Bahkan, cerita mistik ataupun cerita seputar anak remaja dan sekolah yang kerap ditayangkan tidak membawa unsur mendidik. Disadari atau tidak, kita dihadapkan pada kenyataan bahwa inilah pembodohan tersistematis.
Sebut saja tayangan berbau mistis di beberapa televisi yang acap kali menuai protes. Tayangan semacam itu bisa dikatakan sebagai bagian dari tindak kekerasan sehingga harus diberhentikan karena jauh dari kenyataan. Tepatnya, kekerasan terhadap mental.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keluhan masyarakat terhadap tayangan yang tidak mendidik sepantasnya menjadi bahan refleksi pengelola televisi. Pihak pengelola televisi perlu melakukan refleksi bahwa peran media massa bukan sekadar menghibur. Apalagi mengutamakan bisnis semata. Tetapi, ada peran lain yang tak boleh dilupakan, yakni sebagai sumber informasi yang bermanfaat dan memberikan edukasi kepada masyarakat.
Untuk itulah, pengelola media massa harus memahami benar tanggung jawab besar yang dipikulnya. Terlebih lagi pengelola televisi karena media televisi membawa pemirsanya langsung larut (involve) dalam tayangan yang disaksikannya.
Selain itu, harus kita sadari bahwa pada dasarnya cara berpikir manusia itu visual. Terhadap televisi ibaratnya semua yang ditayangkan itu kemudian seperti tinggal ditelan.
Pengalaman di beberapa negara maju munculnya tayangan berkualitas tidak sekali jadi. Bahkan di Inggris, setiap tahun kode etik dievaluasi dan disesuaikan dengan perkembangan masyarakat. Terutama tayangan yang menimbulkan hal-hal negatif bagi masyarakat banyak dikurangi sesedikit mungkin.
Pada dasarnya jalan keluar untuk mencapai perbaikan kualitas tayangan sudah kita miliki. Bukan hanya ada Departemen Komunikasi dan Informatika. Tetapi, juga ada Komisi Penyiaran Indonesia, ada Asosiasi Televisi Swasta Indonesia, dan juga Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia.
Dengan hadirnya lembaga tersebut seharusnya ada dialektika, interaksi, dan juga komunikasi yang bisa saling melengkapi agar dicapai kualitas tayangan yang mencakup tiga hal utama, yakni menghibur, menyediakan informasi, dan memberikan edukasi.
Rofiqoh Hadiyati
Mahasiswi FIP Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)
(msh/msh)











































