Hari-hari Melelahkan Menelusuri Jakarta

Hari-hari Melelahkan Menelusuri Jakarta

- detikNews
Jumat, 14 Des 2007 13:46 WIB
Hari-hari Melelahkan Menelusuri Jakarta
Jakarta - Setiap hari puluhan ribu manusia yang berada di lingkaran ibu kota. Baik dari Bekasi, Depok, Bogor, dan Tangerang melangkahkan kakinya ke Ibu Kota Jakarta untuk menjalankan rutinitas kesehariannya. Transportasi menjadi faktor penting untuk mengangkut puluhan ribu warga ini. Dari kereta, bus, kendaraan pribadi sampai dengan sepeda motor.

Dengan banyaknya aktivitas warga membuat transportasi menuju Jakarta terutama pada jam-jam pagi hari dan sore hari sepulang kerja menjadi padat. Pemandangan macet sudah menjadi pemandangan yang biasa dan masyarakat dipaksa untuk biasa dengan keadaan ini.
Semrawut adalah kata yang pantas disandang jalan-jalan di Jakarta saat macet. Semua kendaraan baik bus penumpang, kendaraan pribadi, dan sepeda motor saling berebut jalan untuk paling cepat mencapai tujuan. Tak ayal sering terjadi adu mulut di setiap terjadi kemacetan. Perang klakson juga menjadi pemandangan yang lumrah di ibu kota ini.

Pemerintah bersusah payah mengantisipasi kemacetan yang tiap hari selalu menghampiri ruas-ruas jalan di ibu kota ini. Beberapa tahun lalu pemerintah menggulirkan 3 in 1 untuk kendaraan pribadi jika melewati ruas-ruas jalan protokol. Namun, usaha ini seakan-akan sia-sia belaka. Banyak joki 3 in 1 yang membuat para pengendara kendaraan pribadi menggunakan jasa mereka ketimbang memarkir kendaraan mereka di rumah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bahkan, joki-joki ini menjadi semacam pekerjaan tambahan bagi sebagian warga Jakarta sendiri. Dan lagi-lagi pemerintah daerah tidak berdaya mengatasi hal ini. Meski dinilai kurang efektif toh pemerintah masih memberlakukan sistem ini.

Pemerintah juga telah melakukan beberapa trobosan. Di antaranya pembuatan fly over dan under pass untuk mengatasi stragnasi kemacetan yang terjadi. Pembangunan fly over dan under pass ini memang memperlancar arus yang tadinya macet di suatu tempat. Namun, dampaknya hanya memindahkan kemacetan dari satu titik ke titik lainnya.

Sebagai contoh, pembangunan under pass di Pasar Minggu. Hanya mengatasi kemacetan panjang yang terjadi di daerah itu yang disebabkan adanya pasar. Namun, saat ini setelah under pass ini dioperasikan kemacetan tidak lagi terjadi di Pasar Minggu tapi bergeser lagi ke arah utara. Setiap pagi kemacetan terjadi selepas Pasar Minggu hingga Pancoran.

Bagaimana pun juga pemerintah telah berusaha semaksimal mungkin untuk mengatasi kemacetan ini. Namun, karena banyaknya volume kendaraan ini menyebabkan apa pun yang dilakukan pemerintah terasa kurang efektif.

Untuk mengantisipasi kemacetan di jalur-jalur strategis pemerintah daerah juga telah menerapkan busway yang mengadopsi sistem di Bogota. Banyak pro dan kontra pembangunan busway ini. Namun, pemerintah tetap yakin apa yang dilakukannya kali ini mampu mencairkan kemacetan yang tiap hari menghampiri jalanan ibu kota.

Segala daya dan upaya telah dilakukan pemerintah daerah toh belum maksimal. Yang menjadi pertanyaan sekarang apa sebenarnya penyebab kemacetan ini? Jika kita jujur menilik kondisi langsung di lapangan sebenarnya yang menjadi penyebab kemacetan di ibu kota adalah banyaknya kendaraan yang tidak sebanding dengan panjang jalan raya.

Lalu, siapa yang bertanggung jawab dengan jumlah kendaraan ini. Pemerintah daerah? Tentunya pemerintah daerah juga punya kepentingan dengan banyaknya jumlah kendaraan. Hal ini dilihat dari pajak kendaraan yang sangat menguntungkan. Selain itu banyaknya  kendaraan bermotor juga menjadi angin segar bagi pangsa industri otomotif.

