Pilkada ... Ha ... Ha ...

Pilkada ... Ha ... Ha ...

- detikNews
Kamis, 22 Nov 2007 09:26 WIB
Pilkada ... Ha ... Ha ...
Jakarta - Pemilihan Kepala Daerah (pilkada) saat ini saya rasa benar-benar sudah kebablasan. Entah tidak tahu malu atau memang ada indikasi lain yang jadi kepentingan dalam ranah politik di negeri ini. Saya sebagai orang awam kadang-kadang bingung. Kadang-kadang geram melihat apa yang ditampilkan di berita televisi.

Jika di satu daerah ada pemilihan kepala daerah saya hampir yakin 100% daerah di sana akan ribut atau minimal tegang. Apakah ini result dari otonomi daerah yang ditetapkan para penyelenggara negara, peraturan ditentukan, dan disahkan secara bersama-sama, baik wakil rakyat yang notabenenya adalah orang yang paling mengerti aspirasi rakyatnya, serta para penyelenggara negara.

Secara logika saya sebagai orang bodoh saja memilih pemimpin adalah untuk kita menjadi lebih baik. Bukan untuk ajang adu kekuasaan ataupun mobilisasi massa yang akhirnya memancing keributan. Para kandidat pemimpin harusnya sadar bahwa kita diajukan sebagai pemimpin karena kita dianggap lebih dimajukan satu langkah dari masyarakat umumnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apakah ini hanya sebuah parodi kehidupan saya sendiri juga tidak tahu. Sudah banyak yang menjadi korban untuk hal-hal yang seharusnya tidak perlu terjadi kalau memang kita benar-benar sadar dan benar-benar ingin menjadi lebih baik.

Benar-benar terasa sangat mahal kejujuran dan hati nurani di negeri ini, yang sejarah sebelumnya mencatat bangsa kita adalah bangsa yang bersatu, yang menjunjung tinggi rasa persaudaraan dan bla ... bla  ... yang lain yang bisa dijual namun dalam kenyataan tetap RUSUH.

Saya rasa solusi untuk mencari pemimpin bukan dilihat dari banyaknya duit yang ada dari para calon kandidat. Jangan dikatakan tidak karena sudah menjadi rahasia umum di negeri ini dengan duit yang banyak siapa pun bisa menjadi pemimpin.

Ada solusi yang bagus kalau kita bisa belajar dari seorang imam dalam sholat, kenapa ini alasannya. Kita menunjuk satu imam dalam sholat apakah ada kepentingan di sana selain untuk lebih baik di mata sang khalik "TIDAK" dan apakah makmum ada yang berjejal antri untuk menjadi imam "TIDAK" kenapa?

Karena makmum merasa ada yang lebih dari dirinya dan patut untuk menjadi imam (pemimpin) dalam sholat. Tidak ada imam yang memprovokasi makmum untuk membuat rusuh dalam sholat ketika besoknya tidak lagi menjadi imam. Dan kalau sang imam batal dalam persyaratan sebagai imam dia akan mundur sendiri tanpa disuruh.

Ambil contoh sang imam "KENTUT" apakah dia sah jadi imam tidak, dan dia mundur dan digantikan oleh yang di belakangnya yang merasa memenuhi syarat (ini hanya salah satu jawaban yang bisa kita aplikasikan bersama KALAU MAU).

Bisa saja berkomentar ini bukan sholat tapi politik. Jawabannya sama. Seharusnya politik bisa mengikuti sesuatu yang dilakukan secara bersih, ikhlas, dan tanpa prasangka. Apakah politik harus selalu menjatuhkan lawan. Silahkan tanya ke ahli politik (saya yakin jawabannya ndak ada itu).

Namun, yang membuat saya bingung kenapa selalu terjadi keributan setiap ada permasalahan yang menyangkut ranah politik ini. Atau mungkin ada syetan-syetan tertentu yang berkedok politikus yang sengaja menghancurkan image politik itu sendiri sebagai salah satu indikator. Atau mungkin persyaratan penyelenggaraan satu negara.

Atau ada Virus Hypocrites yang merajalela di negeri ini. Yang tahu hanya kita sendiri. Cobalah untuk sadar kita tidak selamanya hidup di dunia ini.

Novri Yurisman
Setia Budi Jakarta
nofree_spyco@yahoo.com
081386264381

(msh/msh)


Berita Terkait