Disiplin

Disiplin

- detikNews
Rabu, 07 Nov 2007 08:59 WIB
Jakarta - Minggu lalu saya mengunjungi Kuala Lumpur. Saya sempat ragu apakah akan berangkat atau tidak karena memanasnya hubungan Indonesia dan Malaysia belakangan ini. Beberapa tokoh nasional juga menyuarakan pemerintah untuk mengeluarkan travel warning. Tapi saya tidak punya pilihan karena harus menghadiri meeting perusahaan.Saya melihat Malaysia dan Kuala Lumpur sudah berubah dan maju. Dari sisi transportasi, kita dapat melihat mobil nasional Proton yang sudah memproduksi generasi terbaru, jalan tol yang bagus dan bebas macet, dan subway dan monorail yang terintegrasi.Saya teringat kembali ketika Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi Asia Afrika di tahun 1955, Malaysia masih merupakan daerah jajahan Inggris. Mengapa sekarang Malaysia bisa lebih maju daripada Indonesia?Dari pendapatan per-kapita, Indonesia hanya dapat bersaing dengan Filipina dan Vietnam di Asia Tenggara. Padahal di tahun 1970, Malaysia banyak mengimpor tenaga ahli (professor, doktor) dari Indonesia.Dari pengamatan kami, sebenarnya kita harus mengakui bahwa Indonesia kurang "Displin Diri" dalam Membangun Bangsa. Seringkali kita menginginkan pengertian dari orang lain, meminta orang lain mengasihani kita, memilih jalan pintas yang mudah. Mungkin kita lupa, bahwa setiap prestasi bukanlah didapat dari faktor keberuntungan semata tetapi diraih oleh jerih payah dan pengorbanan besar yang sepadan.Ambilah contoh, dalam kasus TKI media selalu memberitakan "kezaliman" majikan sehingga TKW kita teraniaya dan pulang tanpa hasil. Padahal ada juga TKW yang menganiaya anak majikan. Di koran New Strait Times tanggal 2 November 2007, diberitakan seorang anak 3 tahun dipukul dan ditonjok oleh seorang pembantu asal Indonesia pada waktu kedua orangtua sang anak bekerja di kantor.Ini berawal dari kecurigaan orang tua karena anaknya sering mengatakan perutnya sakit sewaktu mereka pulang kerja. Pembantu ini tak mengakui perbuatannya dan berdalih bahwa anak majikannya terlalu banyak makan yoghurt. Tindakan kriminal ini baru diketahui setelah orang tua sang anak memasang kamera CCTV secara diam-diam dan akhirnya pengadilan mevonis TKW asal Indonesia 2 tahun penjara.Ironisnya tidak ada media tanah air yang memberitakan kasus seperti ini. Padahal sewaktu kasus "Ceriyati" hampir semua media di Malaysia memberitakannya. Mereka tidak malu ketika warganya bertindak salah. Ini merupakan bagian dari disiplin diri.Ketika Malaysia meluncurkan "Mobil Nasional", mereka merencanakannya dengan baik secara bertahap sampai akhirnya insinyur-insinyur Malaysia dapat mewujudkannya. Kita bisa melihat mobil nasional Proton/Perdana saat ini mempunyai design yang tidak kalah dengan Honda City buatan Jepang.Lain ceritanya dengan Indonesia ketika membuat pesawat terbang mulai CN-235 lalu N-250, kita terlalu banyak menipu diri. Pada hari peluncuran N-250, semua tenaga kerja asing tidak boleh masuk kantor sehingga yang disorot kamera adalah "Putra-Putri Indonesia". Kita bisa lihat sekarang proyek ini terbengkalai karena kita tidak mempunyai "disiplin diri" yang baik.Ambil contoh lain mengenai Batik. Bulan lalu pejabat kita ribut soal pembajakan "hak cipta" batik menjadi milik Malaysia. Apakah kita hanya sebatas ribut atau NATO (No Action Talk Only)?Malaysia mempunyai disiplin soal Batik, begitu ada komplain dari Indonesia sekarang mereka mewajibkan pegawai negeri sipil untuk mengenakan batik pada hari tertentu. Jika orang Eropa menilai nantinya bisa saja mereka berpendapat bahwa batik itu milik Malaysia. Kita tanya sekarang, apa yang sudah dilakukan untuk mendukung klaim kita?Di generasi sebelumnya, Malaysia dapat menerima hubungan "abang-adik" seperti yang diharapkan masyarakat Indonesia. Namun ketika sang adik sudah tumbuh besar dan malampaui abangnya yang kurang disiplin, sudah saatnya kita membuka mata untuk "belajar" dari sang adik.Janganlah kita lupa, bahwa kita dapat belajar dari siapa saja. Termasuk dari bayi sekali pun. Kita tahu bermacam-macam tangisan bayi (minta minum susu, ganti popok, marah, dsb.). Jika kita mempunyai disiplin diri yang baik, Indonesia tidak akan tertinggal dari Malaysia!Didi WHJl Pekapuran No 28 Jakarta 11210dwhuang88@yahoo.com.sg081310200068 (msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads