Bersyukur di Tengah Kesesakan

Bersyukur di Tengah Kesesakan

- detikNews
Senin, 12 Mei 2008 08:08 WIB
Bersyukur di Tengah Kesesakan
Jakarta - Pada saat ini masyarakat Indonesia berada pada masa yang sulit. Harga bahan pokok naik, sulitnya lapangan kerja, tingginya kriminalitas, bencana alam, dan saat ini kita tengah menanti rencana naiknya harga bahan bakar bersubsidi.

Dengan kondisi seperti ini hal pertama yang harus kita lakukan adalah bersyukur atas situasi yang sulit ini. Mengapa kita harus bersyukur di tengah masa-masa yang sulit ini? Jawabannya agar kita dapat melihat masa-masa sulit ini sebagai suatu hal yang positif dan dapat melaluinya dengan mengambil langkah-langkah yang tepat.

Saya ada suatu ilustrasi. Setiap kita pernah mengalami situasi di mana harus melalui satu hari dengan tidak baik. Ketika sarapan pagi kita sudah ketumpahan kopi. Pada perjalanan menuju kantor mobil kita diserempet dan juga ditilang oleh polisi. Dan di kantor kita dimarahi oleh atasan kita.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kejadian buruk ini terus terjadi di sepanjang hari dan terus membayangi kita. Hal ini dapat menyebabkan kita menjadi stres, mudah marah, dan malas melakukan aktivitas. Ketika mengalami situasi seperti ini saya mengintropeksi dan menemukan jawabannya yaitu ketika pagi hari kita mengalami kejadian yang tidak mengenakan biasanya kita meresponnya dengan tindakan yang negatif. Misalnya dengan marah, menggerutu, dan lain-lain.

Hal ini yang menyebabkan kita akan mengalami suasana yang tidak baik di sepanjang hari. Akhirnya saya mengubah sikap dengan selalu merespon setiap kejadian yang tidak mengenakan dengan hal-hal yang positif. Misalnya dengan bersyukur, tersenyum, intropeksi, berhati-hati, dan lain-lain.

Cara seperti ini juga saya terapkan dalam menghadapi masa-masa sulit yang melanda Indonesia. Dengan bersyukur saya lebih bijak dan siap dalam mengambil langkah-langkah yang tepat untuk menghadapinya.

Misalnya ketika harga bahan-bahan pokok naik kami harus memutar otak untuk lebih hemat lagi. Karena makanan (bergizi) tetap menjadi salah satu primadona yang utama di dalam kebutuhan kami. Kami memutuskan untuk mengambil pos yang lain yaitu anggaran untuk berekreasi kami kurangi yang dulunya tiap bulan kami makan di luar tiga kali sekarang menjadi satu kali.

Banyak pos pengeluaran lain yang harus saya 'akali'. Misalnya untuk menghemat BBM kami sekarang berangkat dari rumah jam lima pagi. Bahkan, teman-teman saya mengejek. Kami pergi ke kantor bareng maling pulang sehabis merampok. Saya hanya tertawa saja. Toh, ini membawa hasil yang signifikan (dulu tiap minggu kami harus mengisi 250 ribu sekarang hanya 150 ribu).

Dari hasil penghematan ini saya dapat membeli empat dos bubur untuk anak kami. Begitu juga dalam pola belanja saya. Yang dulu sering berbelanja sekarang saya harus menyeleksi antara barang yang merupakan kebutuhan atau hanya sekedar keinginan. Dan, ada hal yang tidak pernah kami bayangkan yaitu pada masa yang sulit seperti ini justru kami dapat lebih banyak menabung.

Memang pada awalnya sulit untuk bersyukur di tengah situasi yang tidak baik. Tapi, kita harus mencoba dan terus melakukannya. Ketika kita terbiasa melakukannya kita akan mampu melihat situasi sulit bukan suatu hambatan. Tapi, anak tangga yang akan kita lalui untuk menuju kehidupan yang lebih baik.

David
Jl MH Thamrin No 8 Jakarta Pusat
david_l@ristek.go.id
0817102026

(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads