Segala aspek tentang kondisi penyakit dan perawatan dijelaskan kepada pasien. Istri pasien dapat mengerti dan menujukkan sikap yang kooperatif dengan perawatan dan tindakan medis. Hari berikutnya datang beberapa orang yang mengaku "sanak saudara" dan "kerabat" dan mengatakan, "bagaimana menurut dokter bila saya bawa ke Singapura?"
Dokter menyatakan, "Silahkan saja, itu menjadi hak penuh pasien dan keluarga". Tiada lama berselang datang lagi "kerabat yang lain", dan membawa misi yang lain. Kedua "kerabat" tersebut ternyata merupakan perwakilan kelompok medis yang berbeda di Singapura. Masing-masing perwakilan pun menelpon dokter dengan misi yang sama "tolong arahkan pasien anda untuk ke kelompok RS saya".
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam bidang ilmu ekonomi ada 2 konsep yaitu: keinginan (wants) dan kebutuhan (needs). Keinginan menggambarkan apa yang diharapkan. Keinginan lebih luas sifatnya dari kebutuhan. Di sisi lain ada kebutuhan yang menggambarkan apa yang benar-benar harus dipenuhi bagi seseorang (Keiding, 2005). Apakah pasien Bapak S tersebut di atas perlu dirujuk? Pada kasus di atas tampaknya keinginan lebih menonjol dari kebutuhan.
Pada pelayanan kesehatan yang berpusat pada pasien (patient centered care), pemahaman yang komprehensif dari keinginan pasien menjadi hal yang penting. Ungkapan "saya hanya mau sembuh" kadang tidak cukup. Luaran klinik yang ingin dicapai harus disesuaikan dengan kondisi klinik, keinginan pasien, dan kemampuan organisasi pelayanan kesehatan. Diskusi yang mendalam antara pasien dan dokternya diperlukan untuk pencapaian tujuan pelayanan klinik (Knops dkk., 2005). Â
Memahami keinginan dan kebutuhan pasien akan membantu para pemberi pelayanan kesehatan untuk memberikan pelayanan yang lebih adekuat. Pada beberapa keadaan seringkali dijumpai adanya kesenjangan antara keinginan pasien dan pelayanan kesehatan yang diterimanya. Kesenjangan ini dapat berujung menjadi ketidakpuasan.
Kembali pada kasus di atas. Dua pihak "kerabat" yang datang memberi "iming-iming" pelayanan yang lebih holistik, alat yang lebih canggih, dan dokter yang lebih pintar. Apakah benar demikian? Tampaknya tidak juga.
Pada contoh kasus di atas tampak sekali bahwa pelayanan kesehatan di negara tetangga telah dikelola dengan aspek bisnis murni. Strategi pemasaran yang digunakan pun sama seperti bisnis yang lain. Tidak ada lagi wujud lembaga usaha yang bersifat sosial. Semua pihak mengklaim pelayanannya nomor satu. Bahkan dokter yang mau merujuk pun mendapatkan tekanan atau bahkan "iming-iming" yang lain.
Di negara tetangga kita tersebut pasien dari Indonesia harus masuk ke kelas I perawatan. Pasien tidak boleh menginap di kelas 2 atau bahkan kelas 3. "Kelas 2 dan kelas 3 hanya bagi warganegara kami, dan negara memberikan subsidi yang sesuai", demikian kata-kata humas perwakilan kelompok pelayanan kesehatan di Singapura.
Pada kondisi demikian, Indonesia dianggap sebagai pasar yang sangat potensial. Berbagai acara "temu ilmiah" diadakan untuk menarik simpati. Acara diadakan di restoran terkenal, ruang pertemuan hotel, dengan peserta undangan yang benar-benar terpilih.
Ungkapan propaganda "pelayanan kami lebih bagus", "alat kami yang paling lengkap",
"dokter kami lulusan Harvard, dan tentunya lebih bagus", "biaya kami juga murah" sering kali terdengar. Celakanya masyarakat Indonesia yang hadir (termasuk para dokter Indonesia, di antaranya saya) mengamini propaganda tersebut. Ungkapan "tampaknya kita di Indonesia, lebih banyak melayani kasus serupa" baru muncul setelah acara usai.
Beberapa hari kemarin di sebuah harian nasional terkemuka, iklan layanan kelompok kesehatan Singapura muncul setengah halaman, dan tidak lama berselang iklan pameran kesehatan Malaysia muncul setengah halaman pula. Di harian yang sama, di kolom kecil muncul artikel "Tuntutan Profesionalisme Kedokteran makin Tinggi".
Kolom kecil itu mengingatkan para dokter di Indonesia untuk lebih profesional, melayani dengan baik, sesuai dengan standar profesi dan etika. Kita diingatkan bahwa satu-satunya cara untuk menjawab kritik adalah dengan terus memperbaharui diri.
Profesi kesehatan di Indonesia akan dihadapkan pada kenyataan bahwa ekspansi bisnis medis asing telah merambah masuk dengan cepat. Sama seperti sifat bisnis yang lain, maka nilai-nilai sosial pun akan cenderung ditinggalkan.
Kelompok medis asing tersebut akan membidik kelompok masyarakat yang berpunya di Indonesia. Profesi medis di Indonesia harus menyadari bahwa memperbaiki diri merupakan satu-satunya jalan. Bagi dokter yang merawat Bapak S di atas "keinginan keluarga untuk dirujuk ke singapura" telah menjadi kritik yang membangun untuk terus mengembangkan diri. Dokter juga berharap "semoga kondisi Bapak S di negara tetangga akan lebih baik".
Pemahaman akan keinginan pasien merupakan hal yang sangat diperlukan. Komunikasi yang baik akan mampu mengeksplorasi keinginan seorang pasien dari pemberi pelayanan kesehatan. Pada tingkatan yang lebih tinggi, pemahaman akan keinginan pasien akan sangat membantu dalam penyusunan strategi pemasaran dan pengembangan organisasi pelayanan kesehatan.
Rizaldy Pinzon, dr, MKes, SpS
Dokter, bekerja dan tinggal di Yogyakarta
SMF Saraf RS Bethesda Yogyakarta
medidoc2002@yahoo.com
08122731487
(msh/msh)











































