Budaya Latah dan Amnesia (Malah Sibuk Mengurusi Monas)

Budaya Latah dan Amnesia (Malah Sibuk Mengurusi Monas)

- detikNews
Senin, 09 Jun 2008 06:53 WIB
Budaya Latah dan Amnesia (Malah Sibuk Mengurusi Monas)
Jakarta - Miris dan Nelangsa. Dua hal yang terbersit dan membekas di hati saat semua media tertuju pada kasus Monas. Hampir semua media baik televisi, radio, koran, maupun majalah semua mengulas beritanya sampai detil. Berbagai kalangan turut urun rembug membahas dan mengomentari menurut pemikiran dan versi masing-masing yang lebih bersifat subyektif.

Semakin banyak diulas semakin miris hati ini. Bukan miris atas peristiwa Monasnya. Tetapi, "betapa cepat mata dan hati berpaling" dari masalah yang belum tuntas ke masalah yang lain. Lihat saja masalah di belakang mulai dari masalah ekonomi, sosial, budaya seperti:
- Persediaan beras yang sangat menipis sehingga mengharuskan kita impor dari negara lain dan hal ini menjadi berbanding terbalik dengan Thailand.
- Distribusi tabung elpiji 3 kg di lapangan yang banyak dipungli.
- Kelangkaan dan naiknya harga minyak tanah sedangkan subsidi gas elpiji belum merata pada masyarakat tidak mampu.
- Bencana alam di berbagai daerah yang belum pulih secara psikologis dan ekonomi.
- Bentrokan antar suku dan agama di beberapa daerah.
- Masalah TKI Malaysia yang kompleks karena kurangnya lapangan kerja di negeri sendiri.
- Meningkatnya angka pengangguran dari tahun ke tahun karena banyaknya perusahaan gugur akibat tidak mampu bersaing dengan harga jual di luar negeri.
- Kenaikan harga BBM (Bahan Bakar Minyak) yang sudah pasti menyumbangkan penderitaan masyarakat semakin berat.

Dan, masih banyak rentetan masalah lain yang terlalu panjang untuk diurai.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ironisnya hanya dalam hitungan jam masalah-masalah itu seolah-olah tenggelam dan terlupakan dan kita semua menjadi Amnesia. Ingatan kita dituntun untukΒ  melihat hanya satu masalah yang ada di depan mata. Kembali budaya latah masyarakat Indonesia berjangkit dan berbondong-bondong mengulas hal yang sama pula. Sehingga hal ini terkesan lari dari
permasalahan sebelumnya yang lebih kompleks dan belum tuntas terselesaikan.

Ibu rumah tangga dan anggota masyarakat biasa yang merasakan dan melihat langsung betapa berat beban ekonomi dan psikologis yang ditanggung dengan berbagai peristiwa kompleks di negeri ini. Dan menjadi semakin nelangsa dan merasa terlantar manakala tak seorang pun peduli dan malah sibuk mengurusi Monas.

Oleh karenanya seyogyanya kita bisa lebih dewasa menyikapi setiap permasalahan yang timbul. Jangan terlalu mendramatisir dan memelintir keadaan sehingga melupakan permasalahan utama yang jauh lebih penting. Suara ini hanya sentilan kecil untuk mengingatkan saudara-saudara kita agar meninggalkan budaya latah dan lebih dewasa dalam memahami dan mengedepankan setiap masalah.

Wiwik Herawati
Raya Margorejo No 04 Surabaya
wiwikh@yahoo.com
0818312011

(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads