Bangsaku yang sedang jatuh ...
Bangsaku yang sedang tidur ...
Bangsaku yang hancur ...
Bangsaku yang Munafik di tengah terik matahari di sudut kota yang penuh sesak para
pedagang. Tertanam satu tradisi kemunafikan. Tak terlihat lagi satu kebenaran di negeri tercinta ini. Yang ada hanya kebohongan dan kemunafikan yang kita temui.
Tak sedikit orang berdasi yang kita anggap sebagai wakil rakyat sekarang hanya mementingkan perutnya sendiri dan tidak melihat ke bawah dan tak terlintas di benak mereka bahwa di dasi merekalah kita rakyat kecil yang tertindas menaruh harapan untuk mewujudkan cita-cita mulia para pahlawan bangsa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kalau kita tidak cepat-cepat bangun dari tidur kita.
Mungkin kita harus sadar diri dan marilah kita bangun diri kita dengan moral dan hati nurani yang bersih sehingga kita bisa bangkit dari krisis multidimensi ini. Saya sendiri sedih melihat bangsaku yang munafik ini. Tidak ada kejujuran di negara ini.
Bangsa ini sedang mencari jati dirinya. Bangsa ini sekarang sedang mencari sesuatu yang samar yang tidak jelas karena bangsa ini juga bangsa yang tidak jelas atau samar. Bangsaku yang tak bisa berterima kasih. Bangsaku yang tak bisa berkaca dari kesalahan. Bangsaku yang SAMAR ..... GAK JELAS ....
Aku sedih sekali melihat bangsa ini. Mungkin kita pernah dengar lagunya Iwan Fals (jadilah kancil jangan jadi buaya karena kancil tahu akan bahaya, dan jadilah bunglon jangan jadi sapi karena seekor bunglon pandai baca situasi, jadilah karet jangan jadi besi karena karet tahan akan kondisi).
Mungkin kita membutuhkan seorang pemimpin yang berjiwa seperti yang ada dalam
lagu Iwan Fals. Saya warga NKRI sudah bosan dengan KEMUNAFIKAN, KEBOHONGAN, DAN KETIDAKJELASAN BANGSA INI. Saya malu sebagai bangsa yang tidak menghargai bangsanya sendiri.
I LOVE INDONESIA. KAPAN NEGERIKU BANGUN. KAPAN BANGSAKU MAJU. KAPAN?
Agus Ale
Senen Jakarta Pusat
alena_indi01@yahoo.com
+6281584492217
(msh/msh)











































