Ketidakpedulian Masyarakat pada Politik

Ketidakpedulian Masyarakat pada Politik

- detikNews
Senin, 05 Mei 2008 07:43 WIB
Ketidakpedulian Masyarakat pada Politik
Jakarta - Banyak pendapat yang menyatakan kekalahan beruntun partai-partai besar dalam pemilihan kepala daerah adalah sebuah anomali. Sebuah penyimpangan dalam sistem kepartaian di Indonesia. Mesin-mesin politik partai tidak berfungsi sebagaimana yang diharapkan. Lalu, apa yang salah?

Bercermin pada berbagai peristiwa politik setelah reformasi fakta tersebut mempunyai sebab yang rasional. Era reformasi memberikan harapan yang besar terhadap berjalan suatu proses demokrasi yang adil dan pemerintahan yang bersih.

Eforia pun meletup ke mana-mana. Hampir semua orang merasa dirinya punya peluang untuk menjadi politisi. Sesuatu yang sebenarnya merupakan hak yang dijamin UUD 1945 tetapi barrier entry-nya terlalu berat untuk ditembus pada masa Orde Baru.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kabar baiknya, pada masa reformasi politisi-politisi baru bermunculan. Demokratisasi seolah-olah berjalan. Sayangnya, kemunculan politisi-politisi tersebut tidak diimbangi dengan performasi yang dijanjikan reformasi. Bahkan, dalam perjalanannya, para politisi baru tersebut berperilaku yang tidak lebih baik daripada politisi-politisi pada masa terdahulu.

Dari sini, muncul istilah "koboi-koboi" Senayan. Sesuatu yang celakanya mengacu pada dunia wild west, di mana hukum hanya berlaku untuk yang kuat, untuk tidak menyebutnya hukum rimba. Aturan main yang disepakati lebih merupakan formalitas untuk menjustifikasi bahwa semua aktivitas dan tindakan adalah demokratis.

Ini "Sakit" namanya. Lagak dan aksi para Koboi Senayan tersebut berpengaruh pada pemerintahan. Proses tawar-menawar antara parlemen dan pemerintah lebih berdasarkan pada soal menjaga prestis atau gengsi. Bukan pada kompromi bagaimana sebuah pemerintahan berjalan dengan efektif sehingga mampu menciptakan kesejahteraan rakyat banyak.

Celakanya lagi, berberapa tindakan politisi adalah bersifat kriminal. Seperti korupsi yang dirancang dengan sengaja misalnya. Atau berbagai masalah yang bersifat negatif lainnya.

Akibatnya masyarakat menjadi antipati. Hal ini ditegaskan dengan rendahnya partisipasi mereka dalam proses politik. Termasuk dalam pemilihan-pemilihan kepala daerah (rata-rata sekitar 70%). Di negara-negara maju, rendahnya partisipasi adalah fenomena biasa. Namun, untuk negara-negara berkembang, fenomena itu adalah anomali.

Biasanya, partisipasi masyarakat sangat tinggi sebab partisipasi itu tidak secara sukarela (voluntarity) tetapi lebih merupakan mobilisasi (mobilized). Jadi, anomali tersebut sebenarnya adalah sesuatu yang tidak mengejutkan. Acuhnya masyarakat adalah bentuk dari ketidakpercayaan terhadap politisi-politisi sekarang.

Isunya bukan dikotomi antara politisi muda atau tua. Tetapi, lebih kepada perubahan itu memang perlu. Jauh lebih penting adalah kepercayaan, rasa aman di tengah-tengah masyarakat.

Kemenangan politisi-politisi muda yang sebelumnya "relatif" tidak dikenal dalam dunia politik atau mereka yang sebelumnya "Steril" dari dunia politik menjadi cermin bahwa masyarakat masih berharap adanya perubahan. Soal berpengalaman atau tidak itu bukanlah isu yang penting. Selain itu berbagai wacana yang sering dilontarkan lebih kepada terminologi-terminologi yang terlalu tinggi bagi masyarakat kebanyakan.

Bayangkan di tengah kondisi yang serba sulit saat ini ada kabar yang menyatakan bahwa beberapa target penjualan kendaraan baik roda dua maupun roda empat berhasil memenuhi target penjualan yang telah mereka tetapkan. Artinya apa? Gap yang tidak jelas. Apakah Negeri ini susah ataukah bagaimana?

Di lain sisi masyarakat banyak yang kelaparan. Indikasi tersebut "abu-abu". Masyakarat cuma ingin tahu. Masyarakat ingin didengarkan aspirasi dari berbagai kebijakan yang diputuskan bersama antara eksekutif dan legislatif yang sepertinya apa yang diinginkan masyarakat belum terpenuhi. Misalnya kesadaran akan adanya perubahan etika, moral, serta budaya munafik ini masih terlihat jelas. Serta, rasa ingin tahu itu hanya bisa terbukti bila melakukannya secara langsung.

Kali ini, mereka memilih figur-figur yang relatif sepak-terjangnya tidak tercela, baru, serta memberikan penyegaran. Sedangkan apabila bicara mengenai parpol apa pun ideologinya termasuk Platform religiusย  tetaplah parpol yang berproses sesuai kepentingan (interest, importance), tidak bicara idealisme tertentu. Jadi, ini bukan soal muda atau tua. Ini soal selera zaman yang terbentuk oleh zaman sebelumnya.

Yusuf Senopati Riyanto
Ciganjur Cinere DKI Jakarta
yusuf_riyanto@yaHOO.COM
0217982379
(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads