Sesuai dengan keputusan pemerintah maka pada UN yang akan datang Dewi harus lulus mata pelajaran Matematika, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Biologi, Fisika, dan Kimia dengan standar kelulusan 5,25. Senin hingga Sabtu, di sekolahnya dilaksanakan tambahan pelajaran enam mata pelajaran yang akan di-UN-kan.
Dengan penuh keterpaksaan dia harus menjalaninya. Walaupun itu sangat memberatkannya. Selain itu, guru-guru mata pelajaran yang bersangkutan tak jarang menakut-nakutinya jika pada UN tidak lulus. Maka akan berakibat masa depannya akan suram.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tugas guru hanya mengajarkan ilmu (transfer of knowledge) itu saja sudah cukup. Bukankah banyak jebolan dari sekolah dengan nilai UN yang memuaskan namun nasibnya kini banyak yang menganggur.
Sekarang ini kalau hanya nilai bagus pekerjaan belum juga menjanjikan. Perlu kiranya lembaga pendidikan memberikan ketrampilan life skill untuk masa depannya. Bukankah demikian?
Ketika UN akan tiba berikan semangat kepada siswa, secukupnya saja. Itu saja sudah cukup. Seandainya tidak lulus UN masih ada juga cara yang harus ditempuh. Dan itu bukan merupakan sebuah kegagalan. Barangkali itu jalan bagi siswa untuk menuju sukses.
Tulisan ini bukan berdasar ego semata. Namun hasil empiris penulis yang telah meninggalkan bangku SMA empat setengah tahun yang lalu. Banyak kawan-kawan saya yang ijazahnya mangkrak di almari dengan berbagai alasan sehingga, UN, bukan sesuatu yang perlu ditakutkan.
Syaiful Mustaqim
Jl Kauman II Margoyoso Kalinyamatan Jepara 59462 Jawa Tengah
sae_full6637@yahoo.com
085640033625
Foto/ist.
(msh/msh)











































