Membaca "Menu Kebutuhan" di antara Daftar Belanja

Membaca "Menu Kebutuhan" di antara Daftar Belanja

- detikNews
Kamis, 19 Jun 2008 05:37 WIB
Membaca Menu Kebutuhan di antara Daftar Belanja
Jakarta - Buku adalah jendela dunia. Ungkapan bernada klise tapi belum sepenuhnya disadari. Entah karena deraan krisis ekonomi yang masih menyelimuti bangsa ini sehingga buku belum menjadi kebutuhan yang diperhitungkan. Ataukah karena belum menjadi skala prioΒ­ritas. Justru yang berkembang adalah anggapan umum: bisa makan tiga kali sehari saja sudah untung.

Kondisi seperti itu disadari sepenuhnya oleh Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) atau pihak-pihak yang peduli terhadap pentingnya buku. Malahan Unesco, salah satu badan di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan bahwa Indonesia pada tahun 1973 mengalami book starvation (paceklik buku).

Saat itu Indonesia tidak menerbitkan saΒ­tu judul buku pun. Sementara di luar tahun itu, produksi buku di Indonesia berkisar 10.000 judul. Berbeda dengan negara lain. Jepang contohnya, setiap tahunnya menerbitkan 60.000 judul buku. Sementara Inggris jauh lebih besar lagi mencapai 110.155 judul buku.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Fenomena tersebut baru ditinjau dari sisi judul buku belum dilihat dari sisi oplah (jumlah tiras buku yang diterbitkan). Penduduk Indonesia yang mencapai sekitar 220 juta seharusnya produksi bukunya lebih besar ketimbang negeri tetangga. Termasuk Jepang dan Inggris.

Jika ditilik banyak faktor yang menyebabkan produksi judul dan jumlah buku di Indonesia terbilang rendah. Selain karena daya beli masyarakat ternyata faktor reading habit (kebiasaan membaca) sangat menentukan. Berdasarkan data minat baca masyarakat Indonesia untuk kawasan Asia Tenggara saja menduduki peringkat keempat setelah Malaysia, Thailand, dan Singapura.

Terkait dengan daya beli masyarakat boleh jadi rendahnya kebiasaan membaca tersebut erat kaitannya dengan pendapatan per kapita bangsa ini yang lebih rendah dibandingkan negara tetangga di atas. Pendapatan per kapita warga Singapura pada tahun 2002 sebesar 24.000 dolar AS, Thailand 6.900 dolar AS, Malaysia 9.300 dolar AS. Sementara Indonesia hanya 3.100 dolar AS.

Tentu saja tidak sedikit dari masyarakat kita yang berpenghasilan cukup tinggi. Namun, seiring dengan meningkatnya pendapatan bermunculan kebutuhan baru yang sifatnya komplementer sehingga membeli buku menjadi prioritas entah keberapa atau mungkin tidak masuk dalam hitungan.
Β 
Yang jelas kondisi itu mencerminkan bahwa buku belum menjadi prioritas. Betapa tidak produksi buku-buku umum tiap tahun hanya 3 juta buah. Bahkan, diwartakan bahwa dari 143 penerbit hanya sekira 100 penerbit yang aktif. Harus diakui bahwa masyarakat Indonesia belum menempatkan buku sebagai kebutuhan setelah pangan, sandang, dan papan.

Bagaimana pun membangun budaya membaca adalah bertahap dan alami. Maka tidak bisa dinikmati dalam waktu dekat. Dalam lima tahun ke depan belum tentu minat baca masyarakat naik drastis dan buku menjadi salah satu kebutuhan. Meski perubahan lambat namun kita harus menggalakkan budaya baca demi masa depan yang lebih baik.

Tegasnya budaya baca atau reading habit kembali menjadi sesuatu yang sangat penting untuk ditingkatkan. Dengan kata lain sudah saatnya bagi kita menyelipkan buku sebagai "menu kebutuhan" di antara daftar belanja.

Rofiqoh Hadiyati
Mahasiswi FIP Universitas Negeri Yogyakarta

(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads