Air dan Mahasiswa

Air dan Mahasiswa

- detikNews
Selasa, 25 Mar 2008 08:32 WIB
Jakarta - Tak dapat dipungkiri bangsa Indonesia dari tahun ke tahun masih mengalami siklus krisis air. Baik krisis (bencana) air akibat kekeringan maupun krisis air akibat kebanjiran. Gambaran up to date yang ironis. Kekeringan di musim kemarau dan kebanjiran di musim penghujan.

Fakta terdekat sejak pertengahan hingga akhir 2006 bahkan sampai Januari 2007, berbagai wilayah Indonesia mengalami kekeringan di musim kemarau. Akibatnya banyak petani yang tidak bisa bercocok tanamΒ  sehingga berakibat terjadinya krisis pangan dan merambah pada krisis nasional.

Kemudian sejak akhir Januari sampai April 2007, hujan turun dan terjadi bencana banjir di mana-mana. Kejadian yang selalu berulang tanpa ada yang mau belajar dari pengalaman. Wahai bangsa Indonesia, ada apa denganmu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Air adalah unsur penting untuk kehidupan". Tanpa air kita tidak akan mampu bertahan hidup. Segala aktivitas manusia tidak akan terlepas dari komponen air. Baik untuk MCK (Mandi, Cuci, dan Kakus) atau untuk kegiatan penunjang kehidupan seperti pertanian, perikanan, industri, bahkan pembangunan.

Namun, jika tidak dikelola dengan baik air bisa menimbulkan malapetaka bagi kelangsungan hidup manusia. Menjadi bah yang menghancurkan segala sesuatu yang dilewatinya. Juga merenggut nyawa manusia.

Pengaturan air yang kurang baik dapat menyebakan kekurangan air, monopolisasi serta privatisasi dan bahkan menyulut konflik. Maka sebagai manusia yang diberi hak dan kewajiban hidup di bumi, haruslah mampu memanfaatkan dan mengelola air dengan bijak dan bajik serta cerdas.

Air adalah suatu zat kimia yang penting bagi semua bentuk kehidupan yang diketahui sampai saat ini di bumi. Air menutupi hampir 71%Β  permukaan bumi. Terdapat 1,4 triliun kilometer kubik (330 juta mil tersedia di bumi).

Air bergerak mengikuti suatu siklus air, yaitu: melalui penguapan, hujan, dan aliran air di atas permukaan tanah meliputi mata air, sungai, muara, menuju laut. Air dapat berwujud padatan (es), cairan (air), dan gas (uap air). Air merupakan satu-satunya zat yang secara alami terdapat di permukaan bumi dalam ketiga wujudnya tersebut.

Sumber daya manusia Indonesia bukanlah SDM tumpul yang tidak bisa melakukan apa-apa. Tapi, mengapa di setiap tahun Jakarta selalu terendam banjir. Transportasi hingga penerbangan lumpuh. Ada yang kurang tepat dengan Jakarta?

Kali ini hanya sebatas Jakarta sebagai centre Negara. Belum lagi daerah-daerah yang lain yang juga Up to date terhadap musim. Fenomena ini tidak boleh menjadi agenda khusus untuk negara kita.

Mahasiswa yang merupakan agent of chance dengan fungsi diri sebagai menara air tidak boleh tinggal diam atas bencana tahunan ini. Untuk di Jakarta saja ada berapa banyak mahasiswa dari sekian universitas yang berdomosili kota metropolitan tersebut. Dan pastinya setiap universitas memiliki BEM (Badan Eksekutif Mehasiswa) yang bergerak di bagian sosialisasi kemasyarakatan.

Belum lagi mahasiswa yang memang mengambil jurusan tentang teknik lingkungan dan jurusan lain yang menyentuh komponen air. Untuk kasus setaraf banjir mahasiswa Indonesia harusnya memang telah menyusun "list" dan juga melakukan "action" agar tidak selamanya Indonesia terjerumus dalam lobang yang sama di setiap tahunnya. Tidak hanya sibuk berteriak dalam demonstrasi.

Tanggal 22 Maret telah ditetapkan sebagai "Hari Air Sedunia". Dengan momen tersebut harusnya dapat dijadikan titik tolak untuk kita berbenah mengenai air dan manajerialnya. Yang kita pikirkan sekarang adalah bagaimana caranya mahasiswa dapat menjadi elemen motorik untuk tugas suci ini. Bahkan untuk suatu habits kecil dengan bersikap apik tidak membuang sampah ke kali dan sembarang tempat yang dapat menghambat jalannya air.

Sekarang saatnya untuk menunjukkan eksistensi mahasiswa, memberikan kontribusi untuk kemaslahatan bersama secara bersama-sama, dengan merangkul seluruh komponen. Seperti yang telah ditulis di awal langkah pertama yang dilakukan adalah dengan membiasakan pola kecil dengan bersikap apik (terhadap air). Tidak membuang sampah ke kali dan sembarang tempat yang dapat menghambat jalannya air dilanjutkan mengimbangi penggunaan air tanah dengan cara membantu proses alamiah.

Ketersediaan air tanah selalu diperbaharui dengan cara melakukan peresapan kembali air permukaan melalui sistem instalasi pengolahan limbah ke dalam tanah dengan membuat beberapa kolam, empang, dan waduk penampungan air. Kolam dan empang itu, selain berfungsi sebagai resapan air, juga dapat digunakan sebagai budidaya ikan.

Langkah kedua adalah meningkatkan efisiensi pemakaian air tanah sebagai sumber air bersih dengan hemat air dan bisa meminimalisasi pemborosan, kebocoran, atau air terbuang cuma-cuma. Jadi, jangan pernah lupa menutup kran setelah menggunakan air. Β 

Langkah ketiga dengan meminimalkan penggunaan air tanah dengan pemanfaatan kembali air yang sudah terpakai untuk keperluan pertanian dan peternakan. Seperti menyiram tanaman, pembersihan sapi, dan kandang, dan lain-lain.

Masalah air memang bukan masalah yang dapat dipandang sebelah mata. Apakah kita masih terus membatasi ruang gerak kita hanya karena di sekitar kita terendam air? Menghabiskan sekian banyak dana untuk pembenahan infrastruktur paskabanjir? Padahal alangkah baiknya jika kita berpikir tentang manajerial air yang baik.

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Cerita klasik ini harus segera ditutup. Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Kalau mahasiswa sebagai agent of chance-nya, siapa lagi? Para lansia? Tidak kan.

Mellira
Al-Zaytun Indramayu
nezimlufni@gmail.com
085220704108
(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads