Padahal, jika meneliti lebih dalam, berbagai persyaratan yang berlaku di masing-masing operator pada inti hitungannya hampir sama antara tarif normal per menit dan tarif normal per detik. Bahkan, ada sederet persyaratan yang harus dipenuhi jika ingin mendapatkan tarif murah tersebut.
Sementara itu, konsumen cenderung menelan mentah-mentah informasi dan menganggap permainan harga tersebut sangat murah dan menguntungkan. Tanpa kita sadari, para provider sengaja memanfaatkan situasi ini dengan meraup keuntungan sebesar-besarnya dari konsumen. Memang bukan hal yang asing jika Indonesia dikenal sebagai bangsa konsumtif yang tentu saja perilaku konsumtif ini memudahkan para pelaku bisnis untuk melebarkan sayap mereka dan mengeruk laba sebanyak-banyaknya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Agaknya masyarakat sebagai konsumen perlu selektif dalam menyikapi penurunan tarif besar-besaran para operator seluler yang sedang menjadi akhir-akhir ini. Apa pasal? Seharusnya, promo iklan yang digembor-gemborkan berbanding lurus dengan layanannya. Namun, yang terjadi adalah tarif pulsa yang gila-gilaan murahnya ternyata tidak diimbangi dengan pemberian kualitas layanannya.
Sehingga, relevansi penurunan tarif besar-besaran patut kita pertanyakan. Nah, berikut ini adalah sejumlah "daftar keburukan" yang sering dilakukan oleh para operator seluler.
Pertama, jaringan sering kali mengalami gangguan. Kasus yang cukup aktual saat ini adalah kemacetan traffic di beberapa daerah tertentu akibat diluncurkannya tarif murah. Kurangnya prediksi antara ledakan jumlah traffic yang tiba-tiba muncul akibat momen tertentu dengan kemampuan kapasitas yang dimiliki jaringan tersebut sering kali menjadi akar masalah terjadinya gangguan. Padahal kasus ini murni kesalahan teknis dari si operator itu sendiri yang tidak mampu mengantisipasi kejadian-kejadian tersebut.
Kedua, iklannya sering menyesatkan. Menyesatkan dalam arti iklan-iklan tersebut sering kali kurang lengkap sehingga tidak sesuai dengan benak pengguna. Jika kita cermati, perhatikan iklan yang menampilkan harga pulsa Rp 1 per detik dan ternyata tidak sepenuhnya Rp 1 per detik. Pulsa dengan harga tersebut hanya berlaku di daerah tertentu. Namun, di daerah lain hitungan Rp 1 tidaklah murni Rp 1 seperti yang digembar-gemborkan.
Seharusnya para operator tersebut sadar bahwa media iklan memiliki magnitude yang sangat kuat dan luas. Apabila iklan menyesatkan itu disiarkan, maka bisa dibayangkan efeknya. Apalagi tarif pulsa yang gila-gilaan murahnya itu hanya merupakan tarif promosi yang memiliki batasan waktu. Ironisnya lagi, persaingan antar operator melalui iklan-iklan terkesan tidak sehat karena saling menjatuhkan.
Ketiga, layanan terhadap komplain konsumen tidak memuaskan. Saat kita membaca media cetak di halaman surat pembaca, maka sering kali mendapati komplain-komplain yang berkaitan dengan layanan operator seluler.
Keempat, hitungan pulsa terkadang tidak konsisten dan diskriminatif. Tidak konsisten dalam arti sering kali mengubah hitungan waktu pulsa maupun tarifnya. Dan yang lebih menyebalkan lagi, tarif pulsa antaroperator sering kali sangat mahal dibanding tarif pulsa antarsesama operator. Sehingga carut marut pentarifan memusingkan dan membingungkan konsumen.
Kelima, promo yang ditawarkan menjebak konsumen dengan berbagai syarat. Mungkin syarat dan ketentuan yang berlaku bukan menjadi sebab. Tapi, sering kali hal tersebut tidak pernah disosialisasikan secara terbuka. Akhirnya yang ada adalah masyarakat merasa terjebak atau dikadali.
Melihat fenomena yang terjadi, tampaknya masyarakat sebagai konsumen perlu selektif dalam mencerna informasi dari iklan-iklan semacam itu. Caranya, dengan menggunakan produk berdasarkan kebutuhan. Bukan penawaran atau trend karena pada dasarnya setiap produk memiliki kelebihan dan kekurangan yang berbeda-beda, sehingga konsumen bisa memilih produk mana yang paling sesuai dengan kebutuhannya.
Rofiqoh Hadiyati
Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)
(msh/msh)











































