Ustadz Paijo lantas menjenguk Ustadzah Salma --bukan nama sebenarnya-- yang tak hadir itu seusai ngaji. Sesampainya di rumah Bu Salma, wanita usia tiga puluhan itu terlihat terbatuk-batuk. Setelah Ustadz Paijo mengucapkan salam dan masuk di kamar Bu Salma, ia terperanjat. Ia melihat bercak-bercak darah di lantai tanah yang tak terbalut ubin sama sekali.
"Sudah ke dokter, Bu," tanya Ustadz Paijo. "Belum, Dik Paijo. Uang dari mana? Amplopan kemarin saja sudah habis untuk beli beras?" jawab Bu Salma. Bu Salma bercerita kalau insentif sebesar dua puluh lima ribu itu tak cukup untuk membeli beras seberat lima kilo.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tentu hal ini sangat terasa jika kita melihat sebelas pemain Persik Kediri berlaga di Brawijaya. Kenapa begitu? Demi menjaga konsistensi permainan mereka sekaligus memertahankan trofi presiden, dua puluh dua miliar pun mengalir begitu saja.
Demi gengsi, uang sebesar itu tak ada harganya. Maklum, popularitas Persik Kediri dinilai lebih bergengsi dan bergaya bila dibandingkan guru-guru ngaji itu.
Dua puluh dua miliar lebih hanya untuk prestasi semusim saja, sedangkan insentif untuk guru ngaji adalah innvestasi jangka panjang, masa depan. Mana yang lebih penting untuk diperhatikan?
Kita tahu, di Persik Kediri ada Gonzales, Fagundez, dan sederet pemain asing lainnya yang bergaji tinggi. Kesimpulannya, itu hanya memperkaya mereka yang notabene bukan orang kita, bukan orang Indonesia. Sementara guru-guru ngaji tetap sengsara --kalau tidak mau dibilang mengenaskan. Mungkin salah guru ngaji itu juga. Jika saja mereka bisa bermain bola, mungkin mereka akan kaya juga. Keahlian mengocek bola lebih berharga daripada mengajar alif-ba-ta.
Stop! Kita tidak sedang bicara masalah kaya-miskin, pandai-bodoh. Kita sedang bicara akan pentingnya investasi semusim yang berbuah gengsi dengan investasi jangka panjang yang berbuah masa depan yang apik. Intinya, yang perlu kita pikirkan adalah dua hal itu.
Jika Anda merasa bahwa Persik Kediri lebih penting, biarkan saja kondisi seperti ini. Jika Anda merasa bahwa masalah guru ngaji lebih penting, sampaikan kepada Walikota. Saya yakin Walikota yang mendapat amanat rakyat pasti akan mendengarkan keluh kesah rakyatnya.
Tak usah lewat asisten, karena kadang mereka tidak menyampaikan suara rakyat untuk Walikota. Jadi langsung saja kepada Pak Wali. Toh, Pak Wali katanya sering cangkruk di warung kopi, ngobrol dengan tukang becak, dll.. Jadi, ketika kita punya banyak kesempatan bertemu Pak Wali, dan jangan lupa sampaikan uneg-uneg kita itu.
Akhirnya, setelah Pak Wali mendengar itu semua, kita harus berdoa. Berdoa supaya keluh-kesah kita tak hanya didengar saja tapi bisa terlaksana. Kita harus benar-benar khusyuk berdoa. Jangan hanya amin-amin saja. Ingat, Tuhan tidak akan mengabulkan permintaan hamba yang hatinya tidak menghadap pada-Nya. Wallahualam.
Emha Nabil Haroen
Jl KH Abdul Karim Kediri
nabilharoen@yahoo.com
081656613
(msh/msh)











































