DBD

DBD

- detikNews
Jumat, 09 Nov 2007 09:24 WIB
DBD
Jakarta - Selain HIV/AIDS dan flu burung, penyakit yang terus menjadi hantu menakutkan bagi masyarakat Indonesia adalah penyakit demam berdarah dengue (DBD). Seiring musim hujan yang terus berlangsung kita harus lebih waspada bahaya mewabahnya kasus hasil sengatan nyamuk aedes aegypty itu. Di musim hujan seperti saat ini, nyamuk aedes aegypty akan cepat berkembang biak dan semakin mengganas membunuh manusia. DBD umumnya menyerang warga kota yang pemukimannya kumuh padat penduduk. Sebab, di area perkotaan banyak cileuncang akibat genangan air hujan. Ironisnya, walaupun korban terus berjatuhan kepedulian kita akan wabah DBD kerap terabaikan. Aneka himbauan yang didengungkan pemerintah tidak dihiraukan. Anjuran untuk hidup sehat dengan menjaga kebersihan lingkungan tidak diindahkan. Padahal, sumber utama segala penyakit adalah lingkungan yang kotor. Penyakit yang sudah dikenal sejak abad XVIII terutama di daerah tropis dan subtropis ini, pertama kali ditemukan di Indonesia tahun 1968, yaitu di Surabaya. Harita, terdapat 58 kasus dan meninggal dunia 24 jiwa. Puncaknya pada tahun 1994 DBD semakin mengganas karena menyebar ke seluruh provinsi di Indonesia.Tempat tinggal yang disenangi aedes aegypty jantan dan betina biasanya genangan air yang bersih, bak mandi, air tempayan, pot bunga yang diisi air bersih, kaleng bekas, galon, penampung air, serta tempat bersih lainnya. Jika malam hari nyamuk betina biasanya bersembunyi di antara sela-sela pakaian yang tergantung di gorden atau di kelambu.Walaupun gejala DBD sekarang ini terbilang sulit ditelisik dan dilacak. Malah tanda-tandanya rancu dengan campak, demam flu, atau tifus. Terkadang bercak-bercak merah jejak gigitan nyamuk tidak tampak terlihat. Namun, gejalanya sudah ada patokan resmi yaitu: Pertama, panas mendadak tinggi berlangsung 2-7 hari dan tanda penyebabnya yang lain tidak ada tanda. Kedua, adanya gejala pendarahan baik spontan atau tidak, perdarahan spontan: perdarahan kulit, hidung, gusi, muntah darah, kencing darah dll., yang tidak spontan diketahui bila kita melakukan test Rumle teede yaitu dengan cara seperti mengukur tekanan darah. Bila timbul bercak merah lebih dari 20 per 2,8 cm persegi maka dianggap positif. Ketiga, pembengkakan liver (hati) diketahui dengan meraba perut bagian kanan atas.Keempat, gangguan sirkulasi yaitu penderita gelisah, berkeringat dingin, kaki dan tangan dingin, denyut nadi menjadi cepat kecil dan lemah, tekanan darah menurun sampai tak terukur. Bila ada dua atau lebih gejala di atas, ditambah adanya darah yang mengental (hasil hermatokrit meningkat) ditambah ada atau tidak adanya penurunan trombosit, maka secara klinik kita bisa menyebut penderita kena demam berdarah dengue.Penyakit DBD tidak hanya menyerang anak-anak--yang memang kekebalan tubuhnya masih labil, namun orang dewasa pun tak luput dari sengatan nyamuk yang umumnya berjenis betina. Nyamuk betina yang antijorok ini biasanya mengggit manusia pada siang hari, terutama di tempat yang agak gelap dan lembab. Dan gigitannya itu bisa dilakukan berulang-ulang. Nyamuk betina ini biasa bertelur dan berkembangbiak di permukaan air yang bersih serta tidak terkena sinar matahari secara langsung. Telur yang dihasilkan nyamuk betina ini bisa mencapai ratusan atau ribuan. Pertolongan pertama pada penderita DBD selain dengan memberikan infus berupa larutan berisi elektrolit dan atau plasma ekspander. Cara tradisional lainnya adalah si pasien diberikan banyak minum, berupa air putih, sirup, atau teh agar tubuhnya tidak kekurangan cairan. Pengompresan pun dapat membantu daya tahan tubuh pasien. Salah satu cara tradisional yang bisa mengurangi beban penderita DBD adalah memakan jambu kulutuk atau batu yang dagingnya berwarna merah. Sebab, jambu batu berwarna merah ini bisa menghasilkan jumlah trombosit pasien DBD.Namun para dokter tak bosan berpesan, mencegah lebih baik ketimbang mengobati. Pencegahan demam berdarah yang kerap kita gunakan adalah pengasapan atau fogging di tempat-tempat yang diduga sarang nyamuk. Padahal pengasapan atau penyemprotan dengan insektisida Malathion 4% yang dicampur dengan solar hasilnya dianggap kurang efektif. Sebab, ketika pengasapan nyamuk yang mati hanyalah nyamuk dewasa. Itu pun, pengaruhnya tidak akan lebih dari tiga hari. Pengasapan pun memakan biaya dan tenaga yang tidak sedikit. Lalu, ketika pengasapan dilakukan secara berulang-ulang tentunya akan mengganggu keseimbangan lingkungan. Guna mencegah mewabahnya DBD cara yang paling murah, meriah, dan mudah adalah kembali menggalakan dan melaksanakan penggunaan abate dan 3M. Adapun prak-prakan 3M yaitu menguras bak mandi, bak wc atau bak penampungan lain dikuras setidaknya seminggu sekali. Sedangkan air dalam wadah minuman burung, vas bunga diganti setiap hari, menutup tempat-tempat penyimpananair (tempayan, gentong dll.) setiap kali habis menggunakannya, dan mengubur kaleng bekas, plastik, botol bekas, ban bekas dan wadah bekas lain yang bisa menampung air agar tidak dijadikan tempat bertelur nyamuk Aedes aegypti. Menimbun sampah yang berserakan di dalam dan di sekitar rumah, menguras tempat air secara rutin, serta menutup dengan rapat tempat-tempat yang diduga bisa didiami nyamuk.Adapun abatisasi adalah menaburkan bubuk abate di bak pemanpungan air atau drum. Konon, bubuk abate bisa didapatkan secara gratis di Puskesmas. Karena DBD kerap menyerang masyarakat Indonesia, khususnya warga Jawa Barat, sudah salayaknya dibuat payung hukum dalam bentuk perda yang mengatur hak dan kewajiban pemerintah dan masyarakat.Namun, setelah menjadi aturan baku, kita harus punya itikad kuat guna menegakkan aturan hukum yang tegas dan adil. Jangan seperti perda-perda lainnya, yang setelah diterbitkan bak maung ompong. Hasil yang dirasakan masyarakat hanya sebatas pembuangan anggaran yang tak karuan.DjasepudinJl Sumatra 19 Bandungmanggabaca@yahoo.co.id081320237935Alumnus Jurusan Sastra Sunda Unpad, tinggal di Bogor dan Bandung (msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads