Data WHO/UNAIDS pada tahun 2002 menunjukkan bahwa HIV AIDS menyerang 0,1% dari seluruh populasi di Indonesia. Sebagai bentuk fenomena gunung es jumlah ini diyakini lebih kecil dari yang sesungguhnya. Β
Di Indonesia, penularan secara heteroseksual menempati urutan peryama yaitu 55,4%, diikuti oleh penggunaan jarum suntik narkoba atau injecting drug users. Fenomena yang terjadi pada 2 tahun belakangan ini memperlihatkan bahwa jumlah infeksi akibat injecting drug users akan lebih tinggi. Hal ini sesuai dengan semakin besarnya permasalahan penyalahgunaan narkoba di Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Thailand dan Kamboja merupakan contoh keberhasilan program pengendalian penyebaran HIV AIDS. Kampanye HIV AIDS di Indonesia baru mulai gencar dilakukan. Kampanye utama yang dilakukan adalah mensosialisasikan cara-cara penularan HIV AIDS.
Melakukan kampanye penggunaan kondom untuk hubungan seks yang tidak aman dan kampanye anti narkoba pada remaja. Upaya tindakan promosi ini harus pula diikuti dengan memperluas akses untuk tes diagnosis, mempermudah akses terapi bagi penderita, dan upaya pendampingan bagi penderita HIV AIDS.
Peningkatan kasus HIV AIDS yang sangat tajam di Indonesia (meningkat sampai dengan 62% dari angka 210.000 di tahun sebelumnya) menjadikan Indonesia sebagai salah satu fokus penanganan HIV AIDS di dunia. Negara lain yang mendapatkan perhatian pula dari WHO (Badan Kesehatan Dunia) adalah RRC dan Thailand.
Berbagai upaya kampanye telah dilakukan untuk menurunkan angka kejadian dan penularan HIV AIDS. Upaya kampanye terutama ditujukan pada kelompok-kelompok yang memiliki risiko tinggi seperti para pengguna narkoba suntik atau injecting drug users dan pekerja seks komersial. Upaya kampanye juga dilakukan bagi kelompok masyarakat yang lebih luas tentang cara penularan HIV AIDS.
Kampanye untuk menanggulangi HIV AIDS harus pula diimbangi dengan kampanye untuk menghapus stigma. Masih banyak penderita HIV AIDS yang hidup dengan stigma, dan tersingkir dari lingkungan yang seharusnya. Kampanye tentang cara peularan HIV AIDS merupakan salah satu upaya untuk menghapus stigma yang melekat pada penderita. Perlakuan yang disriminatif bagi penderita HIV AIDS masih sering dijumpai.
Upaya lain yang harus terus dikembangkan adalah pembukaan akses yang lebih luas untuk tes diagnosis, pembukaan akses untuk obat anti retroviral secara lebih mudah bagi penderita, dan pendampingan bagi penderita. Pelayanan kesehatan yang lebih komprehensif tentu akan diperkuat dengan pembentukan tim HIV AIDS di RS. Masalah HIV AIDS yang kompleks tentu akan lebih baik dikelola oleh tim kesehatan yang multi disiplin.
Pada akhirnya semua pihak berharap bahwa upaya penanggulangan AIDS tidak hanya dilakukan dengan cara-cara seremonial seperti konser musik atau pembagian pita. Namun, juga menyentuh masalah-masalah substansi seperti ATM kondom yang masih kontroversial.
Rizaldy Pinzon, dr, MKes, SpS
www.strokebethesda.com
medidoc2002@yahoo.com
Bekerja dan tinggal di Yogyakarta (msh/msh)











































