Setelah BBM Naik Lalu Apa

Setelah BBM Naik Lalu Apa

- detikNews
Jumat, 30 Mei 2008 07:48 WIB
Setelah BBM Naik Lalu Apa
Jakarta - Beberapa hari pasca kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) sebesar hampir 30 persen oleh pemerintah pemberitaan yang muncul di berbagai media massa cetak dan elektronik hanya seputar konflik elit politik, demo-demo mahasiswa, sampai dengan teknologi energi alternatif.

Hampir setiap hari di televisi-televisi swasta muncul berbagai elit politik, pakar, mantan pejabat, pengamat, mahasiswa, saling debat mempertahankan argumentasi, saling ngotot, bicara keras, dan masing-masing merasa paling benar. Sebuah tontonan yang mungkin bagi masyarakat tidaklah penting.

Padahal meski mereka saling ngotot dan menyalahkan harga minyak dunia tidak akan turun juga. Debat mereka tidak serta merta meningkatkan produksi minyak kita. Masyarakat di bawah yang terkena imbas kenaikan BBM pun juga tidak menjadi kanyang melihat acara itu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ada anggapan bahwa debat dan saling adu otot menunjukkan sebuah demokrasi. Di Amerika Serikat sebagai Mbahnya demokrasi debat menjadi sebuah hal yang lumrah. Namun, di Indonesia di saat masyarakat masih dalam kondisi yang memprihatinkan debat di kalangan elit politik dengan saling menyalahkan seakan hanya menambah beban bagi masyarakat.

Musyawarah kini bukan lagi menjadi sebuah pilihan dalam menyelesaikan masalah. Padahal, dengan komunikasi yang bersifat humanistik banyak persoalan yang bisa diselesaikan dengan baik. Orang Surabaya mengatakan "yak opo enake?" (enaknya bagaimana). Dengan mengedepankan "bagaimana sebaiknya", maka akan tercapai win-win solution bagi pihak-pihak yang merasa kurang puas.

Selain debat kusir yang melelahkan dan banyak tanpa hasil kini aksi demo massa marak di berbagai daerah. Mahasiswa berada di barisan depan dalam melakukan aksi-aksi demo tersebut didukung oleh barisan buruh dan sopir angkutan. Jika, aksi demonstrasi sebagai wujud demokrasi dijalankan dengan tertib dan teratur maka akan menjadi sebuah jalan yang baik dalam menyampaikan aspirasinya.

Namun, kini yang terjadi, aksi-aksi demo yang dilakukan berubah menjadi anarkis. Aksi saling pukul, pelembaran batu, bom molotov, serta pemblokiran jalan menjadi pemandangan biasa dalam setiap aksi demonstrasi. Kini aksi yang bertujuan mengajak masyarakat bersimpati terhadap penolakan kenaikan BBM berubah menjadi antipati terhadap aksi mahasiswa tersebut karena justru merugikan masyarakat itu sendiri.

Tengok saja kejadian di Kamus Unas. Masyarakat akhirnya menolak aksi-aksi anakis karena dianggap meresahkan masyarakat sekitar. Aksi di Kampus Moestopo dengan melakukan aksi kekerasan terhadap seorang aparat.

Akhirnya menimbulkan caci maki dan kebencian terhadapย  mahasiswa karena dianggap tidak terpelajar. Dan aksi di depan Kampus UKI dengan memblokir jalan, akhirnya menjadikan masyarakat marah karena apa yang dilakukan mahasiswa malah mengganggu ketertiban umum.

Dengan serangkaian kejadian tersebut, pasca kenaikan harga BBM, Lalu apa yang harus kita perbuat? Lalu apa yang harus dilakukan pemerintah? Lalu apa yang harus dilakukan elit politik? Sebenarnya banyak hal yang bisa dilakukan pasca kenaikan BBM tersebut.

Sebut saja pemerintah. Pasca kenaikan harga BBM ini pemerintah harus benar-benar mengalokasikan dana kompensasi akibat kenaikan harga BBM ini. Dengan survei yang tepat maka dana yang dibagikan bisa tepat sasaran. Tidak ada lagi orang kaya yang mendapat subsidi dari pemerintah tapi subsidi benar-benar diberikan kepada rakyat yang benar-benar membutuhkan.

