Krisis Listrik

Krisis Listrik

- detikNews
Sabtu, 22 Mar 2008 09:46 WIB
Krisis Listrik
Jakarta - Sebenarnya kekurangan supply listrik bisa dihindari dengan semua pihak mempunyai kesadaran. Misalnya masyarakat umum cobalah mengerti bahwa menggunakan listrik secara ilegal sangat merugikan baik secara materi maupun keselamatan.

Untuk oknum PLN sadar diri jangan selalu memberikan kesempatan masyarakat untuk berbuat curang dengan menawarkan jasa listrik yang murah alias menyogok dan juga aparat PLN harus berusaha memilah-milih lokasi.

Lokasi yang merupakan pemukiman liar janganlah diberikan Listrik. Atau kalau sudah mencuri dari gardu jangan segan mumutuskan aliran listrik tersebut. Untuk petugas PLN cobalah melakukan koordinasi dengan pihak Kepolisian untuk melakukan razia yang tertib, benar, dan prosedural janganlah melakukan razia hanya untuk kepentingan dompet pribadi masing-masing.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebenarnya pengguna ataupun pelanggan PLN (yang benar) juga tidak ingin menggunakan listrik secara berlebihan ataupun pembayaran bulanan melebihi budget masing-masing. Karena, tidak dipungkiri hidup di Indonesia saat ini lebih susah dari masa penjajahan. Hanya perbedaan pada struktur pembangunan yang sudah lebih memadai saja selebihnya daya beli terus menurun.

Pemerintah Indonesia sudah seharusnya mencari jalan dengan sistem win win solution. Semua pihak bisa menikmati listrik yang sesuai. Jangan lagi adanya pemaksaan yang dilakukan oleh oknum-oknum.

Saya setuju bahwa menggunakan listrik harus bayar walaupun ini merupakan sumber energi yang menyangkut hajat hidup orang banyak walaupun dikuasai oleh negara. Akan tetapi pejabat dari PLN juga harus transparan. Ambil contoh tetangga saya di Sukabumi merupakan pelanggan PLN.

Akan tetapi, dengan adanya program Insentif dan Disinsetif sudah pasti dia akan kena disinsentif. Padahal rumah mereka tersebut tidak memiliki AC, tidak memiliki jet pam. Hanya lampu neon dan AC ukuran 1 pintu yang ukuran kecil. Itu saja bisa mendapatkan disinsentif.

Hal ini yang membuat saya miris. Kalau kota seperti Sukabumi dengan pelanggan seperti tetangga saya saja sudah terkena disinsentif bagaimana dengan orang-orang yang tinggal di kota besar? Dan, yang dimaksud dengan insentif justru adalah sangat jauh di pedalaman desa.

Program Insentif dan Disinsetif ini sepertinya tidak akan berpengaruh menjadi penghematan. Akan tetapi akan berpengaruh besarnya praktek pencurian listrik. Baik dengan penggunaan negatif film, penggunaan MCB, dan alat-alat canggih lainnya.

Yang harusnya dilakukan oleh PLN dan Pemerintah untuk melakukan penghematan supply listrik mulailah lakukan operasi listrik sinergi dengan pihak Kepolisian, RT/RW, Kelurahan, untuk mendata penggunaan listrik. Kalau tidak sesuai diputus. Apakah itu rumah sipil, rumah pejabat, rumah angkatan, gedung, pabrik, dan lainnya tanpa pandang bulu dan jangan lupa hindari praktek KKN dan SUAP.

Program Insentif dan Disinsetif tidak akan berpengaruh pada supply listrik. Justru supply listrik cenderung akan terus berkurang dan pendapatan dari supply listrik yang keluar dengan pendapatan pembayaran listrik akan jauh sangat berbeda walaupun ada kenaikan sebelum diberlakukan program Insentif dan Disinsentif. Paling besar kenaikan pendapatan 30% tapi listrik yang dikeluarkan akan menjadi 75% lebih tinggi.

Untuk pengguna listrik harus sadar akan penggunaan. Gunakan listrik secara legal dan untuk pemerintah jangan mencari jalan instan yang sebenarnya di kemudian hari justru akan menjadi buah simalakama buat pemerintah sendiri.

Terima kasih,
Andre
Sukabumi Jawa Barat
pamungkasandre@yahoo.com.sg
0266531954

(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads