Dari hiruk pikuk pendeklarasian calon presiden ada fenomena menarik yang mengundang kritik sebagian elemen dan pegiat demokrasi. Yakni kegagalan institusi partai politik melakukan regenerasi.
Fenomena yang tampak tak dimungkiri menegaskan kemandulan partai-partai politik melahirkan sosok-sosok pemimpin muda. Lihat saja calon-calon pemimpin nasional yang ada saat ini. Ternyata masih saja didominasi kalangan tua. Seperti Megawati yang sudah menginjak kepala enam. Sutiyoso pun tak jauh berbeda yang tiga tahun lebih tua dari putri Bung Karno itu. Bahkan, Abdurahman Wahid yang belakangan didukung partainya untuk maju dalam pilpres 2009 telah berusia 67 tahun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Masih bercokolnya muka-muka lama atau dengan kata lain minim sosok-sosok muda dalam blantika kepemimpinan nasional jelas menimbulkan tanda tanya. Fakta tetap eksisnya pemimpin-pemimpin tua akhirnya mencuatkan wacana kepemimpinan kaum muda. Menanggapi hal itu kalangan tua serta merta mengimbau agar kaum muda jangan merengek minta jatah. Tapi, harus melewati persaingan yang sehat untuk menduduki kepemimpinan nasional.
Pertanyaan yang kemudian muncul kapankah kaum muda mampu dan siap mengambil alih kepemimpinan di negeri ini?
Pada dasarnya, munculnya calon-calon pemimpin muda bukanlah hal yang sulit. Secara historis negeri ini pernah dikomandani dwi tunggal Soekarno-Hatta yang berusia bukan kepala enam. Jadi, munculnya tokoh-tokoh muda untuk menjadi pemimpin nasional hanya ditentukan oleh peluang yang ada. Hanya saja disadari atau tidak figuritas masih menjadi senjata ampuh bagi partai-partai politik di Indonesia. Bahkan, penciptaan sistem kaderisasi secara terpadu di masing-masing parpol masih merupakan pekerjaan besar.
Memang amat ironis jika pemberian ruang terhadap munculnya tokoh-tokoh muda dalam partai politik di negeri ini amatlah minim. Di (sebagian) parpol adanya tokoh-tokoh muda yang bersikap kritis dan terlihat membawa pemikiran-pemikiran baru sering kali mengalami penyumbatan dari kalangan tua. Tanpa mendikotomikan kepemimpinan kaum muda dan kaum tua peluang kaum muda tampil juga amat ditentukan oleh kecerdasan membaca tren utama bangsa yang berkembang.
Anies Baswedan (2006) menjelaskan tren utama bangsa ini berubah dari satu masa ke masa berikutnya seiring dengan perjalanan sejarah. Anak-anak muda yang pada masa mudanya terlibat dalam tren utama akan menjadi aktor-aktor di dalam ruling elite setelah mencapai kematangan. Maksud dari ruling elite adalah sekelompok elite βdi antara elite lainβ yang berkuasa menentukan arah kehidupan berbangsa dan bernegara.
Seperti diketahui sebelum abad 19 formasi elite hanya terbatas berdasarkan hereditas dan derajat sosial. Dengan munculnya lembaga pendidikan modern sejak 1901 tren bergeser. Kaum muda yang mendapatkan pendidikan modern pada era 1900-an sampai 1930-an akhirnya menjadi ruling elite pada 1940-an sampai 1960-an. Setelah itu tren utama bangsa lebih pada upaya mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan wilayah negara.
Rekrutmen anak muda untuk memasuki ranah militer pun dilakukan. Anak muda yang tertempa dalam perjuangan fisik dan pendidikan militer pada 1940-an sampai 1960-an akhirnya mengalami kematangan pada 1970-an ke atas. Di era 1970-an sampai 1990-an formasi elite Indonesia akhirnya beralih di tangan militer.
Selanjutnya tren utama bangsa berubah lagi. Pada 1960-an sampai 1990-an organisasi kemahasiswaan menjadi wahana rekrutmen pemimpin muda. Setelah berkecimpung menjadi aktivis kampus kaum muda kemudian cukup piawai menjadi aktor politik dan menggerakkan partai. Akhirnya, pada era 2000-an ke atas mereka menjadi ruling elite menggantikan dominasi militer sebelumnya.
Lebih lanjut Anies Baswedan memprediksikan sampai 2020-an dan selanjutnya lingkaran elite akan didominasi kalangan entrepreneur dan profesional bisnis. Hal ini didasarkan pada fakta kegiatan paling dominan mewarnai bangsa saat ini adalah aktivitas ekonomi. Kaum muda yang pada era 1990-an ke atas berkecimpung dalam dunia pasar/bisnis akan menjadi ruling elite di negeri ini pada 2020-an ke atas.
Entah akan seperti itu atau tidak kaum muda memang dituntut cerdas membaca tren utama bangsa. Perlu ditegaskan kepemimpinan harus diusahakan bukan diminta. Dalam kepemimpinan nasional AM Lilik Agung (2007) justru menekankan perpaduan antarelemen. Mengoptimalkan tokoh bisnis muda untuk ikut memimpin menjadi sebuah keniscayaan. Lebih niscaya lagi adalah terjadinya kolaborasi antara tokoh politik dan tokoh bisnis, tokoh media, tokoh keilmuan, dan tokoh LSM.
Keniscayaan tokoh muda bisnis untuk turut mengendalikan kepemimpinan nasional dipandang AM Lilik Agung karena mereka memiliki keunggulan dibandingkan dengan tokoh-tokoh muda lainnya. Dari segi pendidikan mereka sangat terdidik dan bahkan banyak lulusan universitas terbaik di luar negeri. Dari sudut ekonomi mereka golongan masyarakat strata A yang tidak lagi takjub untuk bepergian ke luar negeri ataupun rapat di hotel berbintang.
Dari sisi manajemen mereka sudah bergaul intim dengan apa yang disebut cara mengelola organisasi secara efektif dan efisien. Lebih dari itu mereka relatif terbebas dari wawasan sempit primordialisme lantaran lingkup kerja dan pergaulan mereka sudah global. Menurut AM Lilik Agung hanya dua hal yang perlu dipoles dari mereka. Yakni kecakapan berpolitik dan kecerdasan menggerakkan massa.
Nah, kapan kaum muda memimpin? Hanya kaum muda sendirilah yang berhak menjawabnya. Kaum muda yang tentunya -βmeminjam M Fadjroel Rachman-- lebih berprestasi, progresif, dan inovatif menyelesaikan permasalahan aktual Indonesia untuk berhadapan dengan karakter konservatif, regresif, bahkan antidemokrasi para pemimpin tua. Wallahualam.
Hendra Sugiantoro
Akademikus di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) (msh/msh)











































