Waktu pertama kali mendengarkan lagu Ethiopia yang dinyanyikan Iwan Fals ketika saya berusia belasan, saya merasa Ethiopia sangatlah jauh. Sekarang, cerita tentang kelaparan dan gizi buruk sudah sangat jelas karena datang dari negeri sendiri. Kini, rasanya Ethiopia semakin dekat saja.
Kepekaan Penguasa?
Pertengahan Februari 2008, berita duka datang dari Makassar. Seorang ibu hamil meninggal bersama anaknya yang satu masih dalam kandungan. Mereka diduga meninggal karena kelaparan. Namun, kemudian dugaan itu disanggah dengan cepat oleh pejabat Dinas Kesehatan setempat yang menyatakan mereka kekurangan cairan tubuh (dehidrasi) yang terjadi karena kedua korban terserang diare.
Terlepas dari apakah karena kelaparan atau dehidrasi yang pasti semua rakyat Indonesia tidak pantas mati seperti itu. Bukankah tanah kita subur dan laut kita kaya? Lalu mengapa di negeri ini ada orang yang mati kelaparan? Satu penyebabnya adalah ketidakpekaan pemerintah atau penguasa negeri ini (saya tidak menggunakan kata "pemimpin").
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagi saya, imbuan Presiden tersebut tidaklah tepat. Entahlah, itu terdengar seperti menghibur diri sendiri di tengah keputusasaan, setidaknya di telinga saya. Dengan ungkapan yang lebih kasar, rencana wisata bencana itu seperti menjual duka.
Atau tersenyum saat kita melayat jenazah. Mau atau tidak mau, hampir semua lokasi bencana akan menjadi lokasi wisata. Tapi, itu jauh-jauh tahun setelah bencana terjadi, dan bukan karena direncanakan.
Lain Presiden, lain juga Wakil Presiden Jusuf Kalla. Saya mencatat beberapa pernyataannya yang terkesan asbun (asal bunyi) dan tidak enak didengar rakyat. Misalnya: "Jadi tidak selalu kenaikan itu menyulitkan orang. Pemerintah tidak khawatir karena punya 2 efek tadi, bagi kita salah satu cara adalah mengurangi konsumsi telur karena harga naik, konsumsi ayam dikurangi makan ayam. Kalau naik gula, kalau tidak sanggup ya tentu konsumsi dikurangi," ujarnya seperti dikutip detikcom.
Benarkah peternak bertambah untung kalau harga telur naik? Untungkah petani kalau harga sayur atau cabe naik? Selama ini, naiknya harga sembako lebih disebabkan oleh naiknya ongkos produksi dan distribusi, bukan kenaikan yang disengaja untuk menambah keuntungan peternak dan petani.
Kalau begitu, untungnya tidak lari ke petani atau peternak, Pak Wapres. Petani tidak dapat untung, peternak tidak untung, rakyat tidak untung. Buktinya waktu harga tempe dan tahu naik, ada pedagang yang bunuh diri. Jadi yang untung siapa, Pak?
Anggota DPR kita pun sama saja. Bahkan kini sepertinya mereka tak lagi malu-malu membuat kelicikan (bukan kebijakan) politik. Bayangkan betapa mewahnya hidup para wakil rakyat ini jika uang pengganti kontrakan atau apartemen saat rumah dinas mereka direnovasi saja Rp 13 juta per bulan. Renovasi dimulai sejak Januari 2008 dan masa "bakti" anggota DPR 2004-2009 berakhir sekitar pertengahan tahun 2009.
Berarti kurang-lebih (yang pasti banyak lebihnya) mereka mengumpulkan Rp 200 juta untuk pengganti rumah yang mungkin tidak akan mereka tempati lagi. Tidak seperti para pengusaha yang mendapatkan kemewahan karena jerih payah, perlu diingat, segala kenyamanan yang dinikmati para anggota dewan itu berasal dari uang negara yang berarti milik rakyat. Apakah ini arti "mewakili rakyat" yang sebenarnya?
Kelaparan Kronis
Sudah basi jika kita menggunjingkan peringatan Bank Dunia bahwa cadangan pangan Indonesia berada dalam titik terendah. Yang menarik menurut pemerintah yang diwakili Deputi Menko Perekonomian Bayu Krisnamurthi, kondisi ini sudah diketahui sejak Juni 2007.
