Β
Tapi, kita tidak sadar apa yang telah kita berikan untuk bangsa ini. Malah semakin hari dengan kemajuan teknologi bangsa Indonesia mempunyai sifat konsumtif yang tidak memiliki sifat sosial kebangsaan dan bangga dengan bangsanya sendiri.
Dengan kata lain menurut pendapat saya bangsa Indonesia itu seperti pinter tapi bodoh. Banyak profesor, sarjana, dan orang-orang yang sekolahnya tinggi tapi tidak untuk dirinya dan bangsanya, dan itu seperti monyet berbaju emas, punya nilai, harganya mahal tapi otaknya terbelakang.
Bapak, ibu, mas, ujang, sadar semua ini. Saya pikir karena kualitas pendidikan dan ilmu yang diajarkan rendah. Atau ada unsur lain yang menggapainya. Kayaknya pendidikan di kita itu orientasinya uang. Sekolah harus pakai uang. Untuk mendapatkan uang. Makin mahal sebuah sekolah nantinya uang yang kita bisa dapatkan lebih banyak. Oohhh, kejam sekali dunia. Apakah seperti ini bangsa kita itu pemikirannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saya perhatikan pemerintah menggalakkan wajib belajar 9 tahun, dan kalau menurut saya program pemerintah itu tidak punya dasar hukum yang kuat. Itu menurut saya soalnya saya juga tidak tahu. Undang-undangnya ada atau tidak ada, dan kalau ada yang namanya wajib kan harus diikuti dan kalau tidak kena sanksi kan. Sekarang menggalakkan wajib belajar kalau tidak melaksanakannya sanksinya apa?
Terus, maaf nih buat para pengajar di lingkungan pendidik. Janganlah engkau menjadikan dunia suci pendidikan ini dijadikan ajang bisnis demi mencukupi kebutuhan hidup kita dan keluarga. Ingat yang namanya kemuliaan itu jangan dicampurkan dengan kepentingan pribadi. Untuk itu buat pemerintah terus galakkan wajib belajar 9 tahun dan lengkapi dengan aturan-aturan yang jelas dan tegas untuk anak-anak kita.
Bapak atau Ibu, lihat donk beningnya mata anak-anak bangsa. Jangan rusak dengan keserakahan kita, dan sadar apa pun bentuknya suatu program dan aturan kalau diri kita masih seperti ini tidak mungkin terwujud.
Ini aku punya pendapat. Bagaimana kalau SD dan SMP gratis tanpa pungutan apa-apa. Buat aturan di mana kalau ada orang tua yang punya anak dalam masa wajib belajar 9 tahun ini tidak sekolah itu dikenakan sanksi yang tegas dan bisa dikatagorikan pengkhianat bangsa.
Terus ada yang menyatakan kalau digratiskan untuk semua orang wah enak orang-orang kaya donk. Sudah kaya sekolah gratis lagi. Tidak Bapak atau Ibu. Pemerintah bisa mengambil sebagian harta mereka dari pajak penghasilannya. Susah amat.
Terus jangan seperti sekarang. Orang miskin bisa sekolah gratis tapi dia benar-benar harus melengkapai surat-surat sebagai orang miskin. Wah, kejam sekali dunia ini. Orang miskin harus punya sertifikatnya dan perlu diketahui juga tidak semua anak bisa mau menerima hal ini dan kadang bisa membuat minder di lingkungan sekolah tersebut.
Ini bisa membuat pikiran dan psikisnya tidak baik. Masa sih di kita banyak dokter-dokter, psikiater tidak berpikir ke sana. Makanya bila semua anak mempunyai perlakuan yang sama,Β tidak ada beban apa pun, dan perbedaan maka insya Alloh anak-anak kita akan terus terang cahaya mata indahnya itu. Gapailah bintang dengan setingginya. Lihatlah senyumnya. Candanya.
Dan yang terakhir saya juga tahu sekarangkan ada Komisi Nasional Perlindungan Anak. Kalau ada kekerasan terhadap anak pasti dibela donk. Apalagi anak-anak artis dan orang yang berduit wah pasti sibuk membelanya.
Tapi, saya heran kok orang-orang Komnas HAM tidak ada yang sadar bahwa di Indonesia ini telah terjadi kekerasan yang sifatnya global dan banyak, yang mana seharusnya pihak Komnas HAM sadar.
Hak-hak mendasar anak-anak bangsa indonesia banyak yang direbut dan ini merupakan hak yang paling mendasar yaitu pendidikan. Bagaimana donk? Pak Komnas HAM bangun donk. Lihat sekelilingnya. Bela donk. Ajukan ke pemerintah supaya serius dan buat aturan yang jelas, tegas, dan bagus buat anak-anak kita.
Hapid
Baleendah Bandung
h_hafidz@yahoo.com
022 70355394
(msh/msh)











































