Sebagian besar partai politik pada 2008 nanti telah menyelesaikan masa konsolidasi dan bersiap menuju peak performance. Begitu pun para calon presiden yang sejak setahun lalu telah memulai persiapan menuju pertarungan yang sesungguhnya.
Tak jarang dalam masa persiapan sejauh ini muncul ketegangan-ketegangan antar capres, maupun antara capres dengan incumbent. Terakhir, publik disuguhi "perang" angka kemiskinan antara Wiranto dan Presiden SBY. Wiranto, yang dipercaya akan maju kembali pada 2009 mempublikasikan iklan kemiskinan menggunakan data Bank Dunia 2006, di mana kemiskinan Indonesia berada pada titik yang mencemaskan, 49,5%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
angka kemiskinan 2007, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), sekitar 16,5%. Kita tak sedang ingin berdebat tentang asal-usul angka-angka tersebut. Melainkan menyingkap motivasi dan kepentingan di balik setiap langkah dan manuver. Tak ada lain, muara dari semua itu adalah untuk menarik simpati publik.
Sejauh mana publik "terpengaruh" oleh setiap manuver dari para capres menjelang 2009? Apakah para capres hanya mengklaim dukungan? Sanggupkah SBY sebagai incumbent kembali mempertahankan kursinya di tengah kepungan sejumlah politisi senior?
Temuan survei yang dilakukan oleh Indo Barometer (IB), Desember 2007 menarik dicermati. Survei yang dilakukan di 33 provinsi dengan jumlah responden 1.200 orang setidaknya menggambarkan persepsi publik atas dinamika politik terakhir, terutama pertarungan menuju RI – 1 setahun lagi.
Sebagaimana temuan survei IB, diketahui bahwa tingkat kepuasan publik terhadap kinerja SBY berada pada level 55,6%. Angka itu tak jauh berbeda dengan temuan Lembaga Survei Indonesia (LSI) sebelumnya, Oktober 2007, yang sekitar 58%.
Lebih jauh ditarik ke belakang, sebagaimana survei LSI, periode Maret 2007 merupakan masa terendah kepuasan publik kepada SBY, di mana pada waktu itu tingkat kepuasan masyarakat turun hingga menembus batas psikologis ke level 49,7%. Namun, pasca Maret tingkat kepuasan publik terlihat menanjak konsisten menjadi 54,5% pada Mei, 55,5% pada Juli, dan akhirnya naik lagi ke level 58% pada Oktober ini.
Setelah responden mengungkapkan tingkat kepuasannya terhadap kinerja SBY, tidak berarti seratus persen dari mereka menginginkan SBY memimpin kembali pasca 2009. Indikasinya dapat dilihat dari temuan IB pada pertanyaan di atas. Hanya 49,5% responden yang menginginkan SBY memimpin kembali. Sementara 33,4% menyatakan sebaliknya.
Artinya, terjadi pengurangan 6,1% orang yang menyatakan puas dengan kinerja SBY, tetapi belum memutuskan untuk mendukungnya di 2009 nanti. Namun demikian, jumlah orang yang tidak puas terhadap SBY (40,1%), juga tidak berarti menolak SBY kembali memimpin. Buktinya, jumlah responden yang tidak menginginkan SBY terpilih lagi lebih rendah dari yang tidak puas, sekitar 33,4%, atau berkurang 6,7%.
Larinya suara ini ternyata ke pilihan ketiga, yaitu belum tahu atau memutuskan, yang jumlahnya cukup signifikan, sekitar 17,1%. Padahal pada pertanyaan tingkat kepuasan, hanya 4,3% responden yang menjawab tidak tahu.
Jika diterjemahkan, inilah potensi floating mass yang dapat dimaksimalkan oleh para capres saingan SBY. Jika angka 17,1% diakumulasi dengan orang yang tidak
menginginkan kembali SBY (33,4%), maka jumlahnya cukup signifikan, sekitar 50,5%. Sedikit di atas orang yang menginginkan kembali SBY.
Akan tetapi, angka tersebut akan bermakna jika para lawan politik SBY mampu menyatukan gerakan dan hanya memunculkan satu nama. Faktanya sejauh ini, masing-masing calon kandidat ingin maju sendiri-sendiri dan tak ada indikasi mereka akan menemukan konsensus.