"Cadangan pangan berada di titik terendah itu terjadi di seluruh dunia, saya sudah bilang pada Juni 2007 lalu, itu menjadi warning (peringatan) untuk kita," kata Deputi Menko Perekonomian Bayu Krisnamurthi di Jakarta, Selasa (4/3/2008).
Apa menariknya? Jika sudah diketahui sejak Juni 2007, kok ya, kesannya tidak ada antisipasi dari pemerintah sampai rakyatnya meninggal karena kelaparan. Bahkan, saya mencatat beberapa kasus kekurangan pangan dan kelaparan di beberapa daerah.
September 1997, sekitar 90.000 penduduk Jayawijaya menderita kelaparan akut akibat kemarau panjang, panen gagal, dan bantuan terlambat. Oktober 1997, penduduk Sumba Barat (NTT) dilanda kelaparan karena kemarau panjang. November 1997, penduduk Grobogan dan Boyolali (Jawa Tengah) terpaksa makan tiwul, karena beras habis.
Januari 1998, kekurangan makan menimpa ribuan orang di Kutai. Mereka hanya makan pisang rebus. Beras melonjak menjadi Rp 5.000 per kilogram. Penduduk menukar 1 hektar tanah mereka dengan 10 kg beras, kepada perkebunan kelapa sawit setempat.
Masih belum merasa khawatir? Simak laporan Program Pangan Dunia (United Nations World Food Programme) pada bulan Mei 2007. 13 juta anak Indonesia menderita kelaparan kronis.
Menurut laporan itu, kelaparan atau kurang gizi merupakan penyebab utama kematian di dunia, melebihi AIDS, Malaria, dan TBC. Sekarang penduduk negeri ini ramai membicarakan kenaikan harga sembako terutama minyak goreng yang dipastikan akan memicu kenaikan harga makanan termasuk makanan rakyat kecil seperti gorengan.
Lucu, ketika pemerintah mencanangkan Visit Indonesia Year 2008 dalam rangka memperingati 1 abad Kebangkitan Nasional, banyak orang berteriak kelaparan, berunjuk rasa turunkan harga, dan ekspresi kekecewaan lainnya. Inikah yang akan Indonesia suguhkan pada wisatawan asing yang tergoda oleh promosi Visit Indonesia Year 2008?
Jangan tutup mata, jangan tutup telinga. Kita sama-sama tahu ada yang tidak beres dengan Indonesia ini. Untuk siapa pembangunan gedung-gedung pencakar langit, jika dengan pembangunan itu semakin banyak rakyat hidup di gang-gang sempit?
Apa artinya jalanan macet karena bertambahnya kendaraan pribadi dan SPBU megah menjamur sepanjang Cipularang, sementara banyak orang yang tak mampu beli gas sekaligus tak bisa beli minyak tanah dan terpaksa memotong-motong lemari, meja, kursi lalu menjadikannya kayu bakar?
Buat apa gedung Diknas berdiri mentereng, sedangkan gedung SD di beberapa daerah beratapkan langit bahkan roboh? Kenapa ada pejabat yang semakin buncit karena kekenyangan, tetapi ada juga anak yang buncit karena busung lapar?
Tapi tenang. Sebentar lagi Pemilu 2009, rakyat kecil pasti akan kebanjiran order pawai kampanye dengan bayaran 10.000 sampai 100.000 untuk kesengsaraan selama lima tahun ke depan bahkan lebih.
Ini memang keluhan rakyat kepada pemerintah dan wakilnya. Jika tidak suka menerima keluhan rakyat, buat apa jadi pemerintah dan wakil rakyat? Tolong segera atasi krisis energi, bencana alam, krisis pangan, dan tentu saja korupsi.
Potong saja segala tunjangan kemewahan pejabat negara. Ini perintah rakyat sebagai penguasa tertinggi negara. Jika tidak, tampaknya Bang Iwan harus mengganti kata "Ethiopia" dalam lagunya menjadi "Indonesia".
Mohamad Sidik Nugraha
Pela Mampang Jakarta
kidishom@yahoo.com
08568517875 (msh/msh)











































