Perempuan

Perempuan

- detikNews
Selasa, 18 Mar 2008 06:56 WIB
Perempuan
Jakarta - Kecantikan fisik adalah sisi paling menarik perempuan yang tak dapat dipungkiri. Sekarang, kecantikan fisik banyak dilirik para pemodal dan dijadikan komoditas untuk mendapatkan keuntungan. Contohnya, fenomena kontes kecantikan tingkat nasional sampai internasional.

Perempuan dijadikan alat untuk mempromosikan pelbagai produk. Ironisnya, kaum perempuan tampil sebagai mascot produk makanan yang tidak ada kaitannya sama sekali. Ini merupakan bukti eksploitasi terhadap perempuan di negeri ini.

Tak banyak perempuan paham jika fakta-fakta itu merupakan eksploitasi terhadap kaum hawa. Tak jarang pula perempuan yang menolak bahwa itu adalah bentuk eksploitasi terhadap perempuan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di tengah kebutuhan ekonomi yang mendesak, eksploitasi terhadap perempuan dapat dikesampingkan hanya demi materi. Apalagi, secara individu eksploitasi memberikan keuntungan bagi pelakunya. Image dan jati diri perempuan dikaitkan dengan keindahan fisik.

Banyak cara agar perempuan tampil cantik hingga dengan cara ekstrem sekalipun. Misalnya, timbulnya masalah kesehatan dan gangguan pola makan karena keinginan untuk mendapatkan berat badan ideal.

Anorexia Nervosa salah satu penyakit yang menimbulkan gejala-gejala hipotermia, tekanan darah rendah, detak jantung yang tidak teratur hingga terjadilah kematian. Data Asosiasi Anorexia dan bulimia Amerika Serikat, sedikitnya 1000 orang meninggal akibat penyakit tersebut.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa dari 900 perempuan berusia 18-24 tahun yang disurvei, 55 persen menilai bahwa penampilan sebagai hal yang menarik dari seorang perempuan dan 1 persen menilai perempuan dari tingkat kecerdasannya.

Riset yang dilakukan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Cincinnati, 33.000 perempuan AS lebih memilih turun berat badannya sekitar 10-15 pon daripada mendapatkan suatu prestasi akademis.

Banyak lelaki terpengaruh dengan konsep kecantikan saja yang akhirnya berinteraksi dengan perempuan berdasar penampilan, bukan dengan pertimbangan kecerdasan atau skill mereka. Kemudian yang terjadi adalah masalah hubungan free seks hingga pemerkosaan.

Membiarkan eksploitasi agar terus berkembang sama juga dengan membinasakan masa depan kaum hawa. Sebab, perempuan adalah ibu bagi generasinya. Di pundak perempuan diemban tanggung jawab.

Membiarkan perempuan dalam paradigma dan sistem hidup yang menyuburkan eksploitasi niscaya akan melanggengkan krisis multidimensi di negeri ini. Menyelamatkan perempuan adalah tanggung jawab kita bersama. Sudah saatnya kita memberdayakan perempuan sebagai tugas seluruh elemen bangsa.

Nah, saatnya kita memberdayaan agar perempuan bukanlah komoditas yang layak diperdagangkan atau dipertontonkan. Perempuan bukan pula bagian dari faktor produksi untuk meningkatkan devisa negara. Namun, perempuan adalah ibu generasi dan mitra yang bergerak secara sinergis dengan kaum laki-laki untuk memperjuangkan kemuliaan bangsa. Semoga.

Syaiful Mustaqim
sae_full6637@yahoo.com
085640033625


* Mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang dan aktif di Smart Institute Jepara.

(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads