Demi rakyat pemerintah terpaksa menaikkan harga BBM. Presiden SBY berkali-kali menyatakan bahwa kenaikan harga BBM merupakan opsi terakhir setelah pemerintah gagal mengupayakan cara lain agar BBM tidak naik. Bahkan, Presiden SBY rela popularitasnya anjlok demi menyelamatkan negara dan rakyat. Sebagai solusinya, pemerintah membagikan BLT (Bantuan Langsung Tunai) kepada rakyat miskin dan BKM (Bantuan Khusus Mahasiswa) kepada mahasiswa miskin.
Demi rakyat polisi mengobrak-abrik kampus Unas (Universitas Nasional). Menangkap dan memukuli demonstran anarkis. Sebab, polisi menilai aksi tersebut sudah kebablasan sehingga mengganggu ketertiban umum dan merugikan rakyat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di Kampus Unas mahasiswa dan polisi bentrok. Puluhan mahasiswa ditangkap. Maftuh Fauzi, disebut-sebut menjadi martir perjuangan rakyat. Tidak hanya itu, Selasa (24/6/2008) demonstran juga merobohkan pagar gedung rakyat, merusak fasilitas rakyat seperti jalan tol, serta membakar mobil polisi dan mobil berplat merah.
Demi rakyat pula para wakil rakyat menyetujui penggunaan hak angket kenaikan harga BBM. Para wakil rakyat mulai bekerja untuk menyelidiki faktor-faktor yang membuat pemerintah menaikkan harga BBM.
Memang, di negeri ini banyak orang mengatasnamakan rakyat. Ada yang melakukannya secara benar demi kepentingan rakyat semata. Tetapi, ada pula yang melakukannya demi kepentingan pribadi atau kelompok. Yang terakhir ini tentunya merupakan tindakan yang tidak terpuji. Sebab, rakyat hanya dijadikan komoditas dan tumbal demi kepentingan pribadi atau kelompoknya.
Menyangkut gejolak kenaikan harga BBM apakah suara rakyat sudah merasa terwakili oleh dentuman slogan-slogan pembelaan terhadapnya? Belum tentu. Sebagai rakyat, penulis tentu punya penilaian tersendiri. Karena harga BBM sudah terlanjur naik, harus ada langkah yang cepat dan tanggap dari pemerintah agar rakyat tidak semakin terbebani.
Intinya, rakyat butuh bahan pokok yang murah, sekolah murah, ongkos kendaraan murah, atau yang penting dapur ngebul. Untuk itu, penyaluran BLT dan BKM harus disinergikan dengan program pemberdayaan rakyat. Seperti Kredit Untuk Rakyat (KUR) atau program pemberdayaan lainnya.
Kemudian, agar dapur rakyat terus ngebul, semua pihak harus saling menahan diri. Aksi demonstrasi memang menjadi kebutuhan di negara demokrasi. Namun, demonstrasi yang dilakukan harus tertib dan damai. Tindakan kekerasan dan anarkisme tidak akan menyelesaikan masalah. Sebaliknya, akan mendatangkan masalah baru dan mengurangi simpati rakyat.
Saatnya semua pihak kembali mendengar suara rakyat. Suara yang mendambakan kedamaian dan kesejahteraan, bukan kekisruhan kebencian.
Prastiyo
Peneliti Nusantara Centre
Nusantara Centre
Jl Mampang Prapatan VI/66 Jakarta Selatan
prasetyo_jurnalis@yahoo.com
087510991945 (msh/msh)











































