Peradaban Baru

Surat Terbuka bagi Presiden Ahmadinejad

Peradaban Baru

- detikNews
Selasa, 27 Nov 2007 09:47 WIB
Peradaban Baru
Jakarta - Kekaguman saya dan mungkin berjuta-juta masyarakat Iran dan Indonesia kepada Ahmadinejad Presiden Iran yang dikenal sederhana dan berani lebih bersipat rindu-rindu tapi malu. Atau bahkan takut atau berat untuk mengikutinya.

Rindu artinya kita sangat rindu terhadap keberanian dan ketegasan Presiden Ahmadinejad menghadapi Amerika Serikat dan imprealis barat yang memang zalim. Rindu kita kepada Ahmadinejad karena kecerdasan Intelektual berdasarkan landasan buah Tauhid (keadilan, nilai-nilai kemanusiaan, dan kasih sayang), kesederhanaan dia, dan kemandiriannya.

Malu artinya kita masih sangat malu dan bahkan sangat takut atau berat untuk mencontoh berlaku hidup adil, menahan diri dari nafsu, bersikap bersahaja (sederhana) sebagaimana perilaku Presiden Ahmadinejad. Takut eksistensi kita di mata masyarakat jatuh dan terpuruk karena sesungguhnya perilaku kita masih suka menilai sebuah keberhasilan itu dari gemerlapnya perolehan duniawi. Sebuah keadaan peradaban di negeri kita yang kontradiksi dengan prinsip dan perilaku sang Presiden Iran.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pertanyaan besar bagi kita Bangsa Indonesia, kapan kita akan memulai perubahan peradaban dunia ini sebagaimana yang telah dimulai seorang anak tukang pandai besi di Iran tersebut. Apa betul, yang dibenci atau dilawan seorang Ahmadinejad adalah Negara Amerikanya atau sekutunya? Apa bukan yang lainnya?

Kegaguman saya kepada Ahmadinejad bukan karena sikapnya yang tegas terhadap Amerika dan sekutu-sekutunya serta program nuklirnya. Tetapi, kepiawaiannya memilih pola hidup sederhana, keberpihakan terhadap kaum dhuafa, dan tegas terhadap pihak yang memaksakan kehendak terhadap bangsa dan negaranya, tegas memperjuangkan nilai-nilai keadilan, kebersamaan, dan kesederajadan terhadap pihak lain. Sesungguhnya nilai-nilai inilah merupakan milik semua agama, termasuk mayoritas masyarakat dari negara-negara yang lagi berseberangan dengan Ahmadinejad.

Sesungguhnya yang ditakuti musuh kita adalah kesederhanaan dan kemandirian. Musuh kita akan dengan mudah menguasai negara berkembang yang pola hidupnya konsumtif dan bermewah-mewahan. Akibat dari pola tersebut akhirnya muncul kebiasaan korupsi, kolusi, dan nepotisme sehingga sangat wajar kalau akhirnya negara dibebani hutang luar negeri yang besar. Ujung-ujungnya negara berkembang tersebut akan sangat bergantung kepada sang pemaksa atau neoimprealis.

Jangan harap Sebuah negara berkembang bisa keluar dari jerat sistem kapitalis atau imperialis. Selagi negara tersebut gemar berhutang, asyik dengan pola hidup mewah, mengedepankan budaya konsumerisme, konsumtivisme, yang akibatnya hidup jauh dari kesederhanaan dan keadilan .

Musuh kita lebih takut pada negara yang masyarakatnya pandai mengendalikan hawa nafsu, mandiri mempunyai landasan tauhid, dan ketaqwaannya yang Kuat. Menghadapi musuh atau Imperialis siapa pun harus selalu istiqomah, hidup bersahaja, mampu berdikari (meminjam istilah Bung Karno: berdiri di atas kaki sendiri). Karena dengan hidup sederhana yang dilakukan presiden, kabinet, parlemen, dan masyarakat kita, tidak akan ada celah bagi musuh untuk menguasai dan mengobok-obok bangsa kita.

Bersama kesederhanaan akan membuahkan keadilan. Kalau adil pasti ada persatuan yang kokoh karena Insya Allah tidak akan ada yang terzalimi. Pertanyaannya Kapan Indonesia Bangkit?

Sebagai bangsa timur yang beradab, yang selayaknya memimpin peradaban dunia. Bukankah kita lebih senang hidup Mandiri merdeka, tidak dijajah, tidak bergantung kepada segelintir bangsa yang yang mempunyai kekuasaan modal (kapital)?

Bukankah kita adalah bangsa yang berdaulat dan berbhinneka. Bebas menentukan pikiran dan peradaban budaya kita sendiri tanpa harus menjadi bangsa lain dan menjadi sasaran Intervensi bangsa-bangsa lain tersebut.

Mandiri, bukan berarti harus mengisolasi diri. Tetapi kapan kerja sama atau tidak. Dengan siapa kita harus bekerja sama, adalah semata-mata karena atas dasar saling menghormati, saling memberikan manfaat, bukan atas dasar karena ketidaksadaran atau karena keterpaksaan.

Karena sejatinya, Ahmadinejad selalu menanti munculnya sahabatnya dari Bumi Pertiwi Indonesia yang tercinta ini. Yang mempunyai semangat juang untuk memujudkan tata peradaban dunia baru yang lebih adil, saling menghormati, berpikiran ke depan, dengan semangat hanya semata-mata karena menjalankan perintah Tuhan untuk mensejahterakan alam semesta tercinta ini.

Di samping itu sahabat yang juga masih jadi orang Indonesia, yang bukan sahabat yang ingin jadi orang Iran, Arab, India, Jepang, Amerika, China, India, dan sebagainya.

Kapan akan muncul tokoh hebat dari Bumi Pertiwi Indonesia tercinta? Jawabannya adalah ada yang mau memulai atau tidak. Mengenai kapannya biarlah sejarah yang akan menjawabnya, dan ini adalah tanggung jawab kita semua anak bangsa dengan semangat Bhineka Tunggal Ika.

Bukan semangat mengedepankan perbedaan, bukan semangat yang pingin menang sendiri. Tetapi,Β  semangat yang mengedepankan kesamaan, tidak peduli agamanya, warna kulitnya, bahasanya, yakni yang sama-sama membangun Indonesia tercinta, adil dan makmur, sebagaimana yang diamanahkan dalam dasar negara kita.

Mari kita akhiri mempermasalahkan perbedaan yang tidak prinsip. Biarlah perbedaan itu menjadi urusan masing-masing. Kita rajut sisi kesamaan untuk membangun Indonesia tercinta ini. Semangat saling bantu-membantu sebagaimana yang telah diikrarkan pada saat Sumpah Pemuda pada tahun 1928, dan terkristalisasi pada falsafah dasar negara kita yakni Pancasila.

Jangan Tanyakan apa yang Negara berikan kepada kita. Tetapi, tanyakan apa yang kita berikan kepada Negara dan bangsa kita? Jangan tanyakan orang lain yang diperbuat untuk negera dan bangsa kita. Tetapi, tanyakan pada diri sendiri, apa yang sudah dan akan saya perbuat demi membangun Negara dan Bangsa Indonesia tercinta ini.

Kita harus berani bermimpi Indonesia akan menjadi pusat peradaban tata dunia baru, yang mengusung nilai-nilai luhur, yang bukan mengedepankan senjata. Inilah yang ditunggu-tunggu oleh bangsa beradab di seluruh jagat raya ini.

Jawabannya adalah hanya dan hanya dengan kerja keras dan cerdas, dan selalu istiqomah atau konsisten. Saling bantu membantu dengan selalu minta petunjuk dan bantuan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Semoga Ahmadinejad selalu Istiqomah dalam Ridhlo-NYA dan berhasil menemukan sahabatnya dari Indonesia.

Budi Praptono
Jl Mekarsari Inteldam Baleendah Bandung
bpt@stttelkom.ac.id
022-70058797/ 08122049898


Penulis Dosen PTS, Ketua Forum Sosial Merah Putih Bersatu Indonesia
Opini ini juga sebagai surat untuk Ahamdinejad lewat Kedubes Iran di Jakarta

(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads