Forbes Media Miskin Data

Forbes Media Miskin Data

- detikNews
Sabtu, 22 Des 2007 23:35 WIB
Forbes Media Miskin Data
Jakarta - Peran media kadang bisa menyulap hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. Dan yang mungkin menjadi tidak mungkin. Sebagai wadah yang membuat opini dimasyarakat dan dapat mengubah alur pikir dan mengkondisikan situasi sesuai keinginan media kerap sering disalahgunakan. Orang-orang yang memiliki kantong yang tebal tentu memahami betul peran penting media demi kepentingan mereka.

Baru-baru ini majalah Forbes Asia melansir berita tentang daftar orang terkaya di Indonesia, yang menempatkan Aburizal Bakrie di urutan pertama dan Jusuf Kalla diurutan ke-30. Adapun di antara mereka berdua merupakan pengusaha tulen, dan bukan pejabat publik atau politisi. Nama pengusaha lama seperti Sukanto Tanoto Bos RGM, Putra Sampoerna, Eka Tjipta Widjaja, Sjamsul Nursalim, dan lain-lain.

Saya tertawa mendengar pemberitaan itu. Jelas pemberitaan itu punya maksud dan skenario tertentu. Kok, bisa-bisa majalah tersebut tidak memasukan nama mantan Presiden Soeharto dalam daftar orang terkaya? Semua orang di Indonesia juga tahu siapa orang secara kasat mata paling terkaya di Indonesia. Bahkan bukan hanya level Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Soeharto dimungkinkan menjadi orang yang terkaya di dunia. Betapa tidak. Lebih dari 30 tahun ia berkuasa di negeri ini. Siapa pemimpin dunia yang dapat berkuasa di dunia selama itu?

Kita tahu seberapa kaya Ical dan JK saat Soeharto berkuasa. Ical pun mendapat kekayaannya berkat kedekatannya dengan keluarga dan kroni Soeharto. Bisa dibilang kalau Soeharto itu "Majikan" Ical. Masa bawahan lebih kaya daripada majikan? Kalau dikatakan Ical kaya tentunya masih pada level para kroni Soeharto, untuk ukuran terkaya di Indonesia. Tidak mungkin dapat melewati kekayaan yang dimiliki oleh Soeharto, kecuali ia mampu dan berani "Merampas Habis" seluruh kekayaan Soeharto dan keluargannya.

Selama Soeharto berkuasa tentulah amat banyak kekayaan yang dia ambil dari negeri tercinta. Alam berserta isinya dikawasan wilayah RI telah ada stempel "Soeharto". Keluarga dan para kroni-kroni sampai saat ini masih menjadi "Operator" mesin bisnis Soeharto. Yang dapat dipastikan seluruh usaha yang dimiliki merupakan mesin pencetak uang. Bila dirinci berapa banyak perusahaan yang dimiliki Soeharto dan berapa pula kekayaan yang dimiliki Soeharto? Tentu "Kalkulator" pun akan bingung menjumlahkannya.

Pendapat saya bukannya mengada-ngada. Data terkait Soeharto telah banyak sekali dan dari berbagai sumber hidup pun meyakinkan atas pendapat saya tersebut. Selama 30 tahun saya mencermati akan hal itu.

Jadi menurut saya pemberitaan majalah Forbes yang tidak memasukkan nama Soeharto sebagai orang terkaya di Indonesia membuktikan bahwa Forbes Asia merupakan media yang miskin akan data. Atau memang ada skenario Forbes untuk menyelamatkan Soeharto dengan pengalihan isu orang terkaya di Indonesia ini? Agar Soeharto semakin aman karena tidak diperbincangkan.

Rakyat sudah tidak bodoh, mencermati segala isu di media, dan perkembangan politik yang ada saat ini. Kita tahu, skenario Soeharto yang sampai detik ini tidak tersentuh oleh hukum. Skenario SKP3 Soeharto, "Tim Dokter", menjadi hakim sesungguhnya, vonis bebas bagi Soeharto. Skenario "Tidak Boleh Muncul", yang diperankan Soeharto berjalan mulus, didukung segenap media yang ada, di bawah pengaruhnya. Semakin membuat publik lupa akan kejahatan yang ia lakukan. Β 

Hendri
Jl Pondok Jaya Jakarta Selatan
dony_ler@yahoo.com
085691406951

(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads