Memprioritaskan Persoalan Dalam Negeri

Memprioritaskan Persoalan Dalam Negeri

- detikNews
Senin, 21 Apr 2008 07:19 WIB
Memprioritaskan Persoalan Dalam Negeri
Jakarta - Sebagai seorang anggota masyarakat yang awam tentu suara saya tidak ada artinya dibandingkan suara anggota dewan yang lantang dan disertai banyak dalil. Tetapi, sebagai anggota masyarakat rasanya saya memiliki kewajiban untuk melontarkan gagasan karena terkadang orang-orang yang pintar dan berilmu serta berpengalaman terjebak oleh kepintarannya dan pengalamannya.

Adanya berbagai musibah yang menimpa masyarakat dari tanah longsor sampai lumpur lapindo, banjir sampai angin puting beliung, kelaparan sampai kelangkaan dan mahalnya bahan-bahan pokok bagi masyarakat banyak dan rubuhnya fasilitas-fasilitas pendidikan umum, korban tsunami Aceh yang belum kunjung terselesaikan; masyarakat yang terkena bencana kebanyakan adalah ekonomi menengah ke bawah yang menjadi korban bencana.

Mereka kehilangan anggota keluarganya, rumah, dan harta. Tetapi, di tengah duka nestapa akibat kehilangan mereka masih menyimpan harapan agar pemerintah
mengulurkan bantuannya. Namun, apa jadinya jika pemerintah menanggapinya dengan mengatakan "dana atau anggaran buat bencana alam dan krisis sudah habis (saya mendengarnya sendiri ucapan itu di televisi ketika terjadi tsunamy di Pangandaran).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saya kira ucapan seperti itu tidak layak disampaikan oleh pemerintah. Kalau memang dana untuk mengatasi krisis musibah di dalam negri sudah habis mengapa pemerintah tidak memotong atau mengurangi gaji pejabat atau anggota dewan yang lebih faham dan mengerti serta telah hidup berkecukupan malah memberi tambahan fasilitas. Atau mengapa pemerintah tidak memfokuskan anggaran prioritas untuk krisis di dalam negeri saja dibanding dengan hal-hal yang berhubungan dengan luar negeri dan manfaatnya tidak terlalu banyak bagi masyarakat.

Jika suatu bangsa ingin maju maka perkuatlah basis pertahanan di dalam. Setelah kuat baru melihat peluang ke luar (Ilmu Nafsi Siyasi; Qadry Hafany). Bangsa yang maju awalnya seperti itu. Sebagai contoh Negara Findlandia yang pernah mengalami krisis. Mereka memfokuskan pada masalah dalam negeri terlebih dahulu. Atau negara tetangga Malaysia yang mengutamakan penyelesain masalah dalam negeri terlebih dahulu.

Mereka sekarang menjadi negara maju karena prestasi menyelesaikan masalah di dalam negeri serta memahami dan menerima serta mengukur keadaan masyarakatnya sendiri. Tidak melihat ke langit dan melupakan tanah yang dipijak.

Sekali lagi, kepada pemerintah, mungkinkah untuk mengurangi anggaran-anggaran kegiatan ke luar negeri yang hanya tujuannya untuk perbaikan citra Indonesia. Lebih baik anggaran itu untuk membangun sekolah-sekolah yang mulai ambruk dan roboh, mengkounter harga-harga kebutuhan pokok di dalam negeri yang menyusahkan rakyat banyak, mengganti rumah pemukiman penduduk akibat lumpur Lapindo, menyelesaikan proyek perumahan bagi korban tsunami di Aceh, menghidupkan kembali swasembada pangan di dalam negeri.

Tak ada salahya bermimpi. Tapi, yang utama mengatasi krisis dan kenyataan bahwa pendapatan rakyat kita sangat minim itu yang harus diprioritaskan. Wallhualam bissawab.

Neni Mulyani
Madinah Al Rehab Kairo
mulya69@yahoo.com
26079071
(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads