Indonesia dalam Televisi (Tanamkan Jati Diri Bangsa)

Indonesia dalam Televisi (Tanamkan Jati Diri Bangsa)

- detikNews
Jumat, 27 Jun 2008 07:27 WIB
Indonesia dalam Televisi (Tanamkan Jati Diri Bangsa)
Jakarta - Hampir menjadi aksioma jika rata-rata masyarakat di negeri ini lebih doyan menyaksikan tayangan-tayangan di layar kaca ketimbang melahap bahan-bahan bacaan. Kemajuan teknologi dengan semarak tayangan-tayangan televisi tak dimungkiri memiliki daya pikat dan kuasa menyihir masyarakat. Termasuk juga
anak-anak.

Tanpa bermaksud menggeneralisir kita selayaknya menengok sejenak tayangan sinetron di televisi yang bertebaran bak jamur di musim hujan. Dalam sinetron acap kali mendistorsi realitas sosial yang sungguh-sungguh terjadi.

Gaya hidup glamor yang ditampilkan seolah-olah menihilkan fakta kepapaan di negeri ini. Lebih memprihatinkan lagi dengan sinetron-sinetron religius bernuansa mistik yang tanpa disadari justru kurang mengajarkan kebijaksanaan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Melihat tayangan televisi boleh jadi memang membuat hati kita miris. Demikian pula dengan tayangan sinetron yang ditujukan bagi anak-anak. Dalam beberapa sinetron anak-anak kerap kali dimunculkan tokoh-tokoh fiktif. Bahkan tidak masuk akal.

Sebagai misal seorang anak diceritakan dalam sinetron begitu gampangnya mendapatkan pertolongan dari "putri cantik nan mandraguna" ketika mendapatkan kesulitan dalam perjalanan hidupnya. Entah disadari atau tidak tayangan sinetron seperti itu justru meninabobokan anak-anak dengan buaian yang bersifat khayal semata.

Dalam sinetron tersebut anak tak diajarkan menghadapi kenyataan hidup yang sebenarnya. Bukankah "putri cantik nan mandraguna" itu tak pernah ada dalam kehidupan nyata?

Lebih miris lagi mengenai kehidupan sekolah. Dalam tayangan sinetronnya lebih menonjolkan hubungan lawan jenis dan perilaku hedonis. Budaya belajar hampir tak tampak meskipun tayangan sinetron mengambil setting di lingkungan sekolah.

Jika mau jujur kita bisa memberi aneka contoh tayangan-tayangan sinetron yang kurang mendidik. Yang harus menjadi kesadaran kita televisi pada dasarnya juga berfungsi sebagai media untuk mendidik masyarakat. Dengan daya pengaruhnya televisi bisa berfungsi --mengutip fungsi pendidikan nasional, membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat.

Dengan antusiasme masyarakat (dan juga anak-anak) menyaksikan tayangan televisi, rekayasa sosial bisa dilakukan, seperti membentuk sikap terpuji dan perasaan simpati-empati, menjunjung nilai-nilai keadaban atau pun menegakkan kehidupan demokrasi.

Ya, mengapa tidak menanamkan sikap patriotik pada masyarakat dengan menayangkan kiprah Panglima Besar Jendral Soedirman. Biarkan masyarakat, terlebih anak-anak, meneladani Bung Karno dengan semangat Tri Sakti-nya, Bung Hatta dengan kesahajaannya, atau siapa saja para pahlawan yang telah gugur sebagai kusuma bangsa.

Apa yang disebutkan di atas hanya sedikit contoh. Pihak industri pertelevisian tentu lebih cerdas mengemas tayangan-tayangan yang mampu membawa bangsa ini lebih 'bertaji' dan bermartabat. Kita memang mengimbau pihak industri pertelevisian dengan segala hormat.

Hendra Sugiantoro
Akademikus di Universitas Negeri Yogyakarta

(msh/msh)


Berita Terkait