Lalu, apa yang harus kita lakukan pemerintah untuk mengatasi hal ini? Tentunya adalah mengatur banyaknya kendaraan bermotor ini. Ada beberapa hal yang mungkin bisa menjadi acuan bagi pemerintah untuk melihat kemacetan ini lebih mendalam:
  1. Adanya keinginan untuk melakukan pembatasan usia kendaraan. Hal ini tentunya akan menimbulkan pro kontra yang sangat tajam. Alasan ini dinilai tidak memperhatikan hak asasi manusia karena membatasi seseorang untuk memiliki kendaraan pribadi. Apalagi bagi  kalangan menengah yang saat ini mungkin hanya mampu memiliki kendaraan di atas usia 5 tahun. Selain itu, kondisi di lapangan. Jika kita jujur, kendaraan pribadi yang lalu lalang di jalanan Jakarta pada umumnya merupakan kendaraan baru yang usianya di bawah 5 tahun. Dan mungkin hanya sedikit kita temui kendaraan di bawah usia 10 tahun. Jadi jika memaksakan pembatasan usia kendaraan diyakini tidak akan berpengaruh banyak mengatasi kemacetan yang terjadi.
  2. Membatasi penggunaan kendaraan pribadi dengan pemberlakuan sistem 3 in 1 secara ketat. Jika kita terjebak kemacetan yang panjang. Coba amati. Dari sekian kendaraan pribadi yang ikut terjebak pastilah di dalamnya berisi 1 atau 2 orang saja. Sungguh ironis. Sebenrnya kemacetan di Jakarta hanya disebabkan oleh beberapa orang yang memaksakan diri menggunakan kendaraan pribadi. Jika dalam satu mobil berisi 5-6 orang berarti sudah mengurangi minimal 3-4 mobil dan tentunya akan mengurangi kemacetan yang terjadi.
  3. Pemberlakuan Sistem Ganjil-Genap. Dengan pemberlakukan sistem ini diyakini bisa banyak mengurangi jumlah kendaraan yang beredar di jalanan. karena jika diasumsikan satu keluarga memiliki satu mobil berarti akan mengurangi setengah dari kendaraan yang ada di jalanan. Selain itu, dengan sistem ini tidak mengecualikan usia kendaraan dan berarti lagi tidak ada pembedaan perlakuan antara kendaraan baru dan kendaraan tua.
  4. Pemilihan kendaraan yang cocok untuk Jakarta. Jakarta adalah kota kecil dengan jalanan yang rawan macet. Untuk itu, kendaraan yang cocok untuk jakarta adalah city car dengan cc kecil maksimal 2000 cc. City car dinilai tepat digunakan di Jakarta karena lincah digunakan dan hemat bahan bakar. Kepemilikan mobil berbadan lebar dengan cc di atas 2500 cc dinilai hanya akan mengganggu di tengah kemacetan dan boros bahan bakar.
  5. Kesadaran bagi para pengendara. Selain pengendara kendaraan pribadi yang juga harus menghormati pengendara lainnya. Para pengendara sepeda motor juga mempunyai andil besar kemacetan di Jakarta. Bukan hal yang luar biasa jika para bikers sering memotong jalur, naik trotoar, bahkan menerobos badan-badan jalan. Ini yang memperparah kemacetan di Jakarta.
  6. Pemenuhan kendaraan massal yang aman dan nyaman. Saat ini jika kita lihat di lapangan. Kereta Api Listrik yang tiap hari kita tumpangi terutama klas ekonomi sangat jauh dari nyaman dan aman. Selain penuh sesak, pedagang asongan, pengamen, bahkan pelaku kejahatan dengan bebas keluar masuk moda transportasi ini. Selain itu, bus-bus yang melintasi jalan raya kita lihat tidak manusiawi. Bergelantungan dan asap tebal adalah hal lumrah yang biasa kita saksikan. Kopaja, Metromini, angkutan umum lainnya berhenti seenaknya dan membuat kemacetan semakin menggila.

Inilah Jakarta. Hari-hariku kian melelahkan menelusuri jalanan ibu kota. Ayo kita sama-sama memikirkan solusinya.

Atur Toto S
Member milis Katana Owner Club (KOC)
atur@qchannel.tv

(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads