Celakanya, di negeri kita keduanya belum ada. Yang ada baru "one man one vote and people vote directly their own leader". Persoalannya adalah dampak psikologis yang tidak bisa dihindarkan.
Dampak psiologis itu diakibatkan oleh belum siapnya masyarakat menerima perbedaan pandang terhadap sebuah fonomena yang rakyat sendiri menjadi obyeknya. Adalah tidak mudah, memang, untuk membangun kearifan sikap dan mentalitas masyarakat karena kompleksnya persoalan yang terjadi di masyarakat akibat ulah politikus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bentuknya adalah perasaan takut masyarakat terhadap dampak negatif isu kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) seperti melambungnya harga-harga komoditi lain yang berlebihan. Kedua, rakyat menjadi korban pemiskinan status dengan adanya Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang tetap dijalankan pemerintah.
Ironisnya baik pemerintah maupun penentangnya keduanya sama-sama ingin dan mengatasnamakan rakyat, dalam rangka melindungi rakyat. Keduanya tidak ingin rakyat menjadi korban. Tetapi, akibatnya rakyat tetap menjadi korban. Baik naik atau tidak naik BBM saya jamin rakyat tetap menjadi korban.
Jika naik, rakyat jadi korban naiknya harga sembako. Sementara jika tidak naik rakyat akan menjadi korban janji-janji politikus yang tetap merasa membela kepentingan rakyat. Tetapi, dengan memberi peluang lebih besar pada kaum neokapitalis.
Sebenarnya, sudah saatnya kita semua dewasa dalam bentuk tetap tidak anarkis dalam mensikapi semua persoalan di negeri ini. Dalam hal mengantisipasi niat pemerintah tetap menaikan BBM, seyogyanya para elit dan ahli di bidangnya harus sudah siap membuat action plan untuk menyeimbangkan dampak kenaikan BBM. Misalnya dengan memaksimalkan fungsi kepolisian dan militer dalam memberantas penyelundupan BBM ke luar negeri. Karena sekalipun BBM naik, tetap saja harganya masih di bawah pasar dunia.
Di Thailand (saat saya masih di sana bulan Januari dan Februari) harganya berkisar 30 baht, yang juga setara dengan hampir satu dollar AS per liter. Di AS harganya terus membumbung dan berkisar dari 3,50 U$/ gallon hingga 4 U$ / gallon terutama di California.
Sekalipun dinaikan, kita perlu waspada dengan adanya penyelundupan ke negara negara tetangga yang harganya jauh di atas kita. Dalam hal ini tidak ada buruknya jika mengaktifkan tentara dan memaksimalkan Polri dengan pihak terkait dalam pemberantasan penyelundupan.
Tentunya dalam setiap operasi harus selalu membawa media dan LSM yang mengawasi agar tidak terjadi kong kalikong oknum tentara dan polisi yang juga diduga menjadi penyelundup, di samping dengan adanya pengusaha nakal. Usaha lainnnya adalah peninjauan kembali anggaran pemerintah di bidang lainnya dan pemebrantasan korupsi yang merajalela. Termasuk korupsi di Senayan.
Melihat demo di mana mana, bahkan tidak sedikit yang mengarah ke anarkis dan vandalisme, bahkan antar mahaiswa pun nyaris saling bentrok, saya prihatin atas kedewasaan bangsa ini. Sekaligus hal ini mengingatkan saya pada sebuah kalimat dari Jamal Abdul Nasir, tokoh Mesir yang terkenal: "Saya tidak takut memimpin revolusi tetapi saya takut jika revolusi telah memimpin rakyat dan pasti tidak akan terkendali."
Dalam hal Indonesia, saya takut kalau rakyat kemudian khilaf karena dibayangi perut lapar dan perasan kalut serta emosi sehingga keduanya akan mendorong mereka terjerumus dalam revolusi. Semoga tidak. Saya hanya mengingatkan jika BBM naik saya tidak setuju. Tetapi, bukankah rakyat juga yang dulu memilih SBY-JK?
Jeritan dari Vermont, USA
Dedi Turmudi
21 Williston St Brattleboro
tdeditur@gmail.com
8025792109 (msh/msh)











































