
ardi_winangun@yahoo.com
08159052503
Penulis adalah Pengurus Presidium Nasional Masika ICMI.
(msh/msh)











































