Rasanya, penggalan puisi karya fotografer Jepang, Daisaku Heoda di atas sangat tepat untuk menggambarkan bahwa keindahan dari sesuatu yang hidup di sini dimaksudkan adalah alam. Sangat pas dengan situasi dunia saat ini. Khususnya Riau yang harus intropeksi diri di dalam derap pembangunan yang sedang menggebu-gebu.
Dari semua sektor, rasanya tak ada lagi yang perlu diragukan. Namun, yang harus kita ingat adalah respon dari alam yang menjadi korban dalam pencapaian Visi Pembangunan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, rasanya diri kita masih dijejali dengan pemikiran dan bahkan mungkin kejadian yang disebabkan oleh ulah dari kita sebagai manusia terhadap alam semesta ini. Walau hari-hari besar yang suci itu berlalu, namun kita masih harus terus introspeksi di dalam diri kita untuk mencari sumber dari semua permasalahan yang ada.
Apa pernah terfikirkan oleh kita bahwa Riau bisa saja tenggelam, terbakar, serta luluh lantak oleh panggilan alam yang sedari dulu kita secara objektif hanya memikirkan keuntungan daripada kelestarian dan manfaat ekologisnya yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan semua aspek kehidupan masyarakat Riau?
Dari Sumber Daya Alam (SDA) kita yang sangat mahal dan kaya, yaitu minyak bumi hingga yang terkini yang paling hangat menjadi perbincangan seluruh dunia, yaitu 'Lahan Gambut' kita yang menjadi lahan penyerap carbon dunia.
Perlu digarisbawahi dari kalimat yang terakhir yaitu, lahan gambut kita yang berpotensi dan berperan dalam menjaga kestabilan lingkungan hidup dengan kemampuannya sebagai daerah penyerap carbon dunia. Merupakan salah satu yang terpenting dari kekayaan kita yang harus kita mulai perhatikan kembali.
Kita ketahui bahwa lahan gambut kita kini menjadi perhatian dunia yang memang memiliki peran penting seperti yang telah disebutkan tadi. Tapi, apakah kita sadar bahwa kita telah lama melupakan dan kini setelah semuanya hampir percuma, baru kita kembali memperhatikannya. Setelah lahan tersebut mengalami kerusakan dan baru semua dari kita mulai sadar.
Apakah kita bisa dikatakan telah merasakan keindahan dari sesuatu yang hidup tadi? Hidup (lahan gambut kita yang kaya akan keanekaragaman dan keunikan flora dan faunanya) memang indah mungkin. Tapi, indah yang dilihat dari nominal dolar atau rupiah. Barangkali kita lupa akan panggilan dan keindahan alam kita yang satu itu.
Lama kita tidak merasakan indahnya hidup damai dengan alam. Nah, kinilah saatnya kita mulai merespon dan mungkin inilah saatnya kita untuk berdialog dengan alam kembali karena mungkin kita semua telah kelewatan dalam memperlakukan alam Riau kita ini. Khususnya lahan gambut kita yang kini sangat krusial kondisinya namun harus tetap kita pertahankan demi layaknya kehidupan kita.
Dalam hal ini Pemerintah, Institusi, pihak berwenang, dan semua pihak yang terkait harus lebih peka terhadap panggilan alam dan harus memperhatikannya. Kalau tidak, maka jangan menyesal kalau nantinya ada suatu panggilan atau respon yang lebih kejam dari alam terhadap manusia yang di sini adalah Masyarakat Riau.
Erlangga Saputra
Jl Karyabaru Marpoyan Pekanbaru
serlangga@yahoo.com
085278472300
(msh/msh)











