Sedikitnya tujuh nama capres diramalkan akan meramaikan bursa menuju 2009. Jika beberapa diantaranya rontok di tengah jalan, dan jumlah peserta pemilu presiden sama dengan 2004, maka potensi 50,5% harus dibagi oleh empat capres. Dengan kata lain, sulit untuk membendung laju SBY yang memang sudah populer.
Ini bukan sekedar asumsi kosong. Temuan IB berikut, pada pertanyaan terbuka capres pilihan responden, 36,5% akan memilih SBY kembali. Hanya Mega yang konsisten membayangi dengan 25,5%. Sementara tokoh-tokoh lainnya tercecer di bawah 5%. Tren tersebut masih konsisten pada pertanyaan tertutup capres pilihan. Di mana SBY memimpin dengan 38,1% dan Mega berada di belakangnya dengan 27,4%. Tokoh-tokoh lainnya hanya mampu merangsek ke 6%. Makin mengkerucut nama-nama capres, suara SBY dan Mega juga makin besar.
Pada kemungkinan lima nama yang diajukan, SBY mampu merebut 44,1%, sementara Mega hanya 30,7%. Bahkan ketika SBY harus head to head dengan Mega, SBY masih unggul dengan perbandingan 51,2% dan 35,4%. Problem pilihan pasangan wapres juga tampaknya tak banyak menggeser popularitas SBY. Dipasangkan dengan siapa pun, SBY masih unggul atas Mega.
Pada survei IB untuk pasangan ideal pada putaran pertama, paket SBY – Sultan HB X menempati urutan tertinggi dibandingkan jika SBY berpasangan dengan tokoh lain. Duet SBY – Sultan didukung tak kurang 42,2%. Menariknya, paket terbaik Mega justru ketika ia harus berpasangan dengan JK, di mana paket ini meraup dukungan tertinggi (29,3%) dibandingkan jika Mega berpartner dengan tokoh lain.
Tren yang sama masih berlaku pada putaran kedua, ketika tinggal dua pasangan. SBY – Sultan HB X mencapai dukungan tertinggi pada level 49,8%, sementara Mega – JK dengan 32,4%. Apakah fenomena ini ada hubungan dengan silaturahmi politik PDIP – Golkar beberapa waktu lalu? Tak ada yang tak mungkin dalam politik.
Menarik menyingkap di balik kuatnya stamina politik SBY yang mampu bertahan di puncak popularitas dalam tiga tahun terakhir walaupun didera banyak masalah. Selama ini lawan politik SBY banyak mengkritik kepemimpinan SBY yang dianggap kurang tegas, lamban, dan bertele-tele.
Opini yang dibangun ini cukup kuat sehingga tanpa sadar banyak media "mengamininya". Uniknya opini di atas bertolak belakang dengan persepsi publik dalam survei ini. Pada pertanyaan alasan memilih capres, SBY dipersepsikan tegas dalam mengambil keputusan (50,4%), mampu memecahkan masalah (44,3%) dan berwibawa (67,2%). Namun, SBY tak bisa berlama-lama menikmati besarnya dukungan publik.
Pasalnya, Mega mampu mencuri perhatian masyarakat sekaligus mengungguli SBY pada dua isu penting. Mega dianggap lebih dekat dengan rakyat (41,1%), sementara SBY hanya 26,6%. Begitu pun dalam mengatasi masalah ekonomi, di mana Mega mengungguli SBY dengan 34,8% : 29,0%.
Melihat serunya persaingan SBY – Mega pada survei IB, Desember 2007 dan LSI, Oktober 2007, tak berlebihan jika penulis menyimpulkan pada 2009 nanti akan menjadi panggung SBY versus Mega jilid II.
Dan asumsi ini linear dengan hasil survei LSI Oktober lalu. Di mana pada waktu itu, SBY juga bersaing ketat versus Mega dengan perbandingan 35,5% : 28%. Ketika SBY – Mega dihadapkan langsung—tanpa tokoh lain—SBY unggul dengan 55%, sementara Mega 35,5%. Akankah pemilu presiden 2009 menjadi ulangan 2004? Semua spekulasi di atas akan terjawab pada 2008 ini. Kita tunggu saja.
Alex Sudarwanto
Jl Kenanga 6 No 32 RT 005 RW XVI Bogor
alex_sudarwanto@yahoo.co.id
(msh/msh)











































