Tetapi, mengapa ketika harga minyak dunia naik ternyata pendapatan tambahan dari ekspor minyak mentah 53,8 juta kilo liter/tahun tersebut tidak dapat menutupi subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang konon hanya 35 juta kilo liter? Sungguh tidak masuk akal sehat.
Ketika harga minyak dunia naik pemerintah hanya mengembar-gemborkan kenaikan subsidi BBM. Tetapi, bagaimana dengan pendapatan tambahan dari ekspor minyak mentah Indonesia yang naik lebih besar daripada subsidi tersebut?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini ketika bumi Indonesia masih menghasilkan minyak saja rakyat Indonesia sudah dibebani dengan 100% kenaikan harga minyak dunia (tanpa
memperhitungkan/dipotong pendapatan tambahan dari ekspor minyak mentah Indonesia). Apalagi 10-20 tahun lagi ketika Indonesia menjadi 100% net importer minyak dunia. Bisa-bisa rakyat Indonesia akan dibebani 2-3 kali lipat dari kenaikan harga minyak dunia.
Sangat setuju kalau pemerintah Indonesia menggalakan penghematan BBM. Tetapi, bukan dengan cara menaikkan harga BBM seolah-olah RAPBN defisit akibat kenaikan harga minyak dunia.
Bukankah hasil ekspor minyak mentah Indonesia itu juga kekayaan milik bangsa Indonesia yang mustinya dapat dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia. Kalau ada untung/pendapatan tambahan dari ekspor minyak mentah yang naik mustinya pendapatan tambahan tersebut juga diteruskan kepada rakyat Indonesia.
Budi
Rawamangun Jakarta
merty2772@yahoo.com
4891054 (msh/msh)











