Pemerintah juga harus tegas kepada pihak-pihak yang menolak menyalurkan dana ini. Pemerintah daerah seharusnya mensupport kebijakan pemerintah pusat ini karena masyarakat memang membutuhkan dana BLT (Bantuan Langsung Tunai) ini akibat melonjaknya harga-harga kebutuhan pokok. Dan, jangka panjangnya, pemerintah harus menciptakan lapangan pekerjaan sebagai pengganti bantuan dana yang bersifat sementara ini.

Selain itu, jika kita tidak mau pasrah dengan kenaikan harga minyak mentah dunia ini pemerintah harus serius untuk mencari sumber-sumber energi alternatif. Niat baik pemerintah untuk mencari sumber-sumber energi baru harus tetap dihargai dan didukung. Kini saatnya para pakar dan ahli berperan untuk menciptakan dan menemukan energi alternatif yang tepat bagi masyarakat.

Pertanyaan awam yang selalu muncul adalah Indonesia sebagai negara yang kaya dengan kekayaan alam tapi belum bisa mensejahterakan masyarakatnya. Ada apa dengan semua ini?

Mungkin saja ada salah pengelolaan yang dilakukan pemerintah (termasuk pemerintah-pemerintah sebelumnya). Mungkin ada yang salah dengan kontrak-kontrak karya antara pemerintah dengan pihak asing, atau mungkin memang kekayaan alam kita yang kian hari-kian menyusut. Ini adalah pekerjaan besar bagi pemerintah berkuasa untuk mencari tahu mengapa kita negara kaya namun masih belum sejahtera.

Anjuran pemerintah kepada masyarakat untuk melakukan penghematan energi terkadang tidak ditanggapi secara serius. Dari tayangan televisi sering dimunculkan gedung-gedung pemerintah yang tidak melakukan penghematan energi.

Lihat saja para pejabat negara kita yang masih menggunakan kendaraan-kendaraan ber-cc besar yang tentu sangat boros terhadap BBM. Lihat saja kemacetan yang selalu saja terjadi. Betapa setiap hari kita membuang BBM kita dengan sia-sia.

Ajakan penghematan ini harus dipahami dengan benar oleh kita semua. Terkadang dengan alasan kita mampu membayar, maka kita tidak memperdulikan terhadap pemborosan energi yang kita lakukan.

Selain pemerintah, apa yang bisa dilakukan oleh politisi dan pejabat kita? Kenaikan harga BBM tentu sebuah kebijakan yang tidak disukai oleh siapa pun karena berimbas terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok lainnya. Dengan tidak banyak bicara, politisi, dan pengamat harus memberikan pengetahuannya untuk support pemerintah bagaimana agar dampak kenaikan ini tidak membebani masyarakat.

Namun, kini yang terjadi banyak pihak yang menggunakan kenaikan harga BBM ini sebagai cara untuk menjatuhkan pemerintah. Bahkan disinyalir ada pihak yang memanfaatkan kondisi kemiskinan dan gejolak ini untuk kepentingan politik. Sungguh ironis. Jika kita mau negara ini bersama-sama maju ayo kita bangun dengan semangat kebersamaan tanpa saling menjatuhkan.

Mahasiswa sebagai penerus bangsa diharapkan mampu melihat berbagai persoalan bangsa ini secara jernih dan dewasa. Aksi demonstrasi merupakan suatu yang sah dilakukan jika menjunjung tinggi moralitas. Sebagai pihak yang masih belajar diharapkan mampu mencarikan solusi terhadap bangsa ini dan bukan menambah permasalah bangsa yang memang sudah multikompleks ini.

Dan bagi masyarakat kenaikan BBM ini memang menjadi pukulan berat bagi kita semua. Namun, ini yang harus kita hadapi sebagai sebuah negara. Tentu saja kita berhadap pemerintah mampu memberikan yang terbaik untuk mensejahterakan seluruh rakyat Indonesia.

Atur Toto Sulistyanto
Wisma Kodel Lt 2 Jakarta
atur@swara.tv
08999990207
(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads