Agar KPI dan KPAI Berbuat untuk Sinetron

Agar KPI dan KPAI Berbuat untuk Sinetron

- detikNews
Sabtu, 05 Apr 2008 11:21 WIB
Agar KPI dan KPAI Berbuat untuk Sinetron
Jakarta - Menyambung tulisan Sdr Baso Indra Wijaya, Sabtu 29 Maret 2008 yang berjudul "Kualitas Sinetron Menjadi Tidak Bermutu", di sini saya ingin menambahkan beberapa hal penting lainnya. Kelihatannya tidak mendapatkan perhatian sama sekali dari pihak KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) dan KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia).

Kebanyakan sinetron itu ditayangkan pada saat anak-anak kecil masih belum waktunya tidur. Kemungkinan besar mereka akan turut menontonnya.

Ada banyak sinetron yang ditayangkan itu merupakan:
1. Hasil jiplakan dari sinetron-sinetron atau telenovela luar negeri, tapi penulis cerita tidak pernah menuliskan sama sekali bahwa ide cerita itu merupakan hasil saduran/jiplakan.
2. Mempertontonkan kekejaman yang berlebihan, terlebih lagi hal itu dilakukan oleh seorang anak (perempuan). Kekejian berulang-ulang dilakukan oleh anak-kecil ini atau juga oleh orang dewasa, tetapi semuanya seakan tidak ada yang mendapat hukuman dan bebas begitu saja.Β  Bahkan ada sinetron yang menceritakan bahwa kejahatan yang dilakukan itu sudah dilaporkan ke Polisi, tetapi Polisi pun tidak bisa menemukan pelaku kejahatannya.
3. Orang-orang dewasa, bahkan seorang dokter pun bisa begitu mudahnya ditipu dan diperangkap --hanya oleh seorang anak perempuan (ABG) sampai berulang-ulang tanpa daya.
4. Dan ada banyak lagi hal-hal yang tidak masuk akal sehat --dipertontonkan hanya untuk mengejar 'rating' tanpa memikirkan akibat buruk terhadap pendidikan anak-anak yang menonton sinetron itu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari hal-hal yang sudah dituliskan di atas, timbul kekhawatiran terhadap anak-anak yang menonton akan mengambil kesimpulan bahwa:
1. Untuk menjadi pintar, seseorang harus kejam dan jahat.
2. Kalaupun berbuat jahat, toh tidak apa-apa; karena para pelaku kejahatan yang dilihat di sinetron itu pun bebas dari hukuman.
3. Tidak perlu menjadi orang yang baik, karena menjadi orang / anak yang baik hidupnya akan selalu susah.
4. Tidak perlu menjadi sarjana (dokter), karena seorang anak ABG yang tidak jelas pendidikannya saja bisa jauh lebih pintar dan kehidupannya baik-baik saja.
5. Ada banyak lagi hal-hal mengkhawatirkan akibat cerita-cerita tidak masuk akal di sinetron itu.

Oleh karena itu saya mengimbau agar KPI dan KPAI berbuatlah sesuatu yang perlu. Supaya ada perbaikan pada sinetron-sinetron yang diproduksi serta dipertontonkan di Indonesia. Tidak sampai berakibat buruk terhadap pendidikan anak-anak Indonesia.

Udayasuddhatta
Jl Beta Raya 83 Cimone Tangerang 15114
udayasuddhatta@yahoo.co.id
5537170
(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads