Adakah yang Salah dengan Pendidikan Indonesia

Adakah yang Salah dengan Pendidikan Indonesia

- detikNews
Jumat, 13 Jun 2008 08:47 WIB
Adakah yang Salah dengan Pendidikan Indonesia
Jakarta - Sudah jamak dimengerti jika maju mundurnya peradaban bangsa amat ditentukan oleh seberapa baikkah mutu pendidikan yang diselenggarakan. Kita pun tentu memahami bahwa pendidikan merupakan sebuah upaya untuk menegaskan identitas manusia dan kemanusiaan yang dilakukan penuh kesadaran dan mengarah pada suatu tujuan.

Antara kepemilikan kesadaran dan tujuan itu terbentang proses sepanjang hayat. Melalui pendidikan ditegaskan bahwa manusia yang hidup di permukaan bumi memiliki tujuan. Manusia diciptakan tidak dalam kesia-siaan. Namun, bertugas mengelola muka bumi demi terwujudnya kemakmuran dan kesejahteraan bagi kehidupan manusia itu sendiri.

Kepemilikan kesadaran bersifat subyektif. Dalam arti individu manusia yang menyadari urgensi pendidikan akan secara sukarela mendidik dirinya. Kepemilikan kesadaran juga terkait dengan potensi dan kemampuan individu manusia bersangkutan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Potensi kebaikan dan ketidakbaikan yang telah disadari oleh individu manusia selanjutnya dikembangkan atau tidak dikembangkan melalui proses pendidikan sampai menjadi "manusia untuk kehidupan bersama". Dengan kata lain, proses pendidikan diarahkan untuk mengembangkan potensi kebaikan sembari meminimalisir dan perlahan meniadakan potensi ketidakbaikan dalam diri individu manusia.

Adapun arahan dari pengembangan potensi kebaikan tersebut adalah menjadikan individu manusia mampu mengelola alam semesta secara benar dan bertanggung jawab. Jadi, kemampuan manusia mendayagunakan potensi kebaikan dalam mengelola alam semesta merupakan tujuan dari penyelengaraan proses pendidikan.

Meminjam konsep pendidikan dari Ki Hajar Dewantara pendidikan pada dasarnya hanya suatu tuntunan di dalam hidup tumbuhnya individu manusia. Pendidikan dilakukan untuk menuntun segenap kekuatan kodrat mereka agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.

Adapun maksud dari kekuatan kodrat itu adalah keadaan asli individu manusia setelah lahir ke dunia sebelum terpengaruh oleh keadaan luar. Dalam teori konvergensi, pembawaan lahir dan pengalamaan lingkungan akan berpengaruh terhadap perilaku dan kepribadian setiap individu manusia.

Oleh karena itu, kekuatan kodrat setiap individu manusia harus mendapatkan pendidikan yang baik sebagai pengalaman empiris agar individu manusia tersebut tumbuh berkembang menjadi manusia paripurna.

Perlu diingat dalam membimbing dan menuntun individu manusia tentu tak terlepas dari haluan. Ki Hajar Dewantara pernah menjelaskan hal ini. Kata beliau, jika individu manusia tidak baik dasarnya tentulah kita mengerti bahwa ia harus mendapatkan tuntunan agar bertambah baiklah budi pekertinya.

Individu manusia yang tidak baik dasar jiwanya dan tidak memperoleh tuntunan pendidikan tentu akan mudah menjadi orang tidak baik. Meskipun individu manusia sudah baik dasarnya tetap saja perlu tuntunan.

Tuntunan yang diberikan tersebut bukan saja menjadikan kecerdasannya tinggi dan luas. Tetapi, juga melepaskan individu manusia dari pengaruh jahat. Pengalaman hidup pun mengajarkan adanya individu manusia yang dasarnya baik menjadi orang tidak baik akibat pengaruh-pengaruh buruk.

Menyaksikan fenomena kehidupan yang silang sengkarut saat ini pendidikan tentu tak bisa diabaikan dalam melakukan perubahan ke arah lebih positif. Di sinilah tujuan pendidikan yakni sebagai abdi Tuhan dan pengelola alam semesta sedini mungkin harus diinternalisasi dalam proses pendidikan.

Ada konsep tri pusat pendidikan dari Ki Hajar Dewantara yang sedikit dilalaikan orang-orang Indonesia. Dijelaskan bahwa lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat merupakan wahana untuk mendidik individu manusia. Dengan demikian, konsep awal membentuk individu manusia agar menjadi abdi Tuhan dan pengelola alam semesta harus disemaikan mulai dari lingkungan keluarga.

Pendidikan individu manusia mutlak dijadikan orientasi pendidikan dari lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Mengapa pendidikan terhadap individu manusia sangat perlu?

Hal ini jelas karena cita-cita mewujudkan tatanan ideal bagi negeri ini akan sulit tercapai jika individu-individu manusia di dalamnya belum memiliki kesadaran terhadap pentingnya perbaikan. Pendidikan terhadap individu manusia bukan berarti mengedepankan sikap mengutamakan kepentingan diri sendiri.

Pemahaman komprehensif terhadap eksistensi manusia dan kehidupan mengharuskan pendidikan mengembangkan tanggung jawab sosial pada setiap individu manusia. Individu manusia melalui pendidikan ditantang secara sosial untuk dapat menjadi inisiator dan aktor perbaikan dalam masyarakat-bangsa.

Jika pendidikan tidak melahirkan individu-individu manusia yang memiliki kepedulian, kepekaan sosial, dan cenderung apatis terhadap kehidupan, maka proses pendidikan dapat dikatakan belum menuai titik keberhasilan. Dengan kata lain individu manusia yang baik akan menciptakan masyarakat-bangsa yang baik.

Masyarakat-bangsa yang adiluhung akan tercipta disebabkan individu-individu manusia yang membentuk masyarakat-bangsa memahami dan memiliki kemampuan mengimplementasikan konsep adiluhung dalam kehidupannya. Terbentuknya masyarakat-bangsa adiluhung dengan sendirinya akan mampu mewujudkan tatanan Indonesia yang adiluhung pula.

Lalu, adakah yang salah dengan pendidikan Indonesia? Mengapa seolah-olah bangku pendidikan formal di negeri ini tiada henti menjadi "produsen koruptor-koruptor?"

Kasus kerusakan lingkungan juga tak lepas dari ulah individu manusia yang menghuni permukaan bumi. Tentu saja contoh yang disebutkan itu hanya sedikit gambaran dari perilaku tidak bertanggung jawab manusia. Kita pun bisa menemukan contoh lainnya yang mencerminkan ketidakbijaksanaan individu manusia ketika mendiami muka bumi ini.

Entah apa yang kita rasakan. Memandang Indonesia ke depan sepertinya melahirkan sikap pesimistis. Ketidakberesan mengelola negara telah menjadi mata rantai dari generasi ke generasi tanpa pernah tahu kapan terputusnya. Namun demikian, kita tetap yakin bahwa pendidikan merupakan "senjata utama" untuk membangkitkan republik ini dari keterpurukan dan keterbelakangan.

Melalui pendidikan kita percaya akan lahir manusia-manusia Indonesia yang mampu membangun negeri ini lebih gemilang. Melalui pendidikan, kita memang menaruh harap. Ketika negeri ini dipenuhi dengan perilaku korupsi kita bercita-cita melahirkan generasi antikorupsi melalui pendidikan.

Ketika negeri ini penuh dengan manusia-manusia tak ramah lingkungan kita mendambakan lahirnya generasi cinta lingkungan melalui pendidikan. Melalui pendidikan kita memang mengharapkan lahirnya generasi cerdas, tangguh, mandiri, dan bernurani untuk membangun Bumi Pertiwi. Wallahualam.

Hendra Sugiantoro
Akademikus di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)
(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads