Kalimat agung di atas sengaja dikutip agar kita mau berbagi, saling menolong, dan tentunya selalu menjadi hamba-hamba ciptaan Tuhan yang berpikir. Makna yang terkandung di dalam ayat ini sangatlah komprehensif dan realistis, diawali dengan sebuah pertanyaan? "Tahukah Kamu" yang memang sengaja ditujukan kepada manusia yang secara kultural adalah makhluk berpikir.
Setidaknya ada beberapa hal di dalam ayat tersebut yang perlu kita renungi. Orang-orang yang salat tapi dikatakan lalai dan mendustakan agama hanya karena menolak hak anak yatim dan tidak memberi makan orang miskin. Serta enggan memberi pertolongan kepada orang lain. Sebuah penegasan dari Maha Pencipta bahwasanya manusia bukan hanya makhluk individu tapi juga makhluk sosial, yang diwajibkan untuk saling tolong menolong, memberi, membagi dan membantu.
Namun, sangat paradoks dengan realitas di negeri ini. Hati terasa tersayat-sayat tatkala melihat masih banyak orang-orang miskin yang terlantar dan tidak mempunyai tempat tinggal. Anak-anak yatim yang hidupnya sebatang kara yang akhirnya turun ke jalan hanya untuk sesuap nasi dan seteguk air. Hingga orang-orang sakit yang tak punya cukup dana yang terus berjuang melawan penyakitnya hanya bermodalkan semangat untuk bisa bertahan hidup.
Sebuah pemandangan yang kontradiktif bukan mengingat bangsa ini adalah bangsa dengan jumlah muslim terbesar di dunia. Bahkan negeri ini pun dipimpin oleh orang-orang muslim yang notabenenya adalah orang-orang terpelajar yang rajin shalatnya. Dan, konon jamaah haji terbesar tiap tahunnya adalah dari negeri kita ini.
Sungguh aneh tapi nyata (apa iya? orang-orang muslim di Indonesia tidak pernah tahu! Ada perintah dalam Kitab mereka yang menganjurkan untuk memperhatikan golongan fakir miskin dan anak yatim). Dengan demikian, tidak berlebihan pula bila saya katakan bahwa bangsa ini juga adalah bangsa pendusta agama terbesar di dunia.
Agak berlebihan mungkin. Tapi, fakta yang terlihat di depan mata kita adalah demikian adanya. Menurut laporan sebuah LSM bahwa 45% masyarakat Indonesia masih hidup di bawah garis kemiskinan, angka yang sangat mengagetkan. Bangsa yang terkenal sejak dahulu dengan sumber daya alamnya yang berlimpah ruah ini ternyata sebagian masyarakatnya masih hidup menahan lapar, hidup tanpa rumah, bahkan hidup tanpa pakaian.
Sungguh ironis memang. Tapi, inilah kondisi sosial bangsa kita yang tercabik-cabik oleh materialistik kapitalis sehingga masyarakatnya hidup terkotak-kotak menurut status sosial dan terbagi-bagi dalam beberapa golongan.
Kesenjangan sosial terjadi di mana-mana. Di satu sisi, para penguasa, pejabat, dan orang-orang kaya asyik menikmati kekayaan berlimpah ruah, berwisata keliling dunia, menikmati hotel-hotel berbintang, dan mengoleksi mobil-mobil mewah. Di sisi lain si budi kecil dengan keringat menetes di sekujur tubuhnya berjalan menjajakan korannya demi si ibu yang sakit keras terlentang di antara bilik-bilik gardus di bawah sebuah jembatan tol.
Atau mereka yang tidurnya tidak nyenyak karena isi perutnya kosong kerontang. Atau tengoklah mereka petani-petani miskin di desa yang bekerja siang malam tanpa mengenal lelah demi perut-perut anda yang ada dikota. Atau kuli bangunan yang bekerja tanpa pamrih membangun istana-istana yang anda tempati.
Sadar atau tidak semua yang anda miliki itu tidak lepas dari jerih payah mereka-mereka yang anda tolak haknya (hak mendapat pendidikan, pelayanan kesehatan, dan hak kenyamanan timpat tinggal) mereka yang anda rampas kebebasannya, yang anda injak-injak harga dirinya. Toh, dengan ihklas mereka tetap melayani anda-anda yang kaya dan berkuasa.
Sadarkah bahwa Tuhan telah menjamin sendiri dalam firmannya bahwa doa mereka-mereka yang teraniaya yang sering terampas haknya ini, akan langsung dikabulkan. Coba renungkan sendiri apa jadinya kalau ribuan atau jutaan orang miskin dan anak-anak yatim yang menghuni negeri ini mengangkat tangan ke langit seraya berdoa "Ya Allah berilah pelajaran kepada mereka-mereka yang telah menganiaya kami".
Saya sempat berpikir bahwa bencana yang menimpa bangsa ini dari waktu ke waktu adalah teguran keras dari Tuhan yang maha kuasa, karena doa dari mereka-mereka yang teraniaya dan dirampas haknya ini. Wallahualam bishawab, hanya Allah yang tahu.
Pendusta agama. Dua kata yang diasosiasikan Tuhan buat mereka yang bermental seperti ini (penguasa bejat, pejabat-pejabat rakus, serta orang-orang kaya riya) yang tidak suka memberi pertolongan kepada orang lain dan menolak hak-hak anak yatim. Sepintas kita ketahui bahwa negara ini telah memiliki UUD yang mengatur akan hak-hak anak yatim dan orang-orang miskin terlantar yang tertuang dalam pasal 33 UUD 45. Namun, apa yang terjadi hanyalah slogan kosong dalam UUD yang tidak pernah diimplementasikan.
Kucuran dana dari pemerintah buat rakyat miskin melalui beberapa programnya hanyalah bersifat simpati dan terkesan memanfaatkan kalangan akar rumput ini sebagai jalan politiknya untuk mencari dukungan. Mereka (rakyat miskin) ini sebenarnya tidak membutuhkan rasa simpati kita untuk mengasihani mereka. Tapi, lebih ke rasa empati yang dalam, yakni rasa saling memiliki, saling berbagi, dan membutuhkan.
Mereka membutuhkan penguasa-penguasa yang mau turun ke bawah ikut merasakan penderitaan mereka. Ikut merasakan akibat dari naiknya harga-harga barang. Ikut merasakan susahnya menjadi orang-orang yang tidak bernasib baik dan beruntung seperti mereka yang duduk manis di kursi-kursi kekuasaan.
Sebuah kejadian di Ibu Kota yang saya baca di harian surat kabar, mungkin akan membuat kita terenyuh, "seorang ibu tua warga miskin Jakarta yang menderita kanker payudara keluar masuk rumah sakit untuk memperoleh pengobatan gratis karena yang bersangkutan tidak memiliki cukup dana untuk berobat, tapi alhasil apa yang didapatnya hanyalah hinaan, cemoohan dari petugas rumah sakit yang sungguh dengan arogan mengatakan bahwa warga miskin tidak diberikan pelayanan gratis. Dengan perasaan sedih dan malu si ibu tua berlalu berharap kiranya ada yang mau membantu. Alhamdulillah, sebuah rumah sakit mau membantunya dengan perantara sebuah LSM".
Terenyuh memang. Benar-benar terenyuh. Saya jadi teringat seorang pejabat negara yang masuk rumah sakit beberapa waktu yang lalu. Dilayani bak seorang raja. Karangan bunga tanda simpati berdatangan dari berbagai tempat. Dari kolega, pengusaha, simpatisan, sampai pejabat-pejabat besar Negara ini. Tidak adil. Itulah satu kata yang tertanam dalam benak kita sebagai orang-orang yang tidak memiliki apa-apa ini.
Ada benarnya juga slogan atau iklan yang pernah marak di televisi akhir-akhir ini "orang miskin dilarang sakit, dan orang sakit dilarang miskin".
Tulisan ini tidak bermaksud untuk mendiskreditkan penguasa atau pun orang orang kaya yang hidup di bumi pertiwi ini. Namun, lihatlah sejenak Firman Tuhan di atas sana, yang memang ditujukan buat golongan berada (kaya), yang dengan sikap arogan, sombong, riya, dan lalimnya tak pernah mau melihat ke bawah (golongan tidak berada).
Bukankah Tuhan mengatakan bahwa dengan bersedekah harta kita tidak akan berkurang, karena rezeki akan selalu datang sebagai imbalan atas kemuliaan jiwa kita dalam mendermakan sebagian harta. Ataukah dengan sangat arogan anda mengatakan bahwa Tuhan telah berbohong, karena menurut teori ekonomi yang diciptakan oleh logika manusia bahwasanya "pengeluaran uang yang tidak mendatangkan pemasukan adalah tindakan merugikan dan akan memangkas kekayaan".
Suatu teori yang diciptakan oleh orang-orang barat yang terkenal dengan paham materialistis dan kapitalisnya. Padahal cobalah tengok sejenak kehidupan orang-orang ini bagaimana mereka menghambur-hamburkan uang berjuta-juta rupiah hanya untuk sebuah kesenangan sesaat yang tak ada akhirnya.
Berapa puluh juta yang telah dikeluarkan hanya untuk mencicipi sebotol sampagne. Atau berapa ratus juta yang telah dikeluarkan hanya untuk tidur beberapa hari di hotel berbintang lima. Berapa miliar lagi yang harus dibayar hanya untuk menikmati kunjungan kerja di berbagai belahan dunia.
Cobalah bayangkan dengan nalar kita. Berapa miliar atau triliunan rupiah yang dihamburkan oleh mereka (penguasa bejat, pejabat rakus, orang-orang kaya) dalam setahun, dua tahun, tiga tahun, dan seterusnya. Tentulah nilainya tak terhingga mengingat yang melakukan bukanlah satu orang atau satu kelompok tapi beribu-ribu orang kaya yang menghuni negeri ini.
Saya yakin dana yang dipakai untuk kesenangan sesaat ini bila dikumpulkan akan mampu membangun rumah-rumah tipe standar bagi 45% orang-orang miskin se-Indonesia. Atau cukup untuk membiayai pendidikan anak-anak putus sekolah yang tidak mampu secara finansial. Atau bahkan lebih untuk dibagi-bagikan buat mereka (orang-orang miskin) untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.
Tentunya harapan kita ini akan selalu bertolak belakang dengan arogansi mereka-mereka yang kaya dan punya kekuasaan ini. Lebih baik hartanya dihambur-hamburkan ke mana saja daripada didermakan buat orang-orang miskin dan anak yatim.
Memang benar apa yang dikatakan Tuhan. Begitu banyak orang yang lalai dalam salatnya sehingga diberi predikat sebagai pendusta-pendusta agama. Padahal apa yang dicontohi oleh Rasulullah dan sahabat-sahabatnya semasa memimpin umat ini pada masa-masa awal kejayaan Islam adalah teladan bagi kita di masa sekarang ini.
Bagaimana Rasulullah dengan rasa simpati dan empatinya begitu sayang terhadap mereka-mereka yang kurang beruntung ini. Beliau bukan saja memberi bantuan materi. Tapi, sekalian turun ke bawah ikut merasakan penderitaan mereka, hidup bersama mereka, menghibur mereka di kala sedih karena beban duka yang menimpa, dan tetap memperhatikan hak-hak mereka sebagai fakir miskin dan anak yatim.
Atau apa yang dilakukan oleh sahabat Nabi Abu bakar as'Syidik, dengan memerangi orang-orang yang dengan membayar zakat. Lihat pula ketulusan hati Umar bin Khatab ketika menjadi Khalifah yang dengan pundaknya sendiri memikul sekarung gandum untuk diberikan kepada sebuah keluarga miskin di pinggiran kota Madinah.
Ataupun sahabat-sahabat Nabi lainnya yang dengan ikhlas mendermakan sebagian hartanya demi kepentingan dan hak anak-anak yatim serta orang-orang miskin yang terlantar.
Semua teladan yang diimplementasikan oleh Nabi dan sahabat-sahabatnya ini adalah sebuah manifestasi dari sebuah kekayaan jiwa nan luhur yang bermisi untuk mensejajarkan semua manusia dalam kehidupan bermasyarakat atau bernegara. Tidak mengkotak-kotakan mereka dan menghilangkan kesenjangan sosial di antara si kaya dan si miskin. Serta sebagai pondasi untuk membangun sebuah negara atau masyarakat madani yang berlandaskan ketuhanan yang maha esa (tauhid), keadilan sosial, dan kemanusiaan (humanisme). Sejarah mencatat bahwa kejayaan Islam pernah mencapai puncaknya di bawah pemimpin-pemimpin umat yang amanah dan orang-orang kaya yang suka mendermakan hartanya.
Kita tentu terperanjat dengan berbagai paradigma kehidupan dewasa ini yang cenderung materialistis, hedonis, dan kapitalis. Sehingga melupakan ajaran-ajaran luhur yang ada dalam kitab suci. Contoh di atas adalah sebuah realita yang ada di hadapan kita.
Saya bukannya terlalu idealis dan sok alim dalam memaparkan kondisi umat saat ini. Namun, kita tentunya tidak ingin bangsa ini sering kali ditegur oleh Allah dengan berbagai cobaan yang datang bertubi-tubi karena sering lalai untuk hal-hal yang dianggap sepele.
Sungguh pragmatis memang hidup berlandaskan ayat-ayat Tuhan di tengah hegemoni budaya-budaya Barat yang materialistis, kapitalis, sekular, dan liberal. Sifat individualistik berakar dalam setiap pergaulan sehari-hari, sehingga melupakan Ukhuwah Islamiyah yang diajarkan Rasulullah. Kalau pun ada persaudaraan hanyalah persaudaraan kelas sosial dan golongan. Bukanlah persaudaraan yang timbul karena rasa sayang dan saling memiliki.
Akhirnya, marilah kita tundukkan kepala sejenak merenungi setiap ayat-ayat Tuhan yang ditujukan kepada kita manusia sebagai makhluk berpikir. Tentunya dengan jalan memaknai setiap apa yang tertuang dalam kitab suci kemudian mencoba untuk diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Kepada para penguasa dan pejabat-pejabat serta orang-orang yang diberi rezeki lebih takutlah kepada Tuhan. Sesungguhnya Tuhan tidak pernah tidur, Tuhan maha kuasa, dan Tuhan maha tahu segalanya. Dan hanya kepadanyalah tempat kita kembali.
Dan kepada mereka-mereka yang selalu hidup dalam bayang-bayang kemiskinan. Bersabarlah. Sesungguhnya Allah selalu bersama orang-orang yang sabar dan selalu berbuat kebaikan. Wallahualambishawab.
Roevhy Mizzan Salampessy
Jl HR Rasuna Said Kav X-2 Jakarta
roe_vhy@yahoo.co.id
02191509102
Foto:/ist.
(msh/msh)











































