Jika kita mau jujur banyak kejadian di jalanan yang sebenarnya tidak tepat. Namun, karena hal itu menjadi rutinitas maka kita seakan-akan bersahabat dengan ketidaktepatan itu. Contoh utamanya adalah seringnya kendaraan umum (angkot) yang mengunggu penumpang atau ngetem sembarangan dan menyebabkan kemacetan.
Hampir tiap hari kita menemui kejadian di jalanan baik tabrakan, senggolan, saling memaki antar pengguna jalan. Bahkan sampai tindakan anarkis meski hanya disebabkan oleh masalah yang sepele. Memprihatinkan memang jika kita mengalami kejadian itu. Perasaan dongkol, emosi, dan capek menjadi satu. Penyebabnya adalah hilangnya rasa berbudaya kita dalam berlalu lintas yaitu budaya antre dan budaya saling menghargai sesama pengguna jalan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Andai saja, para oknum pengemudi angkutan ini memahami budaya bahwa jalan raya milik umum tentunya mereka tidak akan sewenang-wenang untuk berhenti sembarangan yang memicu kemacetan. Memang tidak ada yang melarang mereka untuk menaikkan dan menurunkan penumpang, tapi tentunya pada tempatnya dengan memperhatikan dan menghargai penguna jalan lainnya.
Bukan hanya angkutan saja yang turun andil membuat kemacetan yang memusingkan di Jakarta. Bahkan kendaraan pribadi pun kerap tidak tertib dan menyebabkan carut-marutnya lalu lintas di Jakarta. Tengok saja jalan tol. Di jam-jam pagi hari dan sore hari. Jika kita ingin keluar tol, jalur keluar yang digunakan hanya 2-3 jalur. Namun sering sekali kita lihat,
kendaraan pribadi saling berebut untuk memasuki jalan keluar. Dari 2 jalur yang tersedia, kendaraan menumpuk hingga 4-5 jalur. Hal ini tentunya menyebabkan kemacetan di jalur tol.
Jika kita mau mengantre untuk keluar dari tol, tentunya akan berjalan lebih hancar, tanpa mengganggu pengguna tol lainnya dan menghindari keributan akibat saling serobot. Lagi-lagi kita haru mengerjakan pekerjaan rumah untuk membenahi budaya antre.
Tak hanya angkot dan kendaraan pribadi, sepeda motor yang ramping pun jika dalam jumlah yang banyak dan dikendarai secara ugal-ugalan juga turut menambah kemacetan. Sering kita jumpai pengendara sepeda motor yang beringasan. Bagitu melihat kemacetan, bukannya bersabar, namun menambah kemacetan dengan masuk dari sebelah kanan kemacetan dan menyebabkan kendaraan dari arah yang berlawanan tidak bisa bergerak maju. Lagi-lagi kita terbentur dengan budaya antre.
Di tengah-tengah kemacetan pun kadang kita masih dipusingkan dengan ulah pengendara yang memencet klakson dengan tidak sabar. Bahkan banyak pengendara merasa gagah dengan klakson yang memekakkan telinga. Seakan-akan mereka tidak memperdulikan para pengguna jalanan lainnya.
Bicara pengguna jalan raya dan kemacetan tidak bisa lepas dari faktor lain yaitu penjual yang ada di jalanan. Pasar menjadi faktor utama terjadinya kemacetan karena menyempitnya jalanan lantaran digunakan sang penjual. Setiap tahun, dalam liputan mudik, pasti didapati kemacetan di sepanjang Pantura yang diakibatkan pasar kaget.
Sebenarnya hal ini tidak hanya terjadi di Pantura. Di Jabodetabek pun kadang kita temui jalanan yang menyempit akibat pasar. Meski aparat sering kali menertibkan para pedagang, namun begitu aparat meninggalkan lokasi, para pedagang kembali menggelar dagangannya di jalanan. Wuih ... seperti main kucing-kucingan. Lagi-lagi pengguna jalan yang dirugikan.
Carut-marut lalu lintas ini tak luput dari pantauan media. Pernah dalam suatu tayangan di stasiun TV teresterial mengangkat tentang kemacetan di sepanjang jalur Ciputat. Dalam tayangan itu digambarkan bahwa tidak ada satu pun yang mengakui bahwa dirinya menjadi penyebab kemacetan. Baik sopir anggkutan, tukang ojek yang parkir sembarangan, sampai dengan penjual yang menggelar daganganya di jalanan. Lantas siapa yang menyebabkan kemacetan ini. Ini memang aneh dan hanya ada di Indonesia, kata televisi itu.
Tak hanya itu, ada juga televisi yang menggunakan hidden camera untuk menangkap basah para pengguna jalan yang melanggar aturan. Apakah angkutan yang berhenti sembarangan, kendaraan melawan arah, menyeberang di jalur orang dan sebagainya. Namun, toh sudah diperlihatkan wajah-wajah para pelanggar di televisi. Sampai saat ini tidak membuat jera juga. Lantas dari mana kita harus mengobati "sakitnya" para pengguna jalan ini?
Di tengah-tengah keruwetan jalanan di Jakarta, maraknya klub-klub pengendara sepeda motor dan mobil pribadi, bisa menjadi ajang bagi para membernya untuk memulai hidup tertib dan berbudaya di jalanan. Saya salut dengan klub-klub menempelkan imbauan di kendaraan mereka seperti "berhenti di belakang garis putih" maupun imbauan menggunakan helm. Memang sebatas imbauan, namun cukup mengingatkan kita untuk minimal lebih tertib di jalanan.
Inilah potret keseharian jalanan di ibu kota. Selain dari diri sendiri, kesadaran untuk tertib dan berbudaya di jalanan juga menjadi tanggung jawab petugas, dalam hal ini polisi. Polisi dinilai memegang peranan penting karena melalui regulasi yang jelas, aparat bisa memaksakan hukum bagi para pengguna jalan. Meski ada keluhan di sana-sini bahwa ada oknum aparat yang terkesan acuh tak acuh dengan konsisi ini, namun visi dan misi institusi kepolisian tentunya menjadi pengayom masyarakat termasuk di jalan raya.
Namun demikian, meski ada aturan yang jelas dan aparat yang sigap, namun tanpa adanya kesadaran pribadi, mustahil ketertiban dan saling menghargai dalam berlalulintas dapat terlaksana. Jadi benar kata Aa Gym, Mulailah dari hal yang sederhana, mulailah sekarang dan mulailah dari diri sendiri. Semoga saja, dengan berbudaya di jalan raya mencerminkan budaya Bangsa Indonesia.
Atur Toto Sulistyanto
Wisma Kodel Lt2 Jakarta
atur@qchannel.tv
08999990207
(msh/msh)











































