Berita banjir kembali menjadi menjadi topik hangat di awal 2008. Bukankah pada 2007, kita diyakinkan bahwa banjir besar saat itu adalah siklus tiap 5 tahun. Pertanyaan selanjutnya, akankah banjir ini kembali atau sebaliknya. Kekeringan yang disertai dengan kebakaran hutan manjadi tamu tidak diundang yang akan semakin sering berkunjung?
Semakin sulit prakiraan cuaca tidaklah lepas dari fenomena pemanasan global. Menurut IPCC (Intergovernmental Panel for Climate Change, http://www.ipcc.ch), pemanasan global akan berdampak pada meningkatnya frekuensi kejadian dan intensitas bencana seperti banjir, badai, kemarau panjang, dan gelombang panas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lantas bagaimana dampak terhadap Indonesia, yang di dalamnya terdapat lebih dari 17.500 pulau, yang mayoritas kota dan penduduknya terkonsentrasi pada pesisir pantai?
Naiknya permukaan laut menjadikan dataran rendah di pesisir pantai akan semakin sulit untuk ditinggali. Pulau-pulau kecil diperkirakan akan tenggelam dengan naiknya permukaan laut. Ibu kota Jakarta yang 40% daerahnya berada di bawah permukaan laut, besar kemungkinan akan menjadi langganan banjir.
Hal ini tentunya diperparah oleh penurunan permukaan tanah dan sistem drainase yang tidak terkelola dengan baik. Curah hujan periode bulan Desember sampai Februari selama abad 21 diperkirakan akan meningkat sekitar 10-20%, yang tentunya akan semakin mempersulit pengendalian banjir, khususnya bagi daerah daerah yang sebelumnya telah rawan banjir.
Lepas dari bencana banjir, kekeringan pun akan manjadi tamu yang semakin sering berkunjung. Sebagaimana kita rasakan bahwa sepanjang tahun 2006 terjadi kemarau cukup panjang yang disebabkan oleh El Nino, suatu fenomena meningkatnya suhu permukaan samudra pasifik di sepanjang garis katulistiwa dari Indonesia sampai Peru.
Selama El Nino berlangsung, uap air yang terbentuk di atas wilayah Indonesia akan tertiup ke bagian timur dan jatuh di lautan pasifik, yang mengakibatkan kemarau panjang bagi sebagian besar daerah Indonesia. Namun, sebaliknya bagi negara-negara Amerika Latin, selama El Nino, curah hujan menjadi sangat tinggi yang sering mengakibatkan banjir.
El Nino yang mulai dicatat sejak 300 tahun lalu, merupakan fenomena alam dengan siklus 2-7 tahun. Namun, frekuensi kejadian dan intensitas yang semakin kuat tercatat dalam dua dasawarsa terakhir ini. Kuatnya El Nino selainΒ menyebabkan kemarau panjang juga menjadikan kebakaran hutan alami maupun yang disengaja menjadi tidak terkendali.
Sebagaimana terjadi pada 1997-1998, tidak hanya alam yang menjadi korban. Kemarau panjang juga mempengaruhi kejiwaan manusia yang menyebabkan gejolak sosial dalam tanah air.
Walau tidak selalu, berlalunya El Nino akan diikuti dengan munculnya La Nina, si gadis cilik yang memiliki sifat yang bertolak belakang dengan El Nino. Bagi Indonesia, datangnya La Nina berarti kita harus siap menghadapi banjir dan tanah longsor, sebagaimana pada tahun 2002, 2007 dan 2008.
Pada akhirnya sebuah pertanyaan layak kita tanyakan pada diri kita sendiri. Sudah siapkah kita menghadapi buah dari kemajuan teknologi dan pembangunan yang lupa memperhitungkan aspek lingkungan, yang bernama bencana?
Kian Siong, PhD (JSPS Fellow)
Department of Environmental Science and Human Engineering
Saitama University Japan
siong@mail.saitama-u.ac.jp
(msh/msh)











































