Persoalan dalam negri yang membludak seperti air bah rupanya tidak menyurutkan langkah beberapa mantan persiden yang sebelumnya telah gagal memimpin bangsa ini ke arah perbaikan. Bahkan, semakin terpuruk. Untuk mencalonkan kembali menjadi presiden atau orang nomor satu republik ini genderang perang sudah mulai ditabuh bagi siapa saja yang menghalangi langkah tersebut mahma kana (meskipun) masih dalam satu naungan.
Apalagi bukan dalam satu naungan. Miris memang kegagalan memimpin bangsa ini ke arah perbaikan nasib rakyat di masa lalu bukan menjadi bahan introspeksi dan sadar diri terhadap purwadaksi yang ada dan hakekat pemimpin yang sebenarnya ini malah semakin kecanduan. Dengan dalih rakyat masih mempercayai untuk mencalonkan diri jadi presiden, "Rakyat yang mana Bung dan Nyak?"
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Begitu elokkah jabatan yang diperebutkan hingga kegagalan demi kegagalan, rentannya usia, dan putihnya rambut tidak menjadikan mawas diri dan takut menanggung semua pertanggungjawaban yang semakin dekat di hadapan Illahi. Begitu empukkah jabatan tersebut hingga tidak rela diberikan kepada orang lain yang belum pernah memiliki kesempatan untuk memamerkan kemampuannya sebagai putra bangsa yang mencintai tanah pertiwi ini.
Sikap kesewenang-wenangan terhadap nasib dan harta rakyat telah menjadikan lupa diri bahwa mereka pengayom rakyat bukan perampok rakyat. Gemerlapan kemewahan telah menjadikannya lupa pada posisinya sebagai pelayan masyarakat yang dititipi amanah untuk memperbaiki nasib rakyat yang semakin weure (mabuk) akibat didera kesulitan hidup yang tiada heunti-heuntinya.
Apakah tidak takut jika ratusan ribu korban tsunami Aceh bangkit dan meminta pertanggungjawaban sebagai pemimpin kelak. Apa yang akan dijawab? Jika rakyat yang kehilangan rumah akibat Lumpur Lapindo meminta keadilan di akherat kelak dan bocah-bocah yang meninggal akibat ambruknya sekolah yang sudah tidak layak ditinggali (Naudzubillahi).
Rakyat tidak butuh pemimpin yang pintar dan piawai berpidato hingga dalam berbagai bahasa. Rakyat tidak butuh pemimpin yang berpendidikan tinggi sampai S tiga sekali pun sekolahnya di luar negri atau mendapat gelar cum laude. Rakyat tidak butuh pemimpin yang berpangkat militer tinggi hingga jenderal tapi kerjanya hanya menipu dan memperdayakan rakyat.
Rakyat butuh pemimpin yang mendengar tangisan pilu nasibnya dan mengulurkan tangannya untuk berdiri tegak bersama-sama dalam mengatasi masalah dengan asas kejujuran dan kepercayaan serta kerendahan dan kesederhanaan. Rakyat butuh pemimpin yang mau menyelesaikan pesoalan tsunami Aceh yang tak kunjung tuntas. Rakyat butuh pemimpin yang memberi ganti rugi rumah-rumah mereka yang tenggelam akibat kesembronoan elit-elit pejabat.
Rakyat butuh pemimpin memikirkan masa depan anak-anak bangsa ini dengan membangun
sekolah-sekolah yang hampir ambruk. Rakyat butuh pemimpin yang berani mengambil kebijakan untuk mengkounter harga-harga bahan pokok dan menghilangkan kebijakan pengendalian harga pada kelompok tertentu, hingga harga kebutuhan pokok dapat terjangkau hingga dapat makan nasi putih yang hangat dengan sekerat tempe sudah cukup bagi mereka. Mereka tidak menginginkan sesuatu yang sulit hingga menyulitkan. Bukan begitu?
Oleh karena itu pemimpin yang akan datang harus orang yang memiliki pribadi yang bersih dan jujur. Mengurangi fasilitas-fasilitas para pejabat hingga pasilitas yang selama ini diberikan bisa dialokasikan untuk kepentingan rakyat banyak. Mengkonsentrasikan pada persoalan-persoalan dalam negeri bukan berarti mengabaikan persoalan luar negeri. Tetapi, hanya terbatas yang penting-penting saja.
Pemimpin yang mengalokasikan gaji para pejabat dengan gaji yang cukup plus fasilitas yang sederhana seperti fasilitas mobil yang harganya tidak mahal dan tidak murah. Itu pun harus digunakan pada hari kerja. Rakyat butuh pemimpin yang menjadikan mereka aman hingga mereka tidak perlu berteriak histeris dan turun ke jalan demi mendapat perhatian pemimpin yang sudah tidak mampu melihat keberadaannya.
Adakah calon Pemimpin yang seperti itu? Apakah ada pada calon-calon pemimpin yang sudah bersuara untuk mencalonkan dirinya sebagai presiden? Mudah-mudahan rakyat Indonesia tidak tertipu untuk mempercayakan nasibnya kembali.
Neni Mulyani
mulya69@yahoo.com
Tahrir Kairo
nmkurniasari@plasa.com
6079071 (msh/msh)











































