Patut dipertanyakan apakah institusi-institusi sosial dan politik sudah siap melakukan perubahan paradigma berdemokrasi dalam lingkup internal? Baik di kalangan parpol, ormas, orsos, organisasi bernuansa keagamaan, dan lain-lain masih menampakkan konfliknya. Ini persoalan mendasar dan patut diungkap sekaligus digugat bilamana diharapkan sebuah perubahan sistem demokrasi substansial.
Belum lepas dari ingatan konflik internal yang dialami sesama anak bangsa, perpecahan di dalam tubuh parpol (baca: lahirnya parpol sempalan), hingga FPI versus AKKBB (insiden Monas, 1 Juni 2008). Ini semuaΒ tidak bisa disebut sebagai peristiwa biasa. Apalagi hanya disebut sebagai dinamika sosial-politik di negeri tercinta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari sepintas paparan di atas maka saya pesimis terhadap perkembangan politik di Indonesia. Khususnya dalam perspektif demokrasi yang sedang dibangun. Bukan pula tidak mungkin jika gejala demikian masih berlangsung maka pola-pola otoritarian akan kembali mewarnai kehidupan politik di negeri ini. Wait and see ... !
Joko Martono
Mahasiswa S2 Ilmu Politik Konsentrasi Ilmu komunikasi
Fisipol UGM Bulaksumur Yogyakarta 55281
martono_jk@yahoo.com
08886922826 (msh/msh)











































