Kaum Muda dan Momentum 100 Tahun Kebangkitan Nasional

Kaum Muda dan Momentum 100 Tahun Kebangkitan Nasional

- detikNews
Rabu, 14 Mei 2008 08:19 WIB
Kaum Muda dan Momentum 100 Tahun Kebangkitan Nasional
Jakarta - "Beri padaku sepuluh pemuda dan aku sanggup mengguncangkan dunia ini!" Ucapan yang pernah disampaikan oleh mantan Presiden Sukarno dalam salah satu pidatonya itu bukanlah sekedar pepesan kosong. Beliau menyadari betapa vital dan dahsyatnya potensi dari kaum muda. Benedict Anderson (1990) pun pernah mengungkapkan bahwa goresan sejarah negara Indonesia berdasarkan lembaran sejarah kepemudaannya. Pernyataan ini tidaklah salah apabila dikaitkan dengan sejarah panjang Indonesia.

Perjuangan bangsa Indonesia sejak dari zaman penjajahan selalu menempatkan para pemuda sebagai tokoh strategis dari setiap peristiwa yang terjadi. Gerakan Budi Utomo tahun 1908, dilanjutkan Sumpah Pemuda pada tahun 1928, hingga puncaknya kemerdekaan Indonesia 1945, para pemuda selalu terlibat di dalamnya.

Peran tersebut juga tetap disandang oleh para pemuda hingga saat ini. Jatuhnya pemerintahan "The Smiling General" Soeharto pada tahun 1998 seakan makin mengukuhkan peran serta kaum muda dalam membawa bendera perubahan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kini, sepuluh tahun sudah bangsa Indonesia mengalami reformasi. Transisi dari zaman Orde Baru hingga reformasi saat ini belum menunjukkan hasil dari reformasi yang sesungguhnya. Kesejahteraan rakyat adalah hasil mutlak yang diimpikan oleh semua pihak. Lalu hingga saat ini, mimpi tersebut tinggallah mimpi. Transisi hanya melahirkan transisi istilah dari Orde Lama menuju Orde Baru dan Orde Baru ke Orde Reformasi tanpa melahirkan transisi kepemimpinan yang sesungguhnya.

Pemerintah yang berkuasa cenderung melakukan penyimpangan dengan kekuasaan yang dimilikinya. Hal ini disebabkan rendahnya pendidikan politik rakyat yang seharusnya menjadi stakeholder bangsa yang secara aktif mengontrol dan mengkritisi jalannya pemerintahan.

Di sinilah peran kaum muda sebagai agent of change (agen perubahan) sekaligus agent of social control (agen kontrol sosial) menjadi sangat vital dalam upaya mengontrol para penguasa dan pembuat kebijakan. Karena jika pemimpin dianggap belum mampu memberikan maslahat maka tugas sebagai kaum muda mengingatkan dan mengkritisinya. Bukan sebaliknya apatis dan tidak perduli.

Sindrom Perubahan
Fenomena lapar akan perubahan dan haus akan kepemimpinan muda mulai bermunculan di masyarakat. Gejala ini muncul karena rakyat kini sudah semakin anti dengan status quo yang terbukti tidak dapat meningkatkan taraf kesejahteraan.

Kecenderungan untuk perubahan pun telah nyata dimulai dari kemenangan pasangan muda di pilkada (pemilihan kepala daerah) Jawa Barat,
Hade (Ahmad Heriyawan dan Dede Yusuf), sebagai pemenang di mana masing-masing dari mereka masih berumur cukup muda, 41 tahun. Kemudian gejala ini merembet ke daerah lain, Sumatra Utara. Dua kemenangan ini memang secara jelas memberikan sinyal kepada para politisi senior untuk tahu diri dan memahami kebutuhan masyarakat akan lahirnya para pemimpin pemimpin muda.

Ketika menjadi pembicara utama dalam "International Indonesian Student Conference 2008" di Malaysia pada tanggal 5 Mei 2008, Ketua MPR RI, Dr Hidayat Nur Wahid menyampaikan betapa pentingnya kaum muda membangun bangsa. Kaum muda diharapkan bukan hanya pandai menuntut untuk diberikan jatah tapi juga harus memiliki visi, misi, dan komitmen yang kuat untuk berbakti kepada bangsa dan negara.

Beliau juga menambahkan bahwa sebetulnya peluang untuk berbakti di negara ini sudah sangat terbuka lebar. Kaum muda juga diminta aktif untuk menjadi duta yang baik bagi negaranya karena peran sentral kaum muda yang dalam hal ini mahasiswa dapat menjadi ujung tombak yang sangat efektif untuk memperkenalkan Indonesia di negara-negara tempat mereka belajar.

Kaum muda mempunyai tiga peran utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini. Pertama, kaum muda adalah generasi penerus suatu bangsa. Generasi akan terus berganti dan pemuda adalah generasi penerus yang secara teguh dan konsisten melanjutkan perjuangan yang telah dirintis generasi sebelumnya. Kedua, kaum muda sebagai generasi pengganti suatu bangsa. Generasi pengganti yang bertujuan untuk mengganti para generasi tua yang telah rusak. Ketiga, kaum muda sebagai generasi pembaharu suatu bangsa. Inilah peran yang sangat vital yang harus dilakukan oleh kaum muda karena berfungsi sebagai generasi pembaharu untuk mewujudkan kemakmuran bangsa.

Kaum muda selama ini diidentikkan dengan kaum yang idealis, dinamis, dan masih steril dari pengaruh kekuasaan status quo. Hal inilah yang menjadi keunggulan kaum muda dibanding dengan kaum tua meskipun dari segi pengalaman memang belum sehebat para kaum tua. kaum muda dilihat lebih memiliki harapan untuk melakukan perubahan jika dibandingkan dengan kaum tua yang memang telah nyata gagal pada sekarang ini.

Namun, yang sekarang menjadi pekerjaan rumah adalah bagaimana mencetak generasi muda yang memang diharapkan untuk membawa perubahan bagi bangsa ini. Tongkat estafet kepada generasi muda untuk merebut kepemimpinan nasional jangan sampai diserahkan kepada kaum muda yang tidak memiliki kemampuan dan kapabilitas. Konsep the right man in the right place yang menempatkan seseorang pada tempat di mana keahliannya harus tetap diimplementasikan.

Untuk mencari kaum muda sangatlah mudah. Tapi, untuk mencari kaum muda yang berkualitas itu cerita lain. Pemuda yang cerdas secara intelektual itu banyak. Tapi, mencari pemuda yang cerdas secara intelektual, emosional, dan spiritual itu hal yang langka. Mencetak generasi muda yang memiliki semangat berkobar, integritas tinggi, dan sanggup mengguncangkan dunia seperti yang dicita-citakan mantan Presiden Sukarno memang bukanlah pekerjaan mudah.

Pengaruh lingkungan sekitar membawa dampak besar terhadap perkembangan jiwa dan mental pemuda. Iklim sosial-politik yang kondusif dan ditunjang oleh sistem pendidikan yang memadai sangat diperlukan agar regenerasi kepemimpinan terus berjalan.

Selain itu, regenerasi kepemimpinan dari kaum tua ke kaum muda harus didasari oleh semangat kejujuran dan fair-based competition, di mana kaum muda yang memang memiliki kemampuan dan kapabilitas yang memadai harus diberikan kesempatan. Selama ini, sistem pemilihan kepemimpinan berdasarkan pencalonan dari partai menghalangi kaum muda untuk muncul ke permukaan dan kaum tua pun juga masih terlihat enggan untuk memberikan kesempatan.

Kaum tua seharusnya mampu menjadi pengayom bagi kaum muda seperti yang terjadi ketika proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Saat itu, setelah melalui tarik ulur dan perdebatan antara kaum muda dengan kaum tua di Rengasdengklok, akhirnya diputuskan bahwa para pemudalah yang akan melakukan deklarasi kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 yang diwakili oleh Soekarno-Hatta.

Relevansi 100 Tahun Kebangkitan Nasional
Tepat pada tanggal 20 Mei 2008 nanti, genap 100 tahun sudah peristiwa pergerakan pemuda pertama melalui organisasi yang bernama Budi Utomo. Budi Utomo lahir dari seringnya pertemuan dan diskusi yang sering dilakukan di perpustakaan School tot Opleiding van Inlandsche Artsen di Belanda oleh para mahasiswa. Para kaum muda yang sedang belajar di Belanda berkomitmen penuh untuk berjuang membela tanah air mereka sendiri.

Mereka menyadari bahwa tidak ada yang akan membela rakyat dan kehormatan tanah air mereka kecuali diri mereka sendiri. Berdirinya Budi Utomo pun menjadi sebuah awal gerakan dengan satu tekad untuk mencapai satu tujuan, yaitu kemerdekaan Indonesia. Hal itu pulalah yang harus dipunyai oleh kaum muda sekarang ini, suatu tekad kuat untuk mengubah bangsa ini ke arah yang lebih baik.

Setiap era mempunyai permasalahan tersendiri dan dibutuhkan suatu solusi yang berbeda pula. Kaum muda pada zaman ini dituntut untuk lebih siap menghadapi tantangan global. Perjuangan melawan penjajahan kini bukan hanya dengan mengangkat senjata melawan Belanda atau Jepang, namun lebih mengerikan dari itu.

Globalisasi dengan sistem kapitalisnya telah membawa tantangan tersendiri. Aturan mainnya pun sederhana, "siapa kuat dia yang bertahan". Namun, ironisnya, dalam sistem kapitalisasi ekonomi dunia saat ini negara-negara maju yang hanya berjumlah kurang dari dua puluh persen ini menikmati delapan puluh persen kekayaan alam di dunia ini dan sisanya diperebutkan oleh negara-negara miskin dan berkembang.

Tantangan-tantangan seperti inilah yang harus terus menerus dipikirkan oleh kaum muda dan dijadikan sebagai cambuk untuk merubah bangsa ini ke arah yang lebih baik. John F. Kennedy (1961) pernah menyeru kepada rakyat Amerika. "Ask not what your country can do for you; ask what you can do for your country". Pernyataan ini juga yang harus ditanyakan oleh setiap pemuda Indonesia kepada dirinya sendiri pada sekarang ini untuk memikirkan apa yang seharusnya bisa diberikan kepada bangsa dan negara ini. Bukan sebaliknya.

Mari, sekaranglah saatnya bersama kita bangkit dari kelalaian dan kelengahan kita selama ini dengan cara meninggalkan segala perdebatan yang tidak bermanfaat. Sekarang saatnya bagi kaum muda untuk menyingsingkan lengan baju bersama dan merebut kepemimpinan nasional dengan elegan dan integritas yang tinggi.

Tahun 2008, bertepatan dengan seratus tahun kebangkitan nasional adalah momentum yang sangat tepat untuk kembali mengobarkan semangat kepemudaan dan mengembalikan semua kebanggaan yang telah luntur sebagai bangsa yang besar, bangsa Indonesia.

Muhammad Assad
University of Technology Petronas Malaysia
Kuala Lumpur
muh_assad@yahoo.com
+6017-6027895

Penulis adalah mahasiswa S1 tahun akhir University of Technology Petronas Malaysia  President of International Student Council of UTP (Senat Internasional)
(msh/msh)


Berita Terkait