Biofuel di Tengah Krisis Pangan Global

Biofuel di Tengah Krisis Pangan Global

- detikNews
Selasa, 29 Apr 2008 07:53 WIB
Biofuel di Tengah Krisis Pangan Global
Jakarta - Dilandasi semangat untuk menyelamatkan bumi dari kehancuran, kata 'biofuel' menjadi semakin akrab dengan telinga kita. Namun, meroketnya harga-harga kebutuhan bahan pokok yang mengakibatkan krisis pangan global membuat miris tidak sedikit para pendukung biofuel.

Hal ini dikarenakan banyaknya data yang menunjukkan telah terjadi perebutan bahan makanan antara manusia dengan mesin bakar. Dan dalam prakteknya, produksi biofuel mungkin tidak 'sehijau' namanya. Akankah program biofuel
yang saat ini booming di berbagai negara akan layu sebelum berkembang demi alasan kemanusiaan?

La-Nina
Laporan UNFCC memang memprediksi akan adanya cuaca ekstrim di masa depan yang merupakan dampak dari perubahan iklim global. Namun, laporan yang keluar di awal tahun 2007 tidak dapat memprediksi akan datangnya si gadis cilik pembawa hujan (La-Nina). Panjangnya fenomena La-Nina yang telah berlangsung hampir setahun ini memang di luar prakiraan. La-Nina yang biasanya tidak seganas kakakya (El-Nino) kali ini pun mulai berulah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagai contoh: musim dingin di daratan China yang biasanya mulai berakhir takkala memasuki perayaan tahun baru imlek (Februari) belum juga berakhir untuk sebagian daerah. Menurut catatan merupakan musim dingin dan badai salju terburuk dalam seabad terakhir.

Luasnya lahan pertanian yang terkena dampak bencana ini (kurang lebih 4 juta hektar) mengakibatkan pemerintahan China melarang eksport beras untuk menjamin ketersedian pangan nasional serta untuk menahan laju inflasi akibat naiknya bahan makanan sebagai dampak dari bencana ini. Sebaliknya, dengan Australia, produksi beras turun lebih dari 90% dan kapas turun lebih dari 50% selama tahun 2007, adalah akibat dari hujan yang tak kunjung turun.

Ganasnya La-Nina kali ini pun tidak cukup untuk mengisi Murray-Darling Basin yang merupakan sumber air penggerak pertanian di Australia. Kejadian pada dua negara itu, yang merupakan negara-negara produsen bahan pokok penting di dunia hanyalah sebagian kecil contoh bagaimana dampak perubahan iklim global di masa depan akan berpengaruh pada kondisi pangan global pula.

Biofuel Generasi Pertama

Bioethanol dari jagung dan tebu, biodiesel dari minyak kelapa sawit, dan minyak canola adalah contoh biofuel generasi pertama, yang menggunakan berbahan dasar yang merupakan bahan pokok yang dikonsumsi manusia pula. Terdapat sejumlah bukti bahwa biofuel yang seharusnya akrab lingkungan tidaklah sepenuhnya benar.

Sebagai contoh, diperlukan 1,2-1,3 liter bioethanol dari jagung untuk menempuh jarak yang sama dengan 1,0 liter bensin, dan ironisnya produsen ethanol sendiri menggunakan bahan bakar fosil dalam memproduksi bioethanol. Contoh lainnya, produksi biodiesel dari minyak kelapa sawit mengakibatkan hilangnya hutan lindung yang umurnya mungkin sudah ratusan bahkan ribuan tahun.

Pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit pun, sudah rahasia umum, dilakukan dengan cara pembakaran. Alhasil, menurut perhitungan peneliti Kanada: produksi satu liter biodiesel dari kelapa sawit menghasilkan emisi karbon dioksida 10 kali lebih besar daripada produksi satu liter minyak solar dari
minyak bumi.

Lebih lanjut, untuk kasus di Indonesia, diperlukan waktu 423 tahun untuk melunasi hutang karbon (carbon debt) akibat pembukaan hutan untuk lahan kelapa sawit. Sedangkan pembukaan hutan di Amazon untuk lahan kedelai yang akan digunakan sebagai biodiesel menghasilkan hutang karbon yang baru akan terbayar setelah 319 tahun (Science 319 (2008): 1235-1238)

Tentunya tidak seimbang tanpa menyebut Brasil sebagai negara yang berhasil dalam konversi bahan bakar fosil ke biofuel dengan bahan dasar tebu. Sebagai negara dengan populasi besar dan pengimpor minyak bumi sebelum ditemukannya ladang minyak besar di tahun 2007.

Brasil adalah contoh negara yang berhasil dalam memecahkan krisis bahan bakar dalam negeri dengan konversi bahan bakar fosil ke biofuel. Tentunya hal ini didukung oleh iklim tropis yang memungkinkan tumbuhnya tebu sepanjang tahun dan juga sistem irigasi yang baik pula. Akankah jejak Brasil diikuti oleh Indonesia?

Biofuel Generasi Kedua
Biodiesel dari alga, bioethanol dari selulosa, baik yang bersumber dari sampah organik, potongan kayu, kertas ataupun alang-alang liar merupakan contoh biofuel generasi kedua. Bahan dasarnya bukan merupakan bahan yang dikonsumsi manusia. Minyak bumi yang kita gunakan saat ini dipercaya bersumber dari jasad renik alga yang telah melalui proses tekanan dan temperature dalam waktu yang sangat lama.

Beberapa species alga dapat mengandung sampai 50% minyak dari total berat biomasnya sehingga layak dipertimbangan sebagai sumber bahan baku biodiesel. Lebih lanjut, alga-alga tersebut hanya memerlukan karbon dioksida sisa hasil pembakaran dan unsur hara dari air buangan domestik untuk tumbuh dan berkembang biak dengan kecepatan tinggi.

Namun, masalah yang masih dihadapi saat ini adalah teknologi pemisahan yang masih relatif kurang efisien. Sementara itu, proses konversi selulosa (polimer dengan glukosa sebagai monomer) menjadi ethanol yang memerlukan investasi yang sangat besar, masih dalam taraf pengembangan dan belum sampai tahap komersial. Adalah biofuel generasi kedua, dengan berbasis pada bahan yang tidak dikonsumsi manusia, yang diyakini memiliki prospek yang lebih cerah daripada biofuel generasi pertama.

Kesimpulan
Saat ini, biofuel hanya kurang dari 1% dari total konsumsi bahan bakar global. Namun, jika untuk menjamin bahwa mobil-mobil di negara maju tetap berjalan di saat sebagian manusia di belahan dunia lainya harus mati kelaparan adalah kejahatan kemanusiaan yang tidak dapat ditolerir. Mungkin hal ini pula yang akan mengakhiri cerita biofuel generasi pertama.

Kian Siong, Ph.D (JSPS Fellow),
645 Shimo Okubo, Saitama I house 3103
Sakura ku, Saitama Shi
siong@mail.saitama-u.ac.jp
+81-90-6042-1487

Penulis adalah JSPS Fellow Department of Environmental Science, Saitama University, Japan.
(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads