Masih Layakkah Rakyat Memberi Harapan

Masih Layakkah Rakyat Memberi Harapan

- detikNews
Selasa, 08 Apr 2008 08:25 WIB
Masih Layakkah Rakyat Memberi Harapan
Jakarta - Di tengah himpitan ekonomi dan berbagai musibah yang menimpa rakyat Indonesia sebagai manusia yang memiliki human being dan human right sudah pada tempatnya untuk tidak hanya sekedar melontarkan kata "prihatin atau berbela sungkawa". Tetapi, juga aplikasi dari sentuhan nurani yang paling dalam berupa kebutuhan yang kita ulurkan sebagai bentuk turut merasakan apa yang mereka rasakan.

Boleh jadi apa yang menimpa mereka akan menimpa kita. Atau mungkin anak kita atau cucu kita atau mungkin cicit kita. Pada kenyataan roda dunia terus berputar, yang tadinya konglomerat besok atau lusa mungkin dia tinggal di rumah kumuh dengan antri berjam-jam mendapatkan lima liter minyak tanah seperti rakyat lainnya.

Nasib rakyat miskin di Indonesia memang tidak berubah. Bukannya mengubah malah bertambah. Sekolah yang oleh sebagian mereka dianggap salah satu jalan menuju kehidupan yang lebih baik di masa depan kini harapan itu mulai buram, disebabkan birokrasi untuk mendapatkan kerja dan informasi tidak sampai pada masyarakat umum.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hingga keringat yang bercampur darah dan nyawa untuk menyekolahkan anak-anak mereka ke jenjang yang lebih tinggi seakan mereka tidak dapat memetik buahnya. Reformasi yang menuntut tidak adanya kolusi dan nepotisasi yang didengungkan pada zaman era reformasi kini seakan padam.

Ijazah sarjana yang mereka bayar mahal seperti hanya selembar kertas yang tidak bernilai. Tapi, yang bernilai adalah link-link orang tua yang memiliki hubungan-hubungan bisnis yang diutamakan. Pemerintah dengan setumpuk beban yang semakin menggunung seakan-akan sudah tidak mampu memikul beban yang lebih berat hingga musibah demi musibah dilalui dengan ringan dan ketidakberdayaan.

Rakyat yang sudah terbiasa menjadi korban kehidupannya kian terpuruk dari hari ke hari. Seakan-akan memang itulah nasib yang tidak memiliki pilihan. Ketika utang luar negeri Indonesia mengalami "kolep" maka rakyat yang menanggung akibat yang tidak sedikit. Padahal kebanyakan dari uang pinjaman itu tidak sepenuhnya digunakan untuk kepentingan rakyat.

Ketika rakyat menderita akibat beban utang luar negeri yang luar biasa adalah sebagian kalangan pejabat asyik jalan-jalan ke luar negeri dengan alasan studi banding. Atau pergi ke Amerika hanya sekedar nonton sepak bola.

Hutan yang digunduli secara liar oleh link-link tertentu yang terkait dengan pejabat juga akibatnya rakyat harus menanggung beban longsor dan banjir di mana-mana yang semakin membingungkan pemerintah, yang telah linglung.

Rakyat Indonesia seakan hilang kepercayaan di tengah kondisi seperti ini. Media terutama media elektronik seperti televisi yang gencar menayangkan tayangan-tayangan kekerasan seperti mengajarkan masyarakat yang tengah rentan secara psikologi untuk berbuat di luar kendali. Lengkap sudah penderitaan rakyat Indonesia secara lahir batin.

Ada seorang teman yang lama tinggal dan sekolah di Amerika. Dia seorang anak jenderal yang terkenal di Jakarta. Ketika dia pertama datang ke Indonesia dia sampai tidak percaya kehidupan rakyat Indonesia di negaranya sendiri lebih sulit dari orang Indonesia yang hidup di luar negeri. Entah dia sebagai pelajar atau TKW.

Jadi apakah masih layak peribahasa yang mengatakan, "hujan emas di negeri orang masih lebih baik hujan batu di negeri sendiri". Kalau seandainya mahasiswa-mahasiswa yang menuntut ilmu di luar negeri kemudian enggan pulang ke negaranya. Kalau sebagian mereka memilih untuk menjadi warga negara tetangga atau menikah dengan Laki-laki dari yang bukan sebangsanya adalah sebuah pilihan yang logik bagi mereka melihat kondisi real di Indonesia.

Oleh karena itu bagi Rakyat Indonesia yang miskin dan semakin terpuruk sudah waktunya untuk memilih pemimpin yang bukan hanya pintar secara akademik atau segudang pengalaman dan pengetahuan, atau banyak duit, atau tokoh dan ditokohkan. Semua itu tidak ada artinya kalau ternyata tidak punya hati nurani. Wallahualam.

Mulya Kurniasari
Tahrir Kairo
nmkurniasari002@plasa.com
6079071
(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads