Perlindungan Anak Bukan Hanya dari Kekerasan

Perlindungan Anak Bukan Hanya dari Kekerasan

- detikNews
Sabtu, 26 Apr 2008 09:52 WIB
Perlindungan Anak Bukan Hanya dari Kekerasan
Jakarta - Di berita Seputar Indonesia sore tanggal 17 April 2008 pk.18.00 ada satu hal yang sangat mengelitik atas pernyataan seorang wanita yang mengatasnamakan dirinya wakil dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Beliau menyatakan bahwa, "UASBN sama dengan kekerasan pada anak!"

Kalau "Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional" (UASBN) sekarang ini diberlakukan (lagi) pada murid Sekolah Dasar saya berpendapat bahwa hal itu adalah hal yang wajar. Karena, untuk mendapatkan bukti kelulusan seorang anak harus melalui suatu ujian.

Hal ini tidak ada bedanya dengan ulangan untuk menentukan seorang anak didik bisa naik kelas atau tidak. Jadi mengapa masalah ujian ini dijadikan persoalan. Bahkan dinyatakan merupakan kekerasan pada anak?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketika saya duduk di kelas VI SD (tahun 1964), pada waktu itu pun saya harus menempuh ujian. Bahkan ujian saya lakukan di gedung sekolah lain. Bukan di sekolah sendiri. Dengan pengawas ujiannya adalah guru dari sekolah lain pula. Β 

Untuk semua itu saya tidak pernah merasakan sebagai bentuk kekerasan. Memang, ada beban perasaan untuk bisa lulus ujian. Tetapi, dengan belajar keras yang saya rasakan sebagai kewajiban toh akhirnya saya bisa lulus dengan baik.

Kalau hanya untuk menghadapi ujian (ulangan) saja kita tidak berani menghadapinya. Bagaimana mungkin kita bisa bersaing di dunia yang semakin lama semakin keras ini.

Kalau sekedar ingin mengkritisi pemerintah sekarang ini janganlah kita melakukan hal-hal yang tidak sepatutnya. Tetapi, lakukan hal-hal yang jelas lebih bermanfaat untuk orang banyak.

Perlindungan terhadap anak bukan hanya melindungi anak dari kekerasan saja. Tetapi, juga melindungi anak dari pengaruh buruk akibat permainan atau tontonan yang betul-betul tidak mendidik dan bisa menyesatkan cara berfikir anak.

Jadi marilah kita dukung UASBN ini karena hal ini untuk membuat anak-anak kita mau belajar dengan baik agar bisa lulus ujian. Bukan memanjakannya dengan segala kemudahan yang akhirnya hanya akan membuat anak-anak kita menjadi bodoh.

Agar tidak menimbulkan salah pengertian, perlu saya nyatakan di sini bahwa saya adalah orang swasta. Bukan pegawai negeri sipil. Apalagi pegawai Depdiknas.

Saya pun bukan ahli ilmu pendidikan atau ilmu kejiwaan. Tetapi, saya telah membesarkan dua orang anak kandung. Jadi saya sudah merasakan sendiri mendidik dan membesarkan anak-anak saya (sekarang keduanya kuliah di UI).

Kalau anak kurang mendapat tantangan sejak kecil maka janganlah anda berharap bila anak itu dewasa nanti akan menjadi orang yang sanggup menghadapi tantangan kehidupan nyata yang semakin keras.

Udayasuddhatta
Jl Beta Raya 83 Cimone Tangerang 15114
udayasuddhatta@yahoo.co.id
5537170
(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads