Selain beras, harga biji-bijian lain pun naik tidak kalah hebatnya dibanding beras. Gandum naik 130% dibandingkan harga Maret 2007, kedelai 87%, dan rata-rata kenaikan untuk bahan pangan lainnya sebesar 83% (Worldbank).
Tinggi harga kebutuhan pokok telah menyebabkan krisis pangan bahkan gejolak sosial yang dimulai dari Haiti dan mulai menjalar ke Bangladesh dan Mesir. Sungguh ironis kejadian ini terjadi di Mesir yang selama ini menjadi pengekspor beras (karena makanan pokok adalah roti) dan Bangladesh yang merupakan produsen keempat terbesar gabah kering giling (GBK) di dunia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Produksi padi dari benua Asia mencapai 90% dari total produksi beras dunia yang mencapai sekitar 600 juta ton GBK. Namun, konsumsi beras oleh penduduk Asia pun mencapai 90% dari total produksi tersebut (FAO). Data dari USDA (Departemen Pertanian Amerika) menunjukkan laju kenaikan permintaan sebesar 0,9% yang tidak seimbang dengan laju kenaikan produksi yang hanya 0,7%.
Hal ini tentunya membuat negara-negara dengan populasi besar seperti China dan India membuat kebijakan untuk menghentikan ekspor beras untuk menjamin ketersedian bahan pokok bagi penduduknya. Sebaliknya negara-negara dengan surplus besar seperti Vietnam dan Thailand, yang selama ini sebagai "dewa penolong" justru menahan ekspor dengan harapan harga beras akan terus naik.
Hal ini tentunya memperburuk situasi pangan dunia yang juga didera oleh semakin banyaknya bencana alam, naiknya harga minyak mentah, hilangnya lahan pertanian akibat urbanisasi, dan industrialisasi serta maraknya perkembangan
industri biofuel, yang menyebabkan konversi tanaman padi ke produk lainnya terutama jagung.
Status Indonesia
Sebagai produsen ketiga terbesar, yakni setelah China dan India, Indonesia memang memiliki potensi sebagai eksportir beras. Namun, konsumsi beras dalam negeri yang besar justru menempatkan Indonesia sebagai importir beras. Lebih lanjut, Indonesia juga terdaftar sebagai negara rawan krisis pangan akibat dari banyaknya bencana seperti tanah longsor, banjir, dan gempa bumi versi FAO.
Swasembada pangan yang pernah terjadi di pertengahan dekade 1980-an, tidak pernah terjadi lagi. Data dua tahun terakhir (2006-2007) menunjukkan impor sebesar 0,7-1,7 juta ton beras dan menurut perkiraan FAO, tahun 2008 akan terjadi import sebesar 0,6 juta ton. Data produksi GBK, persedian, dan konsumsi beras yang berbeda antara Bulog dengan Deptan adalah salah satu contoh kurang beresnya tata niaga pangan nasional.
Janganlah keinginan pemerintah untuk membuka kran ekspor justru membuat antrian panjang di dalam negeri untuk mendapatkan beras.
Kian Siong, Ph.D
(JSPS fellow),
Department of Environmental Science, Saitama University, Japan
Email: siong@mail.saitama-u.ac.jp (msh/msh)











